Muqaddimah
Sering kali kita membaca surat ini, atau mendengarkan imam ketika shalat berjama’ah, namun hati kita lali dari dalamnya kandungan surat ini. Jika ditadabburi, surat ini membawa pesan yang luar biasa dan mengobati hati. Seseorang sering kali patah hati karena ujian hidup yang dia alami selama di dunia, di masa lampau maupun masa sekarang. Tentu bersedih itu bukan hal yang salah, bahkan Nabi ﷺ pernah bersedih. Namun jangan pernah hilang harapan, hilang tujuan, lalu mengorbankan akhirat yang begitu besar hanya karena tidak sabar di atas ujian.
وَٱلضُّحَىٰ ﴿١﴾
Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),
Allah bersumpah dengan makhluk-Nya, yaitu waktu dhuha. Waktu dhuha adalah waktu setelah terbit matahari hingga menjelang waktu Dzuhur. Untuk memudahkan menghitung: Syuruq + 15 menit adalah awal waktu dhuha. Dzuhur – 15 menit adalah akhirnya. Waktu terbaik untuk shalat dhuha adalah ketika punggung unta kepanasan. Bisa kita kira-kira kapan waktu tersebut datang. Mungkin jika di Indonesia sekitar jam 9-11.
وَٱلَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ﴿٢﴾
dan demi malam apabila telah sunyi,
Allah kembali bersumpah dengan makhluk-Nya, yaitu waktu malam. Di mana orang-orang sudah mulai beristirahat dari aktivitasnya.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ﴿٣﴾
Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu.
Ini yang paling menyentuh hati. Banyak sekali orang-orang yang merasa kesulitan dan menganggap bahwa Allah sedang membencinya, atau tidak peduli sama sekali dengannya. Padahal, hal tersebut juga dialami oleh Nabi ﷺ. Ujian hidup berupa kesulitan, kesedihan, dan kegelisahan adalah sunnatullah yang pasti datang, namun bersamaan itu Allah menjanjikan sesuatu yang sangat besar di dunia maupun di akhirat.
Ketika ujian hidup datang, teruslah berhusnudzan kepada Allah bahwa Allah menyayangi kita dan meyakini bahwa ujian yang datang adalah bentuk kasih sayang-Nya untuk menaikan derajat atau menghapus dosa-dosa.
وَلَلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌۭ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ ﴿٤﴾
Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.
Akhirat jauh segala-galanya dibanding kehidupan dunia. Rasulullah ﷺ menggambarkan perbandingan dunia akhirat adalah jari yang dicelupkan ke lautan, kemudian lihat berapa banyak air yang tersisa di jari tersebut setelah di angkat. Itulah kenikmatan dunia yang sedikit, dibanding air di lautan yang sangat banyak, itulah akhirat.
Ayat-ayat tentang luar biasanya surga sudah banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadist, seharusnya menjadi motivasi banyak orang untuk lebih bersabar terhadap ujian yang dihadapinya di dunia.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ ﴿٥﴾
Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.
Karunia yang Allah janjikan kepada Nabi ﷺ sangat luas. Di antara para mufassir ada yang memasukkan pertolongan dan kemenangan di dunia, kokohnya agama Islam, serta semakin banyaknya orang yang beriman. Adapun karunia Allah kepada beliau di akhirat jauh lebih besar, berupa berbagai kemuliaan dan kenikmatan yang Allah berikan hingga beliau merasa ridha.
Dalam perjalanan dakwahnya, Nabi ﷺ pernah dimusuhi, diancam, dihina, serta dituduh sebagai orang gila, penyihir, penyair, dan berbagai tuduhan lainnya. Beliau juga mengalami berbagai kehilangan dan kesulitan yang menyakitkan. Namun Allah kemudian menolong beliau, menguatkan agama-Nya, memperbanyak pengikutnya, dan meninggikan nama beliau. Bahkan setelah wafatnya, nama beliau terus disebut dan dimuliakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia.
Jika karunia Allah kepada Nabi ﷺ di dunia saja demikian besar, maka karunia yang telah Allah persiapkan untuk beliau di akhirat jauh lebih besar lagi. Inilah di antara makna janji Allah bahwa Dia akan terus memberikan kepada Nabi-Nya hingga beliau merasa ridha.
Begitu juga ujian yang berlaku pada kita sebagai hamba yang biasa, memiliki pola yang sama. Ujian yang datang akan lebih mendidik kita untuk mensyukuri nikmat yang telah ada dan juga menjadikan karunia yang akan datang lebih berharga. Seseorang diuji dengan kekurangan harta, kemudian di tahun berikutnya dia mendapat hadiah, maka kebahagiaannya sangat terasa dibanding orang-orang yang sudah bergelimang harta.
