Kalau Ingat Hisab Yakin Mau Serakah?

Di antara sifat manusiawi yang dirasakan hampir semua orang adalah sifat serakah, yaitu keinginan mendapatkan keuntungan duniawi sebanyak mungkin jika memang bisa. Ketika manusia mendapatkan sesuatu yang menurut orang lain sudah banyak, bisa jadi dia sendiri masih merasa bahwa itu sedikit. Ada orang memiliki penghasilan puluhan juta per bulan. Tentu jumlah tersebut termasuk besar untuk standar hidup di Indonesia, tetapi sebagian orang tetap merasa bahwa itu belum cukup.

Kalau bisa mendapatkan ratusan juta, mengapa harus puas dengan puluhan juta? Kalau bisa miliaran, mengapa harus berhenti pada ratusan juta? Kalau bisa triliunan, mengapa harus merasa cukup dengan miliaran? Begitu seterusnya. Keinginan manusia dapat terus membesar tanpa batas, kecuali orang yang dikaruniai sifat qanaah oleh Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, niscaya dia akan menginginkan lembah yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.”

(HR. Muslim no. 1048)

Hadis ini menggambarkan bahwa masalahnya bukan sekadar berapa banyak harta yang dimiliki. Orang yang tidak memiliki sifat qanaah akan tetap merasa kekurangan, meskipun hartanya telah bertambah berkali-kali lipat. Sementara orang yang qanaah dapat merasakan kecukupan, walaupun hartanya tidak terlalu banyak. Karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupinya, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang telah diberikan kepadanya.”

(HR. Muslim no. 1054)

Tidak sedikit manusia yang ingin terlihat lebih unggul daripada orang lain. Bahkan, ketika dia sudah berada di atas banyak orang, dia masih ingin mengungguli orang-orang lain yang juga berada di atas. Harta akhirnya bukan lagi sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan, tetapi berubah menjadi alat untuk berbangga-bangga dan menunjukkan kedudukan.

Allah berfirman:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan….”

(QS. Al-Hadid: 20)

Allah juga berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

(QS. At-Takatsur: 1–2)

Sifat serakah dapat muncul dengan sendirinya dan akan terus menjadi liar apabila tidak dikendalikan. Inilah salah satu alasan mengapa ada orang yang melakukan korupsi, kemudian menumpuk hartanya di tempat-tempat rahasia, menyembunyikannya melalui berbagai rekening, atau memindahkannya ke luar negeri. Jika dihitung-hitung, harta itu sebenarnya lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan yang sangat nyaman sampai dia meninggal dunia.

Namun, ketika sifat serakah telah mendominasi hati, seseorang dapat terus melakukan kejahatan hanya untuk memuaskan keinginannya. Dia tidak lagi memikirkan apakah tambahan harta tersebut benar-benar mendatangkan kebahagiaan atau justru menjadi petaka pada hari kiamat. Padahal Allah telah menggambarkan salah satu tabiat manusia:

“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”

(QS. Al-Fajr: 20)

Sebagai orang yang beriman, tentu kita harus berusaha mengendalikan diri agar tidak dikuasai oleh sifat serakah yang membinasakan. Sebab, semakin banyak harta yang dimiliki seseorang, semakin besar pula amanah yang harus dijaga dan semakin panjang perkara yang harus dipertanggungjawabkan.

Di antara cara paling kuat untuk mengendalikan sifat serakah adalah dengan mengingat hisab, yaitu ketika seluruh amal perbuatan disebutkan, dipertanyakan, dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah dia kerjakan dengannya; tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya dan untuk apa dia membelanjakannya; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.”

(HR. At-Tirmidzi no. 2417)

Perhatikanlah bahwa pertanyaan tentang harta datang dari dua arah sekaligus: dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa harta itu dibelanjakan. Dengan demikian, seseorang belum tentu selamat hanya karena dia memiliki banyak harta. Bahkan, dia juga belum tentu selamat hanya karena hartanya berasal dari sumber yang halal. Setelah ditanya mengenai sumbernya, dia masih akan ditanya mengenai penggunaannya.

Coba sekali-kali perhatikan berita tentang seorang pencuri atau koruptor yang sedang diinterogasi oleh polisi. Dia ditanya dari mana harta itu diperoleh, kepada siapa diberikan, di mana disimpan, dan untuk apa digunakan. Dia menjawab dengan ketakutan. Terkadang dia berusaha berbohong, menghilangkan bukti, menyembunyikan rekening, atau mengalihkan hartanya kepada orang lain demi menghindari hukuman.

Kelak pada hari kiamat, manusia juga akan ditanya mengenai hartanya. Namun, di hadapan Allah tidak ada rekening rahasia, tempat persembunyian, dokumen palsu, ataupun transaksi yang dapat disembunyikan. Tidak ada satu rupiah pun yang luput dari pengetahuan-Nya.

Tentu, ini bukan berarti setiap rupiah dari harta halal yang tidak disedekahkan otomatis menjadi dosa. Seseorang diperbolehkan menyimpan harta, memenuhi kebutuhan hidup, menafkahi keluarganya, menyiapkan tempat tinggal, menjaga masa depannya, dan menikmati perkara-perkara halal. Akan tetapi, harta halal pun dapat berubah menjadi masalah apabila kewajiban yang berkaitan dengannya tidak ditunaikan, digunakan untuk kesombongan, dibelanjakan secara berlebih-lebihan, dipakai untuk bermaksiat, atau menyebabkan pemiliknya lalai dari Allah.

Bayangkan seseorang sudah bekerja keras siang dan malam, mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, dan kesehatannya untuk menumpuk harta. Harta tersebut memang diperoleh dengan cara yang halal. Namun, ketika dihisab oleh Allah, ternyata banyak yang dibelanjakan hanya untuk menyombongkan diri, memamerkan kemewahan, bersaing dengan orang lain, atau membeli sesuatu secara berlebih-lebihan. Lebih mengerikan lagi apabila sebagian harta itu digunakan untuk maksiat.

Akhirnya, harta yang