“Maksa Ibadah” Sebagai Jalan Ninja Menambah Iman

Setelah mempelajari salah satu akidah besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah, saya semakin sadar bahwa kalimat tersebut sederhana namun maknanya luar biasa dalam. Bayangkan, para ulama memberi perhatian yang besar terhadap akidah ini sehingga menjadi penentu siapa yang berada di atas jalan yang lurus dan siapa yang tersesat. Kalimat yang dimaksud adalah ini:

الإيمان هو إعتقاد، قول، وعمل. يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

“Iman itu adalah keyakinan dengan hati, ucapan, dan perbuatan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

Kalimat ini bukan sekadar definisi. Ini adalah pondasi besar dalam memahami agama. Karena jika salah memahami iman, maka seseorang bisa salah memahami amal, salah memahami dosa, salah memahami ketaatan, bahkan salah memahami jalan keselamatan. Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa iman bukan hanya di hati, bukan hanya ucapan lisan, dan bukan hanya amal anggota badan. Tetapi iman mencakup semuanya: keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan.

Dalilnya sangat banyak. Di antaranya sabda Rasulullah ﷺ:

“Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan hadits ini. Rasulullah ﷺ menyebut laa ilaaha illallah sebagai cabang iman, ini menunjukkan bahwa ucapan adalah bagian dari iman. Rasulullah ﷺ juga menyebut menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai cabang iman, ini menunjukkan bahwa amalan anggota badan juga bagian dari iman. Rasulullah ﷺ juga menyebut malu sebagai cabang iman, ini menunjukkan bahwa amalan hati juga bagian dari iman. Maka lengkaplah bahwa iman itu mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan.

Ada sebagian orang yang melepaskan amalan dari iman, mereka adalah kaum Murji’ah. Kelompok ini dinilai sesat oleh para ulama karena konsekuensinya luar biasa sekali. Menurut Murji’ah, iman itu yang penting mengakui bahwa Allah adalah Tuhan dan Muhammad adalah nabi-Nya, urusan beramal itu urusan nanti. Akhirnya, muncul kaum yang mengatakan tidak usah pakai jilbab kalau hatinya belum berjilbab, yang penting Islam meskipun tidak shalat, yang penting hatinya baik meskipun terus bermaksiat, dan seterusnya. Amalan menjadi diremehkan, padahal amalan juga bagian dari iman.

Tentu Ahlus Sunnah juga tidak seperti Khawarij yang mudah mengkafirkan pelaku dosa besar. Orang yang bermaksiat tidak boleh langsung divonis keluar dari Islam secara serampangan. Tapi di sisi lain, Ahlus Sunnah juga tidak seperti Murji’ah yang meremehkan amal. Jalan Ahlus Sunnah itu pertengahan. Pelaku dosa besar tetap berada di bawah kehendak Allah jika dia mati di atas tauhid, namun dosanya tetap berbahaya dan imannya berkurang karena maksiat tersebut.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
(QS. Al-Anfal: 2)

Allah juga berfirman:

“Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.”
(QS. At-Taubah: 124)

Allah juga berfirman:

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka.”
(QS. Al-Fath: 4)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa iman bisa bertambah. Jika iman bisa bertambah, berarti iman juga bisa berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Ini sangat penting dipahami, karena sebagian orang mengira iman itu seperti benda mati yang tidak berubah. Padahal iman itu hidup. Kadang naik, kadang turun. Kadang hati lembut, kadang keras. Kadang semangat ibadah, kadang berat. Kadang mudah menangis, kadang membaca ayat pun terasa biasa saja. Maka tugas kita adalah menjaga iman itu dengan ketaatan.

Menariknya, ada perkataan “bertambah dengan ketaatan.” Artinya, kita taat dulu baru iman itu ditambah, bukan sebaliknya. Banyak orang mengira bahwa iman bisa bertambah dengan sendirinya, padahal hal tersebut tidak mungkin dibiarkan setan. Orang yang tenggelam dalam kelalaian, tidak ada usaha untuk menambah iman, maka setan akan terus menggoda agar orang tersebut terus-terusan malas untuk beribadah.

