Spesialnya Penghuni Surga

Di antara sifat alamiah manusia adalah ketika orang lain berbuat baik kepadanya, dia juga akan berbuat baik. Jika tidak, dia juga tidak akan berbuat baik, bahkan cenderung membalas keburukan orang tersebut.

Contoh sederhananya adalah hubungan antara anak dan orang tua. Sering saya dapati, ketika para ustaz mengajak seseorang agar tetap berbuat baik kepada orang tuanya, selalu ada jawaban, “Orang tuanya yang bagaimana dulu?”

Begitu pula dengan orang yang sudah menikah. Sering kita mendapatkan jawaban, “Saya mau taat kepada suami, tetapi suaminya yang bagaimana dulu?”

Orang-orang selalu mengharapkan timbal balik yang setimpal dari orang lain. Inilah salah satu perbedaan antara orang biasa dan calon penghuni surga.

Selama seseorang menggantungkan harapannya kepada manusia yang serba terbatas, wajar saja jika kebahagiaannya bergantung pada kemampuan manusia tersebut dalam membalas kebaikannya. Ketika muncul sedikit percikan api, terjadilah pertengkaran dan saling membalas keburukan.

Berbeda dengan para penghuni surga yang mengharapkan balasan dari Allah. Bahkan, mereka tidak mengharapkan balasan ataupun sekadar ucapan “terima kasih” dari manusia. Jika kita mempelajari Al-Qur’an lebih dalam, mungkin kita akan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah kita benar-benar layak masuk surga?”

Tidak Mengharapkan Ucapan Terima Kasih

Allah menceritakan sifat orang-orang yang berbuat baik:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, (sambil berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.’

(QS. Al-Insan: 8–9)

Mereka berbuat baik bukan karena ingin dipuji, dikenang, dibalas, ataupun dianggap sebagai orang yang berjasa. Mereka berbuat baik karena Allah. Cukuplah Allah yang mengetahui amal mereka dan memberikan balasannya.

Tidak Mengungkit-ungkit Pemberian

Allah juga berfirman:

“Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

(QS. Al-Baqarah: 262)

Ada orang yang sanggup memberi, tetapi tidak sanggup melupakan pemberiannya. Ketika orang yang pernah dibantu tidak membalas sesuai harapannya, pemberian itu mulai diungkit-ungkit. Seakan-akan orang tersebut harus terus tunduk dan membalas kebaikannya sepanjang hidup.

Padahal, apabila pemberian itu benar-benar ditujukan karena Allah, mengapa harus menunggu balasan dari manusia? Bukankah balasan dari Allah jauh lebih besar daripada balasan siapa pun?

Berbuat Baik kepada Orang Tua meskipun Mereka Berbuat Zalim

Berbuat baik kepada orang tua tidak berarti menaati mereka dalam kemaksiatan atau membenarkan kezaliman mereka. Namun, keburukan orang tua tidak serta-merta menggugurkan kewajiban seorang anak untuk tetap memperlakukan mereka dengan baik.

Bahkan, mengenai orang tua yang memaksa anaknya melakukan kesyirikan, Allah berfirman:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.

(QS. Luqman: 15)

Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma juga pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai ibunya yang masih musyrik. Rasulullah ﷺ menjawab, “Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.” (HR. Bukhari no. 2620 dan Muslim no. 1003)

Inilah akhlak yang luar biasa. Seorang anak tidak menaati orang tuanya dalam kemaksiatan, tetapi tetap menjaga adab, berbuat baik, dan menunaikan hak-hak mereka. Kebaikannya tidak bergantung pada baik atau buruknya perlakuan orang tua, karena dia melakukannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Itulah sifat para calon penghuni surga. Mereka selalu mengharapkan balasan dan pahala dari Allah.

Berbeda dengan anak yang biasa-biasa saja, bahkan orang tuanya yang baik pun bisa ia durhakai. Banyak anak kabur dari rumah, memblokir kontak, memutur komunikasi, hanya gara-gara masalah sepele yaitu menghindari tuntutan. Padahal, hati orang tua masih bisa dilulukan dengan cara komunikasi yang baik. Meskipun terkadang keras kepala, maka di luar sana ada satu juta skill untuk memaklumi sikap mereka. Seorang bekerja di perusahaan sebagai CS mungkin bisa masih tersenyum dan sabar mendengar makian pelanggan, lalu bagaimana dengan orang tua? Mengapa skillnya tiba-tiba hilang?

Adapun orang yang biasa-biasa saja akan mudah berkonflik dan kecewa kepada manusia. Di dalam hatinya tertanam anggapan bahwa jika dia berbuat baik, orang lain harus berbuat baik kepadanya. Jika dia membantu, orang lain harus membantunya. Jika dia menghormati, orang lain harus menghormatinya.

Jadi, banyak di antara kita berbuat baik bukan karena Allah, melainkan sebatas mengharapkan keuntungan yang sama-sama didapatkan di dunia.

Kita amanah dalam bekerja dengan harapan perusahaan juga akan bersikap royal kepada kita. Kita berbuat baik kepada tetangga dengan harapan tetangga tersebut akan membantu kita ketika sedang kesulitan. Kita baik kepada pasangan dengan harapan pasangan akan selalu memperlakukan kita sesuai keinginan kita.

Tidak ada Allah dalam niatnya. Tidak ada harapan terhadap pahala akhirat. Bahkan, kita berhenti berbuat baik ketika keuntungan dunia tersebut tidak didapatkan.

Padahal, tanda keikhlasan bukan hanya ketika kita mampu berbuat baik kepada orang yang memperlakukan kita dengan baik. Tanda keikhlasan yang sebenarnya mulai terlihat ketika kita tetap berbuat baik meskipun tidak dipuji, tidak dihargai, tidak dibalas, bahkan terkadang diperlakukan dengan buruk.

Bukan karena manusia tersebut layak mendapatkan kebaikan kita, melainkan karena kita mengharapkan keridaan dan balasan dari Allah.

July 25, 2026 (0)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *