Waktu kecil, saya selalu bermimpi untuk bisa keliling dunia. Melihat apa yang orang luar sana makan, apa yang biasa mereka kerjakan, apa yang mereka sukai, seindah apa negeri mereka. Saat dewasa, impian tersebut terwujud. Saya berhasil mengunjungi beberapa negara (alhamdulillah) dan melihat apa yang menjadi pertanyaan saya di waktu kecil. Kemudian, saya menyimpulkan bahwasanya dunia hanya begitu-begitu saja. Ketika bekerja di negara Eropa, sering kali saya melihat orang-orang melamun di stasiun kereta, menunggu kereta selanjutnya. Saya juga melihat beberapa sisi gelap yang jarang diekspos di publik. Dan saya semakin menyadari bahwa tempat kelahiran saya, Indonesia bukan tempat terburuk di dunia ini untuk ditinggali. Yaa, saya menyadari kekurangannya juga banyak, namun walaupun kita pergi ke luar sana, kekurangan akan tetap ada. Saya menyaksikan tidak ada kesejahteraan sempurna di dunia ini, meskipun beberapa orang mengklaimnya.
Pernah gak sih kita berpikir, kenapa di dunia ini seolah tidak ada kesenangan yang bisa bertahan selamanya?
Makanan yang pertama kali terasa luar biasa, kalau dimakan setiap hari lama-lama terasa biasa.
Mobil yang sudah lama kita impikan, beberapa bulan setelah memilikinya tidak lagi membuat kita seantusias hari pertama.
Rumah baru, HP baru, pekerjaan baru, liburan, bahkan pencapaian yang selama bertahun-tahun kita kejar—anehnya, hampir semuanya memiliki pola yang sama:
ingin → mendapatkan → bahagia → terbiasa → lalu mencari sesuatu yang baru lagi.
Seakan-akan dunia selalu berkata kepada kita:
“Silakan nikmati aku, tetapi jangan berharap terlalu banyak. Aku tidak bisa membuatmu puas selamanya.”
Dan sebenarnya, ini bukan sebuah kecelakaan.
Memang begitulah dunia diciptakan.
Semua Kenikmatan Dunia Memiliki Kekurangan
Coba pikirkan hampir semua kenikmatan yang kita kenal.
Makanan enak dibatasi oleh rasa kenyang.
Tidur dibatasi oleh kebutuhan untuk bangun.
Liburan dibatasi oleh waktu.
Kekayaan dibayangi kekhawatiran kehilangan.
Kecantikan dibatasi usia.
Kesehatan dibatasi penyakit.
Kebersamaan dibatasi perpisahan.
Bahkan ketika tidak ada sesuatu yang merusak kenikmatan itu dari luar, kebosanan dapat merusaknya dari dalam.
Sesuatu yang sangat menyenangkan ketika pertama kali kita mendapatkannya perlahan menjadi normal setelah kita terbiasa dengannya.
Mungkin karena itulah manusia bisa memiliki banyak hal tetapi tetap berkata:
“Entah kenapa, masih terasa ada yang kurang.”
Yang kurang bukan selalu jumlah hartanya.
Bisa jadi karena manusia memang sedang mencari sesuatu yang tidak tersedia secara sempurna di dunia ini.
Al-Qur’an Menggambarkan Dunia Seperti Tanaman
Allah memberikan perumpamaan yang sangat indah:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur…”
(QS. Al-Hadid: 20)
Perhatikan polanya.
Tumbuh → indah → mengagumkan → menguning → hancur.
Bukankah hampir seluruh kenikmatan dunia berjalan seperti itu?
Masa muda begitu indah, kemudian berlalu.
Anak-anak tumbuh di hadapan kita, kemudian dewasa.
Rumah yang dahulu baru menjadi tua.
Tubuh yang dahulu kuat perlahan melemah.
Bahkan kenangan yang dahulu terasa seperti “hari terbaik dalam hidup kita” akhirnya hanya tersimpan sebagai foto.
Dunia bukan berarti tidak memiliki keindahan.
Justru dunia sangat indah.
Masalahnya hanya satu:
keindahannya tidak dibuat untuk menetap.
Mungkin Karena Kita Memang Diciptakan Menginginkan Sesuatu yang Lebih Besar
Ada hal menarik dalam diri manusia.
Kita bukan hanya ingin bahagia.
Kita ingin bahagia tanpa berakhir.
Kita bukan hanya ingin sehat.
Kita ingin sehat tanpa pernah sakit lagi.
Kita bukan hanya ingin bersama orang yang kita cintai.
Kita ingin tidak pernah berpisah lagi.
Kita bukan hanya ingin menikmati sesuatu.
Kita ingin menikmatinya tanpa bosan.
Tetapi ketika semua keinginan itu dicari di dunia, kita akan selalu menemukan batas.
Seolah-olah hati manusia memiliki kebutuhan terhadap sebuah negeri yang belum pernah kita lihat.
Negeri tempat kenikmatan tidak rusak karena waktu.
Negeri tempat kebahagiaan tidak dihantui kehilangan.
Negeri tempat seseorang tidak perlu berkata:
“Sayang sekali ini akan berakhir.”