Misal, ada orang yang tidak mau shalat. Meskipun sudah diperintahkan berkali-kali untuk shalat, dia tetap tidak mau. Alasannya klasik, seperti “Belum dapat hidayah, belum semangat, mending tidak shalat daripada shalat tapi tidak ikhlas.” Itulah godaan setan yang nyata, dan manusia akan terus-terusan dalam keadaan seperti itu selama mereka tidak mau memaksakan diri.

Padahal Allah sudah memerintahkan:

“Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang yang rukuk.”
(QS. Al-Baqarah: 43)

Allah juga berfirman:

“Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Dan salat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah: 45)

Ayat ini menarik. Allah menyebut bahwa shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Berarti rasa berat dalam shalat bukan alasan untuk meninggalkan shalat. Justru rasa berat itu harus dilawan. Kalau seseorang berkata, “Saya berat sekali untuk shalat,” maka jawabannya bukan meninggalkan shalat, tetapi meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan tetap shalat. Karena kalau menunggu ringan dulu baru shalat, maka bisa jadi dia tidak akan pernah shalat.

Orang-orang mengira bahwa definisi taat adalah seperti ini:

Melakukan ibadah dalam keadaan suka, semangat, dan ringan.

Inilah yang menyebabkan orang-orang merasa tidak perlu ibadah jika belum ikhlas, yang mereka maksud sebenarnya adalah belum semangat. Akhirnya, mereka menunda atau tidak beribadah karena merasa belum timbul perasaan semangat. Teman saya pernah mengajak seseorang yang bermain game untuk shalat, kemudian dia berkata, “Mau sih shalat kayak kalian, saya juga dulu belajar di pesantren. Tapi gimana ya belum dapat hidayah.” Akhirnya dia lebih memilih terus bermain game dan tidak peduli waktu shalat terlewat begitu saja.

Padahal shalat itu semudah mengambil wudhu dan melakukan beberapa gerakan selama beberapa menit saja. Lihatlah, sinyal dari Allah sudah ada bahwa shalat itu baik, namun setan menggodanya agar tidak melakukannya. Maka, bagi para pembaca dan penulis, ketika kita menerima sinyal ketaatan dari Allah seperti itu, sambutlah sinyal tersebut dengan baik meskipun merasa berat dan tidak suka. Meskipun awal-awal merasa tidak ikhlas, tidak rela, dan bahkan sangat malas. Jika kita memaksakan diri, maka ke depannya Allah akan beri kemudahan.

Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan pada mereka.”
(QS. Muhammad: 17)

Allah juga berfirman:

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.”
(QS. Maryam: 76)

Perhatikan. Allah menambah petunjuk kepada orang yang sudah mendapat petunjuk. Artinya, ketika seseorang sudah tahu kebenaran, lalu dia mengikuti kebenaran itu, Allah tambahkan lagi petunjuk kepadanya. Bukan malah menunggu semuanya sempurna dulu baru bergerak. Ada orang yang sudah tahu shalat itu wajib, sudah tahu maksiat itu buruk, sudah tahu Al-Qur’an itu benar, sudah tahu kematian itu pasti, tetapi masih berkata, “Saya belum dapat hidayah.” Padahal pengetahuan itu sendiri sudah bagian dari hidayah. Tinggal dia mau menyambutnya atau tidak.

Allah juga berfirman:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Ayat ini sangat indah. Allah memberi jalan kepada orang yang bersungguh-sungguh. Maka kalau seseorang ingin berubah, jangan hanya menunggu rasa. Bergeraklah. Lawan malasnya. Paksa dirinya. Tutup pintu maksiat. Datangi majelis ilmu. Buka mushaf. Ambil wudhu. Berdiri untuk shalat. Karena jalan itu sering kali dibuka setelah seseorang mulai berjalan, bukan ketika dia hanya duduk menunggu.

Maka, definisi taat yang benar adalah:

Berusaha melakukan perintah dan meninggalkan larangan baik dalam keadaan suka ataupun tidak suka, karena mengharapkan balasan dari Allah.

