Di dalam hidup khususnya di dunia kerja, kita akan menemukan begitu banyak hirarki. Biasanya, hal ini terjadi di dunia kerja konvensional khususnya di negara-negara Asia. Hirarki atau organisasi di dalam perusahaan terkadang berdampak positif maupun negatif. Tentu, dampak positifnya adalah tidak semua orang memegang kendali, adanya penghormatan, dan lain sebagainya. Dampak negatif akan saya jelaskan lebih detail di artikel ini.
Saya pernah bekerja di Jerman dan tentu beberapa perusahaan Asia, tentu saya menemukan perbedaan yang sangat mencolok tentang hirarki. Di negara-negara Eropa, hirarki tetap ada namun jarak antara atasan dengan bawahan tidak terlalu mencolok layaknya di Asia. Mereka beralasan ingin mengurangi birokrasi dan komunikasi yang bertele-tele, dan itu benar. Saya bisa dengan mudah menghubungi eksekutif, nongkrong bareng dengan C level tanpa harus izin ke si anu, ke si anu, dan seterusnya.
Komunikasi yang bertele-tele
Ketika bekerja di perusahaan Asia, komunikasi cenderung sulit dan bertele-tele. Misal, si A ingin menyampaikan sesuatu, harus konfirmasi dulu ke si B, kemudian si B ke si C, lalu si C ke si D, dan seterusnya sampai ke atas. Terkadang, karena ada gesekan emosi dan lain sebagainya, komunikasi tidak tersampaikan dengan baik dan menimbulkan kesalahpahaman serta prasangka buruk. Tiba-tiba si A dihubungi si D bahwa si A begini dan begitu, padahal tidak bermaksud demikian. Seandainya si A memiliki kedekatan emosional dengan si D, maka akan menimbulkan kecemburuan bagi si B dan si C. Jadi wajar, di model perusahaan seperti ini, sangat rawan terjadi penindasan karena ketidak-sukaan, korupsi, dan lain sebagainya.
Ego sektoral
Ketika si A ternyata memiliki ide yang brilian yang menyaingi senior atau atasannya, lalu mendapatkan perhatian dari si D, maka secara otomatis si B dan si C merasa tidak dihargai dan harga dirinya merasa runtuh. Di organisasi seperti ini, terkadang jabatan lebih penting daripada isi kepala. Akhirnya, timbul lagi gesekan yang tidak perlu dan menghambat kemajuan perusahaan. Mungkin hal ini dianggap sepele, namun banyak perusahaan yang terdampak secara serius gara-gara model organisasi seperti ini, dimana orang-orang yang tidak kompeten justru memiliki posisi pengambil keputusan.
Contoh saya mendengar cerita, ketika suatu startup menerima dana, maka para petinggi tergesa-gesa mengambil keputusan untuk merekrut orang sebanyak-banyaknya. Orang yang di bawah merasa heran, mereka menganggap tidak perlu merekrut orang baru yang nantinya akan membebani perusahaan dan tidak meningkatkan performa. Namun, karena mereka atasan, kadang mereka tidak peduli suara-suara di bawah dan mereka merasa berhak mengatur visi perusahaan sesuai isi kepala mereka.
Bagaimana menyikapi ego sektoral seperti ini?
Untuk menyikapi ego sektoral, solusinya adalah bersikap terbuka dan demokratis, siapa saja boleh mengemukakan pendapat dan semua orang harus dekat dengan atasan. Ketika membahas suatu masalah, maka semua orang dimintai pendapat dan semuanya menimbang mana yang lebih baik. Atasan tetaplah atasan, dan dia berhak memutuskan sesuatu berdasarkan pendapat terbaik yang disepakati, bukan pendapat pribadi yang rawan dipengaruhi emosi dan ego. Dekatnya semua orang di dalam satu tim akan melahirkan kemistri dan ikatan emosional serta solidaritas. Jika pendapat semua orang dihargai, maka orang tersebut akan merasa lebih semangat.
Demokrasi sangat bagus jika isinya adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya, dan tentu pertimbangan orang-orang yang kompeten akan melahirkan kesimpulan yang lebih akurat. Demokrasi memang tidak bagus jika semua orang dilibatkan sembarangan seperti demokrasi yang terjadi di suatu negara. Artinya, di dalam demokrasi yang sehat, yang dilibatkan adalah orang-orang yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dan memiliki kompeten. Banyak perusahaan gulung tikar karena menerapkan demokrasi tidak sehat. Anggap saja perusahaan teknologi, tapi pemilik jabatan strategis adalah lulusan MBA. Terkadang, orang-orang MBA jarang melibatkan orang teknologi dalam mengambil keputusan, akhirnya yang mereka pikirkan adalah profit dan profit tanpa mempertimbangkan faktor lainnya.
Lahirnya kerendahan hati
Atasan yang mudah berbaur dengan bawahan akan melahirkan kerendahan hati, dan sikap peduli yang lebih dalam. Mereka akan lebih menghargai usaha seseorang, keadaannya, dan tentu membuat bawahan merasa diperhatikan dan dilindungi. Janganlah jadi atasan hanya dekat ketika outing setahun sekali, atau ketika ada acara ketika karyawan resign. Bila perlu, atasan benar-benar ada di samping bawahan untuk mendengarkan mereka lebih dekat dan tidak merasa eksklusif di ruang yang lebih mewah.
Leave a Reply