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًۭا فَـَٔاوَىٰ ﴿٦﴾
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?
Ketika Nabi ﷺ berada dalam kesedihan, Allah mengingatkan beliau kepada penjagaan-Nya sejak masa kecil. Nabi ﷺ lahir dalam keadaan telah kehilangan ayahnya. Ketika masih kecil, ibunya pun wafat. Namun Allah tidak membiarkan beliau terlantar; Allah memberinya tempat berlindung dan menghadirkan orang-orang yang merawat serta menjaganya. Beliau tumbuh hingga dewasa, kemudian Allah memilihnya menjadi seorang Nabi dan Rasul.
Ayat ini mengingatkan bahwa kesulitan yang sedang dialami bukan berarti Allah telah meninggalkan hamba-Nya. Terkadang, untuk menyadari penjagaan Allah hari ini, seseorang perlu melihat kembali perjalanan hidupnya: berapa banyak keadaan sulit yang pernah dilewati, tetapi Allah tetap membawanya sampai sejauh ini.
وَوَجَدَكَ ضَآلًّۭا فَهَدَىٰ ﴿٧﴾
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
Kebingungan Nabi ﷺ dalam ayat ini bukanlah kebodohan atau penyimpangan akhlak. Sebelum datangnya wahyu, beliau telah dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, dan berakhlak mulia, hingga masyarakat Makkah menjulukinya al-Amīn, orang yang terpercaya. Namun kemuliaan akhlak saja tidak membuat seseorang mengetahui rincian wahyu, syariat, dan jalan yang Allah kehendaki. Nabi ﷺ tidak mengetahui Al-Qur’an dan petunjuk agama secara terperinci hingga Allah membimbing beliau melalui wahyu.
Kemudian Allah memilih beliau untuk memikul amanah yang sangat besar: menyampaikan kebenaran kepada masyarakat yang sebelumnya menghormatinya, tetapi kemudian banyak di antara mereka justru memusuhi, menghina, dan menolak dakwahnya. Dari sini kita memahami bahwa manusia dapat memiliki akhlak yang baik dan niat yang tulus, tetapi tetap membutuhkan petunjuk Allah untuk mengetahui jalan yang benar dan bagaimana menjalaninya. Allah-lah yang membimbing Nabi ﷺ, mengajarkan apa yang sebelumnya tidak beliau ketahui, lalu menuntunnya dalam menjalankan risalah.
Kebingungan Nabi ﷺ bukanlah bentuk kebodohan, melainkan fitrah yang melekat kepada manusia. Bayangkan saja, beliau adalah orang yang dikenal baik oleh masyarakat Mekkah, digelari al-amin (orang yang terpercaya), jujur, berakhlak mulia, kemudian ditugaskan untuk menyampaikan agama yang dengan itu beliau dimusuhi. Tentu, semua orang akan bingung jika diberi amanah dimana dia merasa tidak tahu harus berbuat apa.
وَوَجَدَكَ عَآئِلًۭا فَأَغْنَىٰ ﴿٨﴾
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
Nabi ﷺ juga pernah berada dalam keadaan kekurangan. Namun Allah tidak membiarkan beliau terus berada dalam keadaan tersebut. Allah memberikan kecukupan, membukakan rezeki, dan mencukupkan kebutuhan beliau.
Ayat ini mengingatkan bahwa kekurangan yang kita rasakan hari ini bukan berarti Allah telah melupakan kita. Nabi ﷺ sendiri pernah mengalami keterbatasan, tetapi Allah mengubah keadaannya sedikit demi sedikit hingga beliau memperoleh kecukupan. Kecukupan itu pun tidak selalu berarti hidup bergelimang harta; yang terpenting adalah ketika Allah memberikan apa yang dibutuhkan, menjaga hati dari ketergantungan kepada manusia, dan menjadikan seorang hamba merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan.
فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ ﴿٩﴾
Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
Setelah mengingatkan Nabi ﷺ bahwa dahulu beliau adalah seorang yatim lalu Allah melindunginya, Allah kemudian memerintahkan agar beliau tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. Jangan merendahkan mereka, menghardik, menzalimi, atau mengambil hak mereka hanya karena mereka berada dalam keadaan lemah dan tidak memiliki orang tua yang membela.
Justru orang yang pernah merasakan kesulitan seharusnya lebih mampu memahami kesulitan orang lain. Nabi ﷺ pernah merasakan kehilangan ayah dan ibu sejak kecil, lalu Allah menghadirkan orang-orang yang merawat dan melindunginya. Maka nikmat itu tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi diwujudkan dengan berbuat baik, lembut, dan penuh kasih kepada anak yatim.
Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu bentuk syukur atas pertolongan Allah adalah menjadi jalan pertolongan bagi orang lain. Ketika Allah pernah menguatkan kita dalam kelemahan, jangan sampai ketika kita memiliki kekuatan justru menggunakannya untuk menekan orang yang lemah.
وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنْهَرْ ﴿١٠﴾
Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardiknya.
Hal ini mengandung pelajaran adab, ketika ada orang meminta-minta kita tidak boleh menghardiknya walaupun kita memberinya. Yang lebih buruk adalah menghardiknya namun tidak memberikan apapun. Pemberian yang disertai hardikan tidak mendapatkan pahala apapun, dan justru mendapat dosa. Bayangkan, sudah rugi secara materi, kita juga berdosa.
Jika memang kita berniat untuk tidak memberi, maka cukup katakan maaf tanpa menyakiti perasaan yang meminta-minta.
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ﴿١١﴾
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).
Maksud ayat ini adalah agar kita mengakui, mensyukuri, dan menyebut nikmat sebagai karunia dari Allah. Bukan berarti kerja keras, kegigihan, kecerdasan, dan usaha manusia tidak memiliki peran. Semua itu adalah sebab yang memang harus dilakukan. Namun kemampuan untuk berusaha, kesempatan yang terbuka, kemudahan yang diberikan, hingga hasil yang diperoleh, semuanya tetap berada dalam karunia dan ketetapan Allah.
Betapa banyak orang yang telah bekerja sangat keras tetapi memperoleh hasil yang sedikit. Sebaliknya, ada orang yang dengan usaha yang relatif lebih ringan mendapatkan hasil yang jauh lebih besar. Ini mengingatkan kita bahwa usaha adalah sebab, sedangkan keberhasilan bukan sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan manusia. Karena itu, nikmat tidak pantas disandarkan hanya kepada kehebatan diri sendiri.
Ketika berhasil dalam pekerjaan, usaha, atau pendidikan, seseorang dapat berkata:
“Alhamdulillah, Allah memberikan kemampuan kepada saya untuk belajar, memberikan kesempatan dan kemudahan, kemudian dengan pertolongan-Nya saya dapat menyelesaikan pendidikan ini. Saya memang berusaha, tetapi tanpa pertolongan Allah saya tidak akan mampu sampai sejauh ini.”
Berbeda dengan seseorang yang berkata dengan penuh kebanggaan terhadap dirinya, yang merupakan ciri-ciri orang yang ujub:
“Saya memang sejak dulu sangat rajin, selalu nurut, bekerja keras, selalu melakukan yang terbaik. Jadi wajar kalau sekarang saya berhasil.”
Masalahnya bukan pada menyebut usaha yang telah dilakukan. Kita boleh mengatakan bahwa kita belajar, bekerja keras, dan bersungguh-sungguh. Yang harus dijaga adalah hati agar tidak memandang keberhasilan sebagai hasil kehebatan diri semata. Ketika seseorang mulai kagum kepada dirinya sendiri dan melupakan bahwa seluruh kemampuan itu berasal dari Allah, di situlah ujub dapat tumbuh. Jika perasaan tersebut berkembang hingga membuatnya merasa lebih tinggi dan merendahkan orang lain, ia dapat menyeret kepada kesombongan.
Menyebut nikmat Allah sendiri merupakan sesuatu yang baik. Namun tujuan menyebutnya harus tetap dijaga. As-Sa‘di menjelaskan bahwa nikmat tertentu boleh disebutkan apabila terdapat maslahat di dalamnya; jika tidak, seseorang dapat menyebut nikmat Allah secara umum. Sebab menceritakan nikmat seharusnya menjadi bentuk syukur dan pujian kepada Allah, bukan kesempatan untuk mencari pujian manusia.
Karena itu, ada perbedaan besar antara berkata:
“Alhamdulillah, Allah memudahkan saya bangun malam dan bisa melaksanakan tahajud.”
dengan menceritakan hal yang sama karena ingin orang lain mengetahui betapa rajin ibadahnya. Kalimatnya mungkin serupa, tetapi tujuan hatinya bisa berbeda. Jika seseorang sengaja menampakkan amal agar dipuji dan dikagumi manusia, di situlah terdapat bahaya riya’.
Maka ketika menceritakan sebuah nikmat, tanyakan kepada diri sendiri: “Setelah mendengar cerita ini, apakah saya ingin orang semakin mengingat kebesaran Allah, atau justru ingin mereka semakin kagum kepada saya?”
Nikmat boleh diceritakan, tetapi pusat ceritanya tetap Allah, bukan diri kita. Usaha boleh disebutkan, tetapi hati tetap mengakui bahwa kemampuan untuk berusaha dan keberhasilan yang diperoleh adalah karunia-Nya.