Ini adalah salah satu pengalaman paling konyol sekaligus paling menjijikkan yang pernah saya alami.
Saat berada di Portugal, lokasi masjid berjarak sekitar 25 menit dari kantor. Sayangnya, pergi ke masjid di sana tidak semudah dan senyaman di negara Muslim seperti Indonesia. Sering kali saya datang ke masjid, tetapi gerbangnya sudah ditutup, karena masjid hanya buka tepat waktu shalat. Yang lebih menyebalkan, imam masjidnya—seorang pria asal Bangladesh—sangat tidak peduli dengan keresahan jamaah. Masjid berada di dalam gang yang lumayan sepi, dan minim penerangan.
Saya pernah datang telat beberapa menit untuk shalat Maghrib. Baru saja sampai di depan masjid, tiba-tiba imam itu keluar sambil mengunci gerbang, tanpa melihat saya sama sekali, boro-boro nanya, lalu langsung pergi begitu saja.
Beberapa menit kemudian, ada seorang teman saya orang Aljazair datang dan ikut kesal karena masjid ditutup. Dia ngomel dalam bahasa Arab,
“Wallahi, dia adalah imam paling brengsek yang pernah saya temui. Lihat bagaimana kaum muslimin jadi sulit begini buat shalat!”
Maksudnya, imam itu memang benar-benar tidak peduli terhadap jamaah dan bertindak seenaknya. Saya pun bertanya,
“Itu imam kapan balik lagi?”
Dia menjawab,
“Saya tidak tahu, saya mau samperin dia.”
Akhirnya, teman Aljazair saya itu pergi mencari imam karena waktu terus berjalan mendekati Isya. Hati saya juga mulai gelisah. Saya pun tidak mungkin shalat di pinggir jalan karena di sekitar sana banyak sekali polisi.
Tiba-tiba, datang seorang kakek tua menghampiri saya sambil berbicara dalam bahasa Portugis. Saya bilang,
“Não falo português.”
(Saya tidak bisa bahasa Portugis.)
Lalu kakek itu menjawab,
“No problem, so I speak English.”
(Tidak apa-apa, kalau begitu saya bicara bahasa Inggris.)
Saya pun langsung menjelaskan,
“Okay, so what do you wanna do here? It’s a mosque, a prayer place.”
(Baik, jadi Anda mau apa di sini? Ini masjid, tempat ibadah.)
Dia bertanya,
“This is not a hostel?”
(Ini bukan penginapan?)
Saya jawab,
“No, it’s a prayer place for us as muslims.”
(Bukan, ini tempat ibadah untuk kami sebagai Muslim.)
Lalu dia bertanya lagi,
“You sleep here?”
(Kamu tidur di sini?)
Saya jawab,
“No, I wanna pray and now I’m waiting the leader to open the gate. So you need a hostel?”
(Tidak, saya ingin shalat dan sekarang saya sedang menunggu imam membuka gerbang. Jadi, apakah Anda sedang mencari penginapan?)
Dia menjawab,
“No, I live here. If you sleep here so I will accompany you and hug you.”
(Tidak, saya tinggal di sini. Kalau kamu tidur di sini, saya akan menemanimu dan memelukmu.)
(Sambil tersenyum-senyum.)
Saya benar-benar kaget mendengarnya. Awalnya saya kira dia memang sedang mencari penginapan. Dengan panik saya langsung berkata,
“Sorry, please look for another place, not here. Unless you pray like us!”
(Maaf, tolong cari tempat lain, jangan di sini. Kecuali kamu sholat kayak kita!)
Tapi dia malah menjawab lagi,
“No, I don’t pray, I really want sleep with you to hug and kiss you while you’re sleeping.”
(Tidak, saya gak shalat, saya benar-benar ingin tidur bersamamu untuk memeluk dan menciummu saat kamu sedang tidur.)
Mendengar ingin mencium dalam hati saya menyimpulkan dia seorang ga*.
Saya menolak lagi dengan keras,
“No, here I’m gonna pray not sleep.”
(Gak, saya mau shalat bukan tidur)
Setelah saya menolak, saya kira dia akan pergi. Ternyata tidak. Dia malah bertanya lagi,
“You’re a foreign, where is your hotel, so I can go there.”
(Kamu orang asing, hotelmu di mana, supaya saya bisa ke sana.)
Saya jawab,
“My hotel in this city, but you cannot go there.”
(Hotel saya di kota ini, tapi Anda tidak boleh ke sana.)
Dia bertanya lagi,
“Can we walk from here to get there?”
(Bisa gak kita jalan dari sini buat ke sana?)
Saya jawab,
“By the Metro to get there, but I won’t go there now because I will meet my friend here”
(Harus pakai Metro (kereta) buat kesana, saya gak bakal kesana sekarang soalnya mau ketemu teman saya disini)
Saya sengaja tidak memberi tahu nama hotel, lalu berusaha menghindar dari kakek itu sambil terus berdoa dalam hati. Beberapa saat kemudian, akhirnya teman saya dari Aljazair datang kembali bersama imam masjid, dan tak lama setelah itu imam Bengali tadi membuka gerbang masjid.
Si kakek tadi menyadari situasinya akan menjadi sulit jika ada orang dengan penampilan yang jauh berbeda, mungkin dia juga takut dan akhirnya perlahan pergi.
Saat itu, hati saya langsung lega luar biasa. Saya langsung bergegas masuk masjid tanpa pamitan ke si kakek tadi.
Pengalaman ini benar-benar tidak pernah saya lupakan. Sampai sekarang pun, saya masih sering menceritakannya berulang-ulang kepada teman-teman karena saking absurd, konyol, dan menjijikkannya kejadian itu. 😄
Leave a Reply