Dan Al-Qur’an memperkenalkan negeri itu dengan satu nama:
surga.
Surga Bukan Sekadar Dunia dalam Versi Lebih Mewah
Kadang kita membayangkan surga hanya seperti dunia, tetapi makanannya lebih enak, rumahnya lebih besar, sungainya lebih indah.
Padahal perbedaannya jauh lebih mendasar.
Allah berfirman tentang penghuni surga:
“Dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap dipandang mata. Dan kamu kekal di dalamnya.”
(QS. Az-Zukhruf: 71)
Perhatikan bagian terakhir:
“Dan kamu kekal di dalamnya.”
Inilah sesuatu yang tidak dimiliki dunia.
Di dunia, bahkan kebahagiaan terbesar selalu memiliki bayangan bernama akhir.
Ketika sedang bahagia, kita tahu suatu hari keadaan bisa berubah.
Ketika bersama seseorang yang kita cintai, kita tahu suatu hari kematian akan memisahkan.
Ketika sehat, kita tahu tubuh tidak akan selalu seperti ini.
Tetapi di surga tidak ada kalimat:
“Nikmatilah sebelum habis.”
Karena ia tidak habis.
Tidak ada:
“Manfaatkan selagi masih muda.”
Karena tidak ada usia tua.
Tidak ada:
“Semoga kebahagiaan ini bertahan lama.”
Karena ia memang tidak akan berakhir.
Bahkan Tidak Ada Rasa Lelah
Salah satu ayat yang menurut saya sangat menenangkan menggambarkan ucapan penghuni surga:
“Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.”
(QS. Fatir: 35)
Di dunia, bahkan kesenangan membutuhkan istirahat.
Kita bisa lelah berjalan-jalan.
Lelah makan.
Lelah berbicara.
Lelah bekerja.
Bahkan bisa lelah bersenang-senang.
Tetapi Allah menggambarkan sebuah kehidupan yang tidak mengenal kelelahan.
Artinya, surga bukan hanya tempat yang menyediakan lebih banyak kenikmatan.
Ia adalah kehidupan dengan hukum yang berbeda dari dunia.
Kenikmatan tanpa kerusakan.
Kebahagiaan tanpa kecemasan.
Kebersamaan tanpa perpisahan.
Kesehatan tanpa penyakit.
Kehidupan tanpa kematian.
Dan kepuasan tanpa kebosanan.
Maka Jangan Memaksa Dunia Menjadi Surga
Barangkali sebagian besar kekecewaan manusia muncul ketika kita meminta dunia memberikan sesuatu yang memang tidak pernah dijanjikan olehnya.
Kita berharap pekerjaan membuat kita bahagia selamanya.
Tidak akan.
Kita berharap uang membuat semua masalah selesai.
Tidak akan.
Kita berharap pernikahan membuat hidup selalu menyenangkan.
Tidak akan.
Kita berharap ketika sebuah doa terkabul, setelah itu hidup akan terasa sempurna.
Belum tentu.
Bukan karena semua itu buruk.
Semua itu bisa menjadi nikmat Allah yang sangat besar.
Tetapi semuanya tetap bernama dunia.
Allah berfirman:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS. Al-Kahfi: 46)
Perhiasan memang indah.
Kita boleh menikmatinya.
Tetapi orang yang masuk akal tidak akan mengira bahwa perhiasan adalah tujuan utama sebuah perjalanan.
Dunia Adalah Tempat Mencicipi, Bukan Tempat Tinggal Selamanya
Mungkin kenikmatan dunia sengaja diberikan dalam bentuk potongan-potongan kecil.
Ada makanan yang lezat.
Ada udara pagi yang sejuk.
Ada keluarga yang kita cintai.
Ada tawa.
Ada perjalanan.
Ada keberhasilan setelah perjuangan panjang.
Ada saat ketika doa akhirnya terkabul.
Semua itu seperti sedikit rasa dari sebuah konsep bernama kebahagiaan.
Tetapi sebelum kita sempat menggenggamnya terlalu kuat, dunia mengingatkan:
“Ini bukan rumahmu.”
Maka ketika suatu kesenangan berakhir, bukan berarti hidup kehilangan seluruh maknanya.
Ketika kita bosan terhadap sesuatu yang dahulu sangat kita inginkan, bukan berarti kita aneh.
Dan ketika hati masih menginginkan kebahagiaan yang lebih sempurna, mungkin masalahnya bukan karena kita kurang memiliki dunia.
Mungkin karena hati sedang mencari sesuatu yang memang tidak diletakkan Allah di dunia.
Sesuatu yang tidak habis.
Tidak rusak.
Tidak membosankan.
Tidak direbut oleh usia.
Tidak dipisahkan oleh kematian.
Dan tidak pernah berubah menjadi kenangan.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Mengapa tidak ada kebahagiaan sempurna di dunia?”
Tetapi:
“Bagaimana jika dunia memang tidak pernah diciptakan untuk menjadi tempat kebahagiaan yang sempurna?”
Dan jika demikian, kerinduan manusia terhadap kebahagiaan tanpa akhir bukanlah sesuatu yang sia-sia.
Kita hanya sedang mencarinya di tempat yang salah.
Leave a Reply