Hari itu saya sedang libur kerja, kebetulan jatuh di hari Jumat. Seperti biasa, saya pergi ke masjid untuk shalat Jumat.
Di sebelah saya duduk seorang kakek dengan penampilan yang cukup menarik perhatian — pakaiannya lusuh, memakai sarung, tapi hidungnya mancung. Bukan penampilan yang bikin penasaran, melainkan tingkahnya. Dia berdzikir sambil sesekali menunjuk-nunjuk tembok, lalu tiba-tiba sujud, lalu mengangkat tangan, lalu menggelengkan kepala seperti orang yang sedang menangis dan sangat ketakutan.
Saya diam saja. Mungkin lagi khusyuk, pikir saya. Shalat Jumat pun berlangsung dan selesai.
Selesai shalat, saya dzikir sebentar dan bersiap pulang. Tapi melihat kondisi di belakang — penuh sesak jemaah yang belum beranjak — saya memutuskan duduk dulu. Dan di situlah saya kembali memperhatikan si kakek. Masih dengan gerakan yang sama: tangan terangkat ke arah tembok, kepala menggeleng, sesekali sujud, seperti menangis.
Dzikir macam apa ini?
Saya terus memperhatikan sampai akhirnya ada celah untuk menegurnya.
Saya: “Assalaamu’alaikum.” (mengulurkan tangan)
Kakek: “Wa’alaikumussalaam. Siapa namamu?”
Saya: “Agun, Pak.”
Kakek: “Usia berapa? Sudah baca Quran belum?”
Saya: “Dua puluh tahun. Belum Pak.”
Kakek: “Lho, gimana ini? Orang Islam kok nggak baca Quran.”
Saya cuma tertawa kecil.
Kakek: “Usia kamu dua puluh. Apa nama surat ke-20?”
Saya: “Waduh… lupa, Pak.”
Kakek: “Gimana bisa lupa? Lahir tanggal berapa?”
Saya: “Tanggal 31, bulan 3.”
Kakek: “Apa nama surat ke-31, ayat ke-3?”
Saya: “Maaf Pak, saya bukan hafiz Quran.” (nyengir) “Oh iya, Bapak dari mana?”
Kakek: “Dari Mekkah.”
Saya: “Dari Saudi? Harusnya ngomong bahasa Arab dong?”
Kakek: “Nggak usah bahasa Arab, nanti kamu nggak ngerti!”
Saya: “Oh maaf Pak, saya tadinya pengen belajar bahasa Arab soalnya.”
Kakek: “Kamu nggak baca Quran makanya nggak tau. Gimana sih kamu ini!”
Anehnya, meski si kakek bicara dengan nada tegas — tanpa basa-basi, tanpa bulu — saya sama sekali tidak tersinggung. Justru saya merasa malu sendiri karena tidak bisa menjawab satu pun pertanyaannya.
Tiba-tiba si kakek berhenti sejenak, lalu menatap saya sambil memegang kepala saya dengan kedua tangannya.
Kakek: “Saya pernah mimpi naik perahu, terus perahunya tenggelam di Banten. Saya terdampar di pantai, dan ketemu seorang pemuda bertelinga belah.”
Saya: “Oh, Banten itu kampung halaman saya, Pak.”
Si kakek tersenyum lebar, tangannya masih di kepala saya.
Kakek: “Kayaknya kamu itu pemuda yang ada di mimpi saya. Sekarang tinggal di mana?”
Saya: “Di gang belakang masjid ini, Pak. Beberapa meter aja.”
Si kakek mengangguk pelan, lalu menyentuh dada saya dengan telunjuknya sambil berdoa.
Kakek: “Semoga Allah jadikan kamu orang yang dekat dengan Al-Quran. Kamu harus belajar dari ulama, baca Quran setiap hari. Jangan sampai hubungan kamu sama Al-Quran renggang.”
Saya: “Iya Pak, saya baca Quran tapi memang belum rutin.”
Kakek: “Itu yang jadi masalah. Hubungan kamu sama Al-Quran kurang.”
Saya: “Iya, semoga ke depannya lebih rajin.”
Dari situ, pembicaraan melebar. Si kakek mulai bercerita tentang kondisi manusia zaman sekarang — para pejabat, anak-anak muda yang masih shalat tapi juga minum miras, orang-orang yang tak peduli halal haram. Si kakek menceritakan dengan nada yang prihatin campur sedih.
Kakek: “Kamu lihat, orang-orang baru datang ke masjid setelah adzan. Kamu tadi kapan datang?”
Saya: “Alhamdulillah sudah di sini sebelum adzan, Pak.”
Kakek: “Bagus. Kamu tau nggak, setiap kamu datang ke masjid, bayangkan ada malaikat berdiri di depan pintu sambil pegang catatan. Mereka menyambut orang yang datang, tersenyum, lalu mencatat pahalanya.” (si kakek memperagakan menulis) “Tapi kalau orang baru datang setelah adzan sudah selesai — malaikat itu sudah pergi.”
Saya terdiam sejenak. Lalu sebuah pikiran muncul — saya teringat gerakan aneh si kakek tadi saat berdzikir.
Saya: “Pak… tadi waktu Bapak berdzikir, Bapak lagi ngobrol sama malaikat ya?”
Si kakek tertawa kecil.
Kakek: “Nggak. Tapi saya selalu membayangkan mereka ada di depan saya. Itu yang bikin saya khusyuk — karena saya sadar sedang dilihat, sedang dimintai pertanggungjawaban.”
Saya terkejut. Dan saya mulai mengerti — bukan kemampuan luar biasa, tapi keimanan yang sudah sangat dalam yang membuat si kakek terlihat “aneh” di mata saya tadi.
Lanjut si kakek, nadanya lebih serius.
Kakek: “Banyak orang makan uang haram sekarang, nggak peduli. Shalat ditinggal, maksiat dijadikan kebiasaan. Yang munafik makin banyak — dari luar kelihatan baik, pidatonya seperti orang bener, tapi kantongnya penuh fulus haram.” (si kakek memperagakan orang menerima uang dan memasukanya ke kantong)
Saya: “Saya nggak terlalu perhatiin orang lain sih Pak. Bapak tau dari mana?”
Kakek: “Saya bisa bedakan mana orang munafik, mana yang tulus. Hati manusia bersetan itu banyak sekarang — kelihatannya bagus dari luar, tapi dalamnya lain.”
Saya mulai sedikit bertanya-tanya dalam hati. Memang semudah itu menilai orang? Tapi saya memilih diam dan terus mendengarkan.
Pembicaraan semakin hangat. Si kakek berdiri dan mengajak saya melanjutkan obrolan sampai ke luar masjid.
Kakek: “Saya ini sebenarnya sudah lama tinggal di sini dulu, baru balik ke Mekkah. Sekarang ke Indonesia lagi karena ada keluarga yang menikah. Rumah lama saya di Jl. Cemara…”
Sebelum kami benar-benar berpisah, saya memberanikan diri untuk bertanya satu hal yang sudah lama saya pikirkan.
Saya: “Pak, saya pengen meninggal sebagai hafiz Quran, atau jadi mujahid. Menurut Bapak gimana?”
Si kakek berhenti. Menatap saya sebentar, lalu berbicara dengan nada paling tegas yang saya dengar hari itu.
Kakek: “Kamu kalau mau jadi orang, jangan banyak maunya di dunia ini. Minta surga paling tinggi — itu sudah lebih dari cukup. Minta sama Allah biar kamu bisa kembali ke sana. Nggak perlu pengen jadi A, pengen jadi B. Jangan-jangan kamu nyari kedudukan di mata manusia, bukan di mata Allah.”
Saya terdiam.
Kakek: “Kamu mau jadi hafiz, atau kamu pengen dibilang hafiz? Kamu mau berjuang di jalan Allah, atau kamu pengen disebut mujahid? Bisa jadi permintaan kamu bukan karena Allah — tapi karena kamu pengen dipandang sama manusia. Orang sholeh tidak meminta seperti itu.”
(sejenak)
Kakek: “Sudah. Minta saja: Ya Allah, tempatkan saya di surga paling tinggi. Perhatikan shalat, perhatikan Quran. Setiap usiamu bertambah, baca surat di angka usia itu — biar kamu nggak pernah kosong dari Al-Quran. Biar Allah yang tentukan jalanmu.”
Si kakek lalu memeluk saya, menempelkan kepalanya ke kepala saya — khas orang Arab — sambil tertawa hangat.
Kakek: “Saya tau kamu banyak tersinggung sama saya tadi. Maafkan saya ya. Kamu sudah mau ke masjid, itu sudah bagus. Perhatikan waktunya, perhatikan yang lain-lainnya.”
Dia mengulang-ngulang itu sambil berjalan, mungkin tiga sampai lima kali saya lupa. Dia meminta maaf agar saya tidak tersinggung dengan omongannya.
Dia berdoa lagi untuk saya. Saya mengaminkan doa tersebut dan saya merasa terharu.
Lalu kami berpamitan. Si kakek pergi — entah dijemput keluarganya, atau memang begitu caranya pergi: tiba-tiba, tanpa jejak.
Jumat berikutnya saya datang lebih awal, berharap bertemu lagi. Tapi dia tidak ada. Jumat berikutnya lagi — juga tidak ada. Hingga hari ini, saya tidak pernah bertemu lagi dengan kakek itu.
Yang tersisa hanya nasihatnya. Tentang bagaimana memandang dunia. Tentang bagaimana melatih keikhlasan. Dan tentang satu pertanyaan yang sampai sekarang masih sering saya renungkan sendiri:
Kamu mau jadi hafiz, atau kamu pengen dibilang hafiz?
Ini bukan soal hafiz, tapi di semua jenis ibadah. Ketika kita bercita-cita menjadi orang yang mulia, maksudnya mulia di mata siapa? Mata manusia atau Mata Allah? Jangan-jangan memang kita bercita-cita ingin punya kedudukan di mata manusia.
Kesimpulan
Meskipun saya kagum dengan keimanan kakek tersebut, namun, tetap tidak boleh menjadikannya sebagai contoh secara penuh, karena ada beberapa catatan:
- Cara berzikir yang aneh, mungkin berasal dari keimanan namun cara berzikir harus tetap sesuai tuntunan.
- Tergesa-gesa dalam menilai orang lain.
Kendati demikian, nasihatnya tentang memperhatikan waktu shalat, Al-Qur’an, dan melatih hati agar tidak mencari kedudukan di hadapan manusia adalah benar. Apalagi saat itu saya memang sangat awam terhadap agama, dan setelah bertahun-tahun saya mendapatkan nasihat yang sama dari para ustadz.
Leave a Reply