Ini adalah salah satu kisah paling sederhana, tetapi juga paling mengharukan yang pernah saya alami.
Waktu itu, saya sedang menunggu penerbangan menuju Porto dari Schiphol, Amsterdam, di ruang tunggu bandara (lounge). Di samping saya, duduk seorang nenek yang tampak diam saja.
Jujur, saat itu kemampuan speaking bahasa Inggris saya masih pas-pasan. Tapi justru karena itulah, saya melihat situasi seperti ini sebagai kesempatan untuk latihan—sekalian “sok kenal” dengan orang asing.
Dalam hati saya sempat berpikir,
“Aduh, kayaknya gue bakal dicuekin nih kalau mulai ngajak ngobrol.”
Ternyata saya salah besar.
Di luar dugaan, nenek itu justru sangat ramah dan antusias mengobrol dengan saya.
Saya pun memberanikan diri memulai percakapan:
“Hello, how are you? Are you flying to Portugal?”
(Halo, apa kabar? Apakah Anda sedang terbang ke Portugal?)
Nenek itu menjawab sambil tersenyum lebar:
“Hello! I’m good, thank you. Yes, I am. Where are you from?”
(Halo! Saya baik, terima kasih. Iya, benar. Kamu dari mana?)
Saya menjawab singkat:
“I’m from Indonesia.”
(Saya dari Indonesia.)
Begitu mendengar itu, wajahnya langsung berbinar.
“Ah, Indonesia! It’s a beautiful country. I’ve been there before, and I’d love to go again.”
(Ah, Indonesia! Itu negara yang indah. Saya pernah ke sana, dan saya ingin sekali pergi lagi.)
Jujur, saya senang sekali mendengarnya. Mendengar orang asing memuji negeri kita itu rasanya selalu membahagiakan.
Saya pun menjawab:
“Thank you so much! I’m really happy to hear that. So, why are you going to Portugal? Do you live there? And where are you from?”
(Terima kasih banyak! Saya senang sekali mendengarnya. Jadi, kenapa Anda pergi ke Portugal? Apakah Anda tinggal di sana? Dan Anda berasal dari mana?)
Nenek itu menjawab:
“I’m from the United States. We’re going there for a leisure.”
(Saya dari Amerika Serikat. Kami pergi ke sana untuk berlibur.)
Saya agak terkejut. Awalnya saya kira beliau orang Eropa, karena bahasa Inggrisnya sangat jelas dan mudah dipahami. Ternyata beliau orang Amerika.
Saya lanjut bertanya:
“Ah, the United States—one of the countries I really want to visit. Who are you traveling with?”
(Ah, Amerika Serikat—salah satu negara yang sangat ingin saya kunjungi. Anda bepergian dengan siapa?)
Nenek itu menjawab sambil menunjuk ke kejauhan:
“I’m traveling with my husband. That’s him over there.”
(Saya bepergian bersama suami saya. Itu dia di sana.)
Saat itu, suaminya sedang berbicara dengan petugas bandara.
Tak lama kemudian, saya baru sadar bahwa pasangan lansia itu dibantu petugas bandara dengan kursi roda agar bisa masuk pesawat lebih dulu daripada penumpang lain. Sebelum pergi, nenek itu sempat berpamitan dengan hangat dan berkata sampai jumpa.
Saya pikir pertemuan singkat kami selesai sampai di situ.
Tapi ternyata belum.
Yang mengejutkan, saat saya sudah duduk di dalam pesawat, ternyata pasangan itu duduk tepat di belakang saya.
Begitu melihat saya, nenek itu langsung berkata kepada suaminya sambil tertawa kecil:
“Hey, there’s a young man sitting in front of us. He’s from Indonesia, and he’s very kind.”
(Hei, ada anak muda yang duduk di depan kita. Dia dari Indonesia, dan dia sangat baik.)
Saya langsung menoleh, tersenyum, lalu menyapa mereka lagi. Kali ini saya juga mulai mengobrol dengan sang kakek.
Saya bertanya:
“Hello, which state are you from in the U.S.?”
(Halo, Anda berasal dari negara bagian mana di Amerika Serikat?)
Tapi saat itu, karena saya masih gugup, ucapan saya agak belepotan. Mereka tidak langsung paham.
Kakek itu bertanya balik:
“Which what?”
(Yang mana? Maksudmu apa?)
Saya pun buru-buru memperjelas:
“I mean, which state? Like New York or California?”
