Selama ini, saya baru menyadari, bahwa ada dua kata yang mirip namun memiliki makna yang jauh berbeda. Dua kata itu adalah amoral dan imoral, lalu apa bedanya?
Apa Itu Amoral?
Amoral adalah mencari keuntungan untuk sendiri tanpa ada niat jahat, namun berdampak buruk bagi orang lain. Meskipun berdampak buruk, sama sekali tidak ada hukum yang dilanggar dan menimbulkan pidana. Jika disebut melanggar etika, mungkin iya. Contohnya, suatu perusahaan memiliki 100 karyawan buruh. Kemudian, perusahaan merekrut 1 orang konsultan, menawarkan kepada perusahaan solusi efisiensi dengan robot. Si bos menuruti solusi konsultan tersebut, yang akhirnya menyebabkan 90 orang di-PHK. Kadang kita bertanya, dimana hati nurani orang tersebut? Bayangkan 90 orang sangat butuh pekerjaan untuk menafkahi keluarganya, tiba-tiba hilang begitu saja. Well, si konsultan tidak melanggar hukum apapun, perusahaan juga memberi pesangon bagi yang di-PHK. Namun, yang dilakukan perusahaan dan konsultan adalah tindakan amoral.
Apa Itu Imoral?
Berbeda dengan imoral, yaitu merugikan orang lain memang dengan niat atau sengaja. Contohnya sengaja mencelakai orang lain, menjatuhkan kehormatan, mengambil hak, mencuri, korupsi, dan sebagainya. Jelas-jelas ada hukum yang dilanggar dan bisa menimbulkan pidana.
Amoral Di Dunia Investasi
George Soros adalah salah satu investor yang paling kontroversial. Bayangkan, dia menjadikan kekacauan sebuah negara sebagai peluang meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, seperti yang terjadi di Inggris dan tentu di negara kita tercinta, Indonesia. George Soros menyadari, ketika dia mempermainkan investasi forex (mata uang asing), akan ada dampak sosial yang luar biasa. Dia juga menyadari bahwa hal itu adalah tindakan amoral. Ekonomi suatu negara bisa hancur seketika dan terjadi pengangguran dimana-mana. Well, walaupun itu merusak tatanan sosial secara besar-besaran, tidak ada hukum yang dilanggar oleh George Soros. Hukum mana yang melarang orang untuk investasi mata uang asing?
Apakah Kita Harus Menjadi Amoral?
Jawaban saya, ya jadi amoral saja jika itu memang mengancam kehidupan kita. Contohnya saya, jujur saja, menjadi programmer dan engineer AI akan menyebabkan beberapa pekerjaan orang lain hilang. Namun, jika tidak demikian, maka kita akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dan kita tidak memiliki passion di bidang lain.
Namun, kita jangan menjadi amoral dengan karena keserakahan. Jadi amoral karena kebutuhan dengan jadi amoral karena serakah sangat jauh berbeda. Sebagian orang yang hidupnya sudah sangat tercukupi, namun karena sifat serakah, dia merugikan orang banyak.
Amoral Dalam Islam
Uniknya, Islam berada di tengah-tengah. Islam tidak melarang secara mutlak semua bentuk perbuatan amoral, tidak juga membiarkannya menjadi sangat liberal.
Contoh bentuk “rem” Islam dalam perbuatan amoral adalah melarang pedagang yang menjual barang tanpa takaran. Rasulullah ﷺ dan Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu menyadari, jika orang tersebut dibiarkan, maka akan merusak pasar dan ekonomi. Itu adalah tindakan amoral yang dibatasi oleh agama Islam. Contoh lainnya Islam melarang praktek monopoli karena akan menghancurkan tatanan sosial. Bayangkan saja, ada seseorang sengaja menimbun kebutuhan pokok, lalu dijual dengan harga tinggi ketika masyarakat sangat membutuhkannya. Ini adalah praktek amoral dengan keserakahan yang dilarang dalam Islam.
Oleh karena itu, meskipun seseorang menjadi orang kaya, ada mekanisme zakat yang menjadikan kekayaan seseorang mengalir kepada para mustahik. Sehingga harta tidak mengendap di suatu tempat dan ekonomi menjadi seperti air yang terus mengalir.
Adab Yang Baik Dalam Bermuamalah
Contoh adab yang baik dalam muamalah adalah menghargai tetangga kita dalam berdagang. Misal, tetangga sedang berjualan batagor, kemudian ramai. Lantas kita aji mumpung segera mencari cara membuat batagor terenak karena ingin menarik pelanggan tetangga. Hal ini memang sah secara hukum, namun terkadang menimbulkan perselisihan batin antar tetangga. Mengapa harus batagor? Mengapa bukan siomay atau mie ayam? Pasti hati tetangga berkata demikian. Meskipun terkadang banyak ustadz memotivasi dengan mengatakan, “rezeki sudah diatur”, tidak ada salahnya tetap menjaga hubungan baik dengan hal kecil seperti ini.
Atau, kita menjadi engineer, dan kita menyadari hal tersebut akan menciptakan banyaknya pekerjaan yang tergantikan oleh AI. Maka, tidak ada salahnya membuat kursus gratis agar semakin banyak orang-orang bisa memanfaatkan AI.
Leave a Reply