Kondisi anak muda zaman now memang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Anggap saja kita bahas soal Gen-Z, dimana problematika anak muda sering diup oleh generasi ini sehingga menjadi pola pikir Gen-Z lainnya. Di antara problem yang sering dibahas adalah “orang tua yang menuntut.”
Mungkin banyak orang tua yang mengidam-idamkan anaknya memiliki pekerjaan yang tetap dan pasti. Contohnya jadi PNS, tentara, polisi, dan yang sejenisnya. Atau paling minimal adalah orang tua ingin anaknya memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan, di bayangkan Gen-Z tidaklah demikian. Karena saking banyaknya informasi yang mereka konsumsi, pola pikir mulai bergeser. Rata-rata Gen-Z akan merasa keren jika bekerja di startup dengan gaji 2 digit, nongkrong di kafe aestetik dengan lanyard dan fashion kekinian (skena), dan kalau bisa tiap bulan bisa healing ke pantai atau ke gunung.
Orang tua berpikir jauh lebih panjang, karena mereka sudah merasakan pahit manisnya hidup. Di zaman mereka, memang sosmed tidak semasif sekarang dimana mereka lebih mementingkan hidup sendiri dan terkadang tidak terpengaruh oleh pandangan orang lain. Bagi Gen-Z, Instagram adalah segalanya. Menurut mereka, hidup itu butuh pembuktian di sosial media dimana mereka bisa nongkrong di kafe aestetik, healing, dan kalau bisa kerja di kantor yang aestetik juga. Jadi wajar, hidup seorang Gen-Z sering terpengaruh oleh pandangan orang lain dan cenderung lebih rapuh. Pertanyaan kapan nikah, kapan punya rumah, kapan punya mobil bisa menghancurkan harga diri seorang Gen-Z.
Jadi wajar, jika ada sesuatu di luar ekspetasi Gen-Z dan bisa menyerang harga dirinya, mereka tidak segan-segan minta resign, memviralkan, dan langsung curhat di sosial media. Karena atensi publik sangat berpengaruh dalam kehidupan seorang Gen-Z. Mereka kadang tidak pikir panjang jika keputusannya akan merugikannya dan menyusahkannya di kemudian hari. Misal, seorang Gen-Z yang baru saja resign karena merasa kantor “toxic”, akan merasa dirinya keren karena berhasil menjaga harga diri. Berbeda dengan Gen-Milennial mereka masih berpikir bagaimana hidup ke depannya seandainya tidak ada pekerjaan. Apakah kebutuhan mereka dan keluarganya tercukupi? Terkadang Gen-Milennial akan tetap patuh kepada atasan meskipun sudah dimarahi habis-habisan, karena menurut mereka keberlangsungan hidup lebih baik daripada mempertahankan ego yang hanya sesaat.
Orang Tua Yang Menuntut
Sering saya temukan Gen-Z cekcok dengan orang tuanya gara-gara tuntutan, beda pandangan, dan lain sebagainya. Ketika orang tua sudah membicarakan kehidupan yang ideal, banyak Gen-Z yang sudah mulai meninggi ketika berbicara dan meng-counter argumen orang tua. Terkadang, ada Gen-Z yang berusaha menghindari pembicaraan tersebut. Bagi mereka, menanggapi tuntutan orang tua terkadang hanya membuat emosi dan tentu menimbulkan perdebatan. Contoh orang tua yang ingin anaknya jadi PNS, sedangkan si Gen-Z ingin jadi pegawai startup di kawasan elit.
Padahal, menurut saya, semua tuntutan orang tua tidak sepenuhnya harus dibalas dengan:
- Argumen.
- Nada tinggi.
- Perdebatan tiada henti untuk memahamkan.
Terkadang, mau seberapa banyak ngoceh-pun mereka tidak akan paham. Saya memiliki cara unik untuk menyikapi tuntutan orang tua. Jika saya merasa tidak setuju dengan tuntutannya, saya tidak mau adu argumen dan juga saya tidak mau langsung menurutinya. Ada jutaan kalimat diplomatis yang bisa menghentikan mereka untuk membicarakannya, atau terkadang mereka memahami keinginan kita. Contoh ketika orang tua ingin kita menjadi tentara, saya awalnya menunjukkan ketertarikan agar mereka merasa di respon. Kemudian saya beralasan, “coba saya cari tahu dulu deh baca-baca atau nanya temen, gimana jadi tentara itu.” Kalimat itu sederhana, namun sangat ampuh menghentikan pembicaraan mereka dan juga membuat saya tidak merasa dituntut, meskipun ujung-ujungnya saya tidak mau jadi tentara.
Itu mungkin masih sederhana, banyak sekali anak yang menganggur kemudian orang tua terus-terusan menuntutnya. Terkadang, hal tersebut membuat sang anak kesal dan tidak jarang mengangkat suaranya. Untuk situasi seperti itu, ada masalah besar dari sang anak, dimana mereka memiliki komunikasi yang sangat buruk dengan orang tuanya. Wajar saja orang tua menuntut, jika melihat anaknya tiap hari main game, kemudian keluar nongkrong, pulang malam, tidur, bangun siang, dan begitu-begitu saja setiap hari. Orang tua tentu tidak memahami bagaimana kondisi si anak mengapa tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Seharusnya, si anak membuka komunikasi dengan orang tua. Coba katakan sejujurnya, misal “mah, sudah lamar kerjaan kemana-mana tapi gak ada yang manggil. Coba kalau mamah punya teman mungkin bisa ngajak kerja atau usaha.” Orang tua pasti merasa dihargai jika diajak komunikasi, dan tentu akan menghilangkan segala bentuk perdebatan.
Kecerdasan emosional memang tidak lahir dengan sendirinya dan terkadang perlu dipelajari, latihan, dan dibiasakan. Sering saya temukan kasus anak tidak akur dengan orang tuanya dan sering berdebat karena mereka tidak memiliki kecerdasan emosional dan tidak mau memahami keinginan masing-masing. Mereka tidak mampu berkompromi dengan baik dengan orang tua ketika memiliki pandangan yang berbeda. Jika orang tua ingin A dan si anak ingin B, maka yang perlu dilakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dan dikomunikasikan. Jika A ternyata lebih baik dan lebih realistis, sang anak seharusnya mengikuti perintah orang tua. Jika B ternyata lebih baik dan realistis, si anak harus berkomunikasi dengan orang tua dengan kedekatan emosional, agar orang tua lebih memahaminya.
Leave a Reply