(Maksud saya, negara bagian yang mana? Seperti New York atau California)
Lalu dia menjawab:
“We’re from Arizona!”
(Kami dari Arizona!)
Saya langsung antusias.
“Wow, Arizona! I’ve seen so many pictures of it. It looks beautiful—rocky mountains, desert landscapes… It must be very hot there, right?”
(Wah, Arizona! Saya sudah melihat banyak foto tentang tempat itu. Kelihatannya indah sekali—pegunungan berbatu, pemandangan gurun… Pasti sangat panas di sana, ya?)
Kakek itu tertawa mendengar saya begitu bersemangat.
“Yes! Hahaha, it’s very hot. You sound like you’ve been there before. I thought you’d already traveled around the world.”
(Iya! Hahaha, sangat panas. Kamu terdengar seperti sudah pernah ke sana. Saya kira kamu sudah keliling dunia.)
Saya pun menjawab sambil tertawa:
“No, not yet. I just really like geography, so I know a little about many places.”
(Belum, belum. Saya hanya sangat suka geografi, jadi saya tahu sedikit tentang banyak tempat.)
Dia tersenyum dan berkata:
“Well, maybe one day you’ll go there.”
(Yah, mungkin suatu hari nanti kamu akan pergi ke sana.)
Saya menjawab dan bermaksud mengakhiri percakapan:
“Hahaha, I hope so. I really want to travel the world someday. Are you traveling just the two of you? Are you going to visit family or children in Portugal? Enjoy your trip!”
(Hahaha, semoga begitu. Saya benar-benar ingin keliling dunia suatu hari nanti. Apakah Anda bepergian hanya berdua? Apakah Anda akan mengunjungi keluarga atau anak-anak di Portugal? Semoga Anda menikmati perjalanan ini!)
Kakek itu menjawab,
“Well, have a good one!”
(Semoga harimu menyenangkan!)
Lalu, dari semua percakapan sederhana itu, tibalah kalimat yang sampai hari ini masih membekas di hati saya.
Setelah percakapan selesai, tiba-tiba si nenek bercerita yang saya sendiri dengar,
“We have children… but they’re all very busy. So now, in our old age, it’s just the two of us. We’ve missed our children for a long time. Our son left us when he was about your age.”
(Kami punya anak-anak… tapi mereka semua sangat sibuk. Jadi sekarang, di masa tua kami, hanya ada kami berdua. Kami sudah lama merindukan anak-anak kami. Anak laki-laki kami pergi meninggalkan kami saat usianya kira-kira sepertimu.)
Kalimat itu benar-benar menampar hati saya.
Di tengah perjalanan yang mungkin menjadi impian banyak orang—keliling Eropa, menikmati masa tua, melihat dunia—ternyata ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh pemandangan indah, tiket pesawat, hotel nyaman, atau destinasi wisata mana pun.
Ruang kosong itu adalah anak-anak mereka.
Saya bahkan sempat merasa, dari cara mereka berbicara satu sama lain, ada semacam harapan yang dipendam: seandainya saja perjalanan itu bisa dinikmati bersama anak-anak mereka. Seolah-olah, di balik semua senyum dan keramahan itu, ada kerinduan yang sangat panjang.
Percakapan kami sebenarnya sangat singkat. Sangat sederhana. Tidak ada hal besar. Tidak ada kejadian dramatis.
Namun entah kenapa, percakapan itu menjadi salah satu pelajaran hidup yang paling saya ingat sampai hari ini.
Saya merasa, itu bukan sekadar obrolan biasa di bandara atau di pesawat. Itu seperti sebuah pengingat dari Allah, bahwa begitulah hati orang tua.
Kadang kita berpikir kebahagiaan itu adalah uang, jalan-jalan, keliling dunia, atau hidup nyaman di masa tua.
Padahal bagi banyak orang tua, kebahagiaan yang paling besar sering kali jauh lebih sederhana dari itu:
bersama anak-anak mereka.
Mereka bisa saja pergi ke negara mana pun.
Mereka bisa saja menikmati pemandangan yang diimpikan banyak orang.
Mereka bisa saja menghabiskan masa tua dengan perjalanan indah.
Tapi tetap saja,
kebahagiaan bersama keluarga jauh lebih besar daripada semua itu.
Dan sejak saat itu, saya selalu ingat:
Kadang, hal yang paling dirindukan orang tua bukanlah hadiah, bukan uang, bukan fasilitas—
melainkan kehadiran anaknya.
Leave a Reply