Setiap anak memiliki orang tua yang sifatnya berbeda-beda. Ada orang tua yang sangat otoriter mengatur anaknya dari A-Z, ada juga orang tua yang sangat tidak peduli sehingga membebaskan apa saja yang mau dilakukan anaknya. Dua-duanya adalah tipe orang tua yang tidak baik. Namun, karena posisi kita sebagai anak, kita perlu memiliki trik-trik khusus untuk menjaga hubungan baik dengan orang tua tanpa harus dikontrol penuh oleh orang tua, tidak juga tanpa kontrol sama sekali akhirnya kebablasan masuk jurang.
Pertama, hargai ilmu dan pengalaman orang tua! Tapi sesuai porsinya
Mau tidak mau, orang tua pasti memiliki pengalaman dan ilmu yang tidak kita miliki. Mereka lebih dulu hidup, lebih dulu mengenal dunia luar, lebih dulu mengenal sifat-sifat manusia, dan lebih dulu merasakan pahit manis kehidupan. Jika orang tua sering menuntut sesuatu terhadap kita, itu sangat wajar karena ada sesuatu di pikiran mereka yang sulit kita bayangkan. Misal, orang tua melarang, “jangan berteman dengan dia!”, mungkin mereka lebih dulu merasakan bagaimana kenal orang yang sifatnya mirip-mirip dengan teman kita. Pada titik ini, tetap hargai pendapat mereka. Gak perlu langsung melawan, pasang muka ketus, adu argumen, atau debat kusir yang ujung-ujungnya bikin emosi. Bukan hanya soal pertemanan, ini berlaku di semua hal termasuk sekolah, pekerjaan, dan yang lainnya.
Tenang saja, kita memiliki banyak waktu untuk mencari tahu alasan tersebut. Insyaallah gak sampai 1 minggu, bahkan 1 bulan. Terkadang, cukup sejam atau sehari untuk merenungi apakah pendapat orang tua itu benar. Jika merenungi pendapat orang tua saja butuh waktu berminggu-minggu, bertahun-tahun, maka selamat! Itu tandanya kita hidup di dalam kebodohan sehingga tidak mampu mencari informasi di dunia yang sudah serba terbuka ini. Bisa jadi pendapat orang tua itu benar, dan tentu baik untuk kehidupan kita. Bisa jadi juga salah, lalu bagaimana menyampaikannya kalau itu salah? Gak langsung hari itu juga! Bisa besok, atau nanti ketika suasana sedang hangat.
Kedua, menyampaikan dengan ilmu bukan emosi
Anggap saja pendapat orang tua itu salah, bukan berdasarkan ego dan emosi, melainkan benar-benar salah berdasarkan realita. Maka, ada 1001 cara untuk melakukan diplomasi agar alasan kita diterima. Misal, orang tua menuntut kita ingin menjadi dokter, padahal kita ingin jadi engineer. Maka jelaskan bahwa kita sudah memiliki passion di engineer, dan jelaskan peluang-peluang menjadi engineer dengan gaya komunikasi yang hangat bukan penuh emosi dan perdebatan. Jelaskan kepada mereka jadi dokter mungkin menjanjikan, tapi jadi engineer membuat hidup lebih happy. Tentu, menyampaikan pendapat butuh data dan bukti bukan angan-angan kosong, agar pendapat kita diterima. Kalau tidak diterima, ya coba lagi besok, atau minggu depan, masih bisa kok.
Jujur saja, saya sendiri banyak hal dimana orang tua pernah menyuruh A, namun saya tidak setuju dan memilih B. Saya tidak pernah sampai harus ribut berhari-hari, berminggu-minggu, sampai musuhan. Bahkan, itu bisa selesai dalam hitungan jam atau hari. Bayangkan saja, dulu ibu saya ingin saya jadi satpam karena ada saudara ketua yayasan satpam, namun saya tidak menolak di detik itu juga. Besoknya, saya membuka lagi komunikasi bahwa saya tidak setuju setelah saya mengumpulkan banyak informasi. Ibu saya juga meminta saya jadi tentara, saya tidak menolak pada detik itu juga. Kemudian saya membuka komunikasi bahwa saya tidak setuju, dan saya ingin jadi engineer dengan alasan yang sederhana, “udah capek-capek ngumpulin sertifikat engineer, belajar sana-sini, eh tiba-tiba jadi tentara kan kayak ngerasa buang-buang waktu aja selama ini.” Dengan nada yang hangat.
Ketiga, menerima nasihat orang tua jika memang terbukti benar
Ada kalanya kita memang harus mengalah dengan arahan orang tua, jika memang itu benar. Tentu, kebenaran itu dicari, bukan diasumsikan. Ketika orang tua berpendapat sesuatu, coba renungi sebentar saja dan pikirkan dampak di masa depan. Banyak sekali anak yang emosian, dimana semua pendapat orang tua dianggap salah dan menganggap hanya perasaan dan asumsinya saja yang benar. Ini adalah bentuk kedurhakaan terhadap orang tua dan ciri anak yang bersifat buruk.
Komunikasi yang buruk melahirkan hubungan yang tidak sehat
Saya sadar, ada sebagian anak dimana ketika mereka berkata sepatah dua patah kata langsung dipatahkan sekalian sama orang tuanya, dan tentu hal tersebut membuat kesal dan emosi. Seringkali model komunikasi ini tidak melahirkan kebaikan apapun dan hanya menghilangkan semangat. Dan juga sebaliknya, ada anak yang memang bandel dan hidup semaunya sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang tuanya. Menghadapi orang tua seperti ini, maka butuh pendekatan lebih ekstra. Yang perlu diperbaiki adalah hubungan emosionalnya, bukan memperdebatkan pendapat masing-masing. Tahan dulu perdebatan, jangan tergesa-gesa, dan itikadkanlah untuk memperbaiki hubungan. Cara memperbaiki hubungan emosional sangat banyak seperti memberi waktu, perhatian, hadiah, dan lain-lain agar orang tua merasa dihargai. Maka ke depannya insyaallah sangat mudah agar pendapat kita dihargai orang tua.
Orang tua menuntut, tapi gak mampu, lalu bagaimana?
Sekali lagi, terkadang perselisihan terjadi karena dari awal komunikasi dan hubungan emosional sudah buruk. Jika orang tua menuntut sesuatu yang kita tidak mampu mewujudkannya, artinya mereka tidak mengetahui keadaan kita alias kurangnya komunikasi. Jika menuntut sesuatu yang umum seperti cepat kerja, kerja sebagai profesi tertentu, maka sangat mudah menyampaikannya. Cukup sampaikan mengapa tidak mampu dan jelaskan realita di lapangan. Jangan tiba-tiba pergi, tiba-tiba menghilang, tiba-tiba merengut, sambil berkata “iya ih bawel!” Hal tersebut akan memperburuk komunikasi dan akan menambah tuntutan. Apalagi jika orang tua melihat kita memang tidak melakukan usaha apapun, atau diam-diam saja. Jika memang sudah melakukan usaha, maka jelaskan usaha apa saja yang telah dilakukan untuk mendapat pekerjaan seperti menunjukkan surat lamaran dll agar mereka paham keadaan.
Bila perlu, libatkan mereka dalam proses pencarian kerja agar usaha kita bisa lebih terlihat dan dihargai. Bisa mengatakan seperti ini, “mah, sudah cari kerja tapi belum dipanggil. Gimana ya? Coba kalo punya relasi temen minta bantu dong siapa tau rezeki.” Atau kalau tidak mampu, “mah, kuliah kedokteran itu susah banget, dan saya gak tega lihat orang sakit atau orang bekas kecelakaan. Kira-kira apa ya yang bagus saya kan jagonya di olahraga bukan biologi.”
Leave a Reply