Analoginya sederhana. Banyak orang yang sebenarnya sudah malas bekerja, jenuh, bosan, namun dia tetap bekerja karena mengharapkan balasan dari perusahaan, yaitu gaji. Ada juga orang yang rela membeli helm, taat berkendara, meskipun tidak suka, karena dia tahu jika tidak taat aturan maka kelak akan merugikannya. Itulah definisi taat yang benar.

Kalau kita ingin mendapatkan rasa semangat dan ringan dalam ibadah, itu urusan Allah. Dan biasanya Allah akan melihat dari usaha hamba-Nya. Awal-awal mungkin dia berat, namun karena memaksakan diri, akhirnya Allah buat hatinya lebih lapang dan semangat untuk beribadah. Inilah yang disebut “keimanan bertambah.” Ketika ibadah mulai terasa ringan dan semangat dilakukan, maka itu tanda-tanda iman kita sedang bertambah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Surga itu dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat.”
(HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan kenyataan hidup. Jalan ke surga memang tidak selalu terasa enak di awal. Bangun subuh berat. Menahan pandangan berat. Menutup aurat mungkin berat bagi sebagian orang. Meninggalkan riba berat. Meninggalkan zina berat. Meninggalkan musik, game berlebihan, tontonan haram, teman buruk, dan kebiasaan buruk juga berat. Tapi itulah jalan menuju surga.

Sebaliknya, jalan menuju neraka sering kali terasa nikmat di awal. Menunda shalat terasa santai. Bermaksiat terasa menyenangkan. Mengikuti syahwat terasa bebas. Membuka aurat terasa modern. Berbohong terasa menguntungkan. Mengambil harta haram terasa cepat kaya. Tapi ujungnya menghancurkan hati, menghancurkan iman, dan bisa menghancurkan akhirat.

Karena itu, jangan tertipu dengan perasaan. Tidak semua yang terasa nikmat itu baik. Tidak semua yang terasa berat itu buruk. Obat kadang pahit, tapi menyembuhkan. Racun kadang manis, tapi membunuh. Begitu pula ketaatan dan maksiat. Ketaatan kadang berat di awal, tapi menghidupkan hati. Maksiat kadang nikmat di awal, tapi mematikan hati.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini sering dipakai sebagian orang dengan cara yang keliru. Mereka berkata, “Saya belum ikhlas, jadi tidak usah shalat dulu.” Padahal hadits ini bukan alasan untuk meninggalkan amal. Hadits ini justru memerintahkan kita memperbaiki niat dalam beramal. Kalau niat belum lurus, luruskan. Kalau hati masih berat, minta pertolongan kepada Allah. Kalau masih ada riya, lawan. Tapi jangan tinggalkan amal wajib dengan alasan hati belum sempurna.

Karena ikhlas itu bukan berarti selalu semangat. Ikhlas itu beramal karena Allah. Bisa jadi seseorang shalat dalam keadaan berat, tetapi dia tetap shalat karena takut kepada Allah dan berharap pahala dari Allah. Itu jauh lebih baik daripada orang yang meninggalkan shalat sambil berkata, “Saya belum ikhlas.” Bahkan bisa jadi orang yang memaksa dirinya shalat dalam keadaan berat lebih jujur daripada orang yang menunggu semangat tapi tidak pernah bergerak.

Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling rutin meskipun sedikit.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa agama ini dibangun dengan kesungguhan dan kontinuitas. Tidak harus langsung banyak. Tidak harus langsung menjadi ahli ibadah besar. Tapi mulai dari yang wajib. Jaga shalat lima waktu. Jaga lisan. Jaga pandangan. Tinggalkan dosa besar. Lalu tambah sedikit demi sedikit. Membaca Al-Qur’an satu halaman. Berdzikir pagi dan petang. Shalat sunnah rawatib. Sedekah walaupun sedikit. Menuntut ilmu walaupun pelan-pelan. Dari amalan kecil yang terus dijaga, iman bisa tumbuh.

Maka jangan menunggu hati sempurna untuk taat. Hati itu sering kali membaik setelah badan dipaksa taat. Orang yang awalnya berat bangun subuh, lama-lama akan terbiasa. Orang yang awalnya berat membaca Al-Qur’an, lama-lama akan rindu. Orang yang awalnya berat meninggalkan maksiat, lama-lama akan jijik dengan maksiat tersebut. Orang yang awalnya shalat hanya seperti menggugurkan kewajiban, lama-lama Allah bisa bukakan rasa manis dalam shalatnya.

Allah berfirman:

“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 22)

Lihatlah, bahkan ujian pun bisa menambah iman orang beriman. Bukan hanya ayat yang menambah iman, bukan hanya ibadah yang menambah iman, tetapi ujian juga bisa menambah iman jika disikapi dengan benar. Ketika orang beriman menghadapi sesuatu yang berat, lalu dia tetap membenarkan janji Allah, tetap sabar, tetap taat, maka imannya bertambah.

Allah juga berfirman tentang orang-orang beriman:

“Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
(QS. Ali ‘Imran: 173)

Dalam ayat itu disebutkan bahwa ucapan ancaman dari musuh justru menambah kuat iman mereka. Ini pelajaran besar. Orang beriman bukan tidak takut. Orang beriman bukan tidak punya rasa berat. Tapi mereka tidak menjadikan rasa takut dan rasa berat sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan. Mereka tetap berjalan, tetap taat, tetap berharap kepada Allah, sampai Allah tambahkan kekuatan dalam hati mereka.

Maka, ketika seseorang berkata, “Saya belum dapat hidayah,” seharusnya dia khawatir. Jangan-jangan hidayah sudah datang, tetapi dia yang terus menolaknya. Adzan sudah memanggil, tetapi dia abaikan. Nasihat sudah datang, tetapi dia bantah. Ayat sudah dibacakan, tetapi dia berpaling. Teman baik sudah mengingatkan, tetapi dia lebih memilih teman buruk. Rasa takut kepada Allah sudah muncul, tetapi dia kubur lagi dengan maksiat.

Jangan bermain-main dengan hidayah. Karena hidayah adalah nikmat yang sangat mahal. Ketika Allah masih membuat hati kita gelisah setelah dosa, itu nikmat. Ketika Allah masih membuat kita merasa bersalah setelah meninggalkan shalat, itu nikmat. Ketika Allah masih mempertemukan kita dengan nasihat, itu nikmat. Ketika Allah masih membuat kita ingin berubah, walaupun sedikit, itu nikmat. Jangan sia-siakan sinyal itu.

Maka siapa yang ingin imannya bertambah, jangan hanya menunggu rasa. Taatlah. Paksa diri untuk melakukan yang wajib. Paksa diri meninggalkan yang haram. Paksa diri untuk tetap berada di jalan Allah meskipun awalnya berat. Karena iman bertambah dengan ketaatan, bukan dengan lamunan. Iman bertambah dengan amal, bukan dengan alasan. Iman bertambah dengan melawan hawa nafsu, bukan dengan mengikuti semua keinginan diri.

Pada akhirnya, kalimat para ulama ini sangat besar maknanya:

الإيمان هو إعتقاد، قول، وعمل. يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

“Iman itu adalah keyakinan dengan hati, ucapan, dan perbuatan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

Jika seseorang memahami kalimat ini dengan benar, dia tidak akan meremehkan amal. Dia tidak akan berkata, “Yang penting hati baik,” sementara badannya jauh dari ketaatan. Dia juga tidak akan putus asa ketika merasa berat beribadah, karena dia tahu bahwa rasa berat itu bisa dilawan. Dia tidak akan menunggu sempurna dulu baru taat, tetapi dia akan taat agar Allah menyempurnakan hatinya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberi hidayah, lalu ditambahkan hidayah. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang imannya bertambah dengan ketaatan, bukan berkurang karena kelalaian. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang tidak hanya mengaku beriman dengan lisan, tetapi juga membuktikannya dengan hati dan amal perbuatan.

July 9, 2026 (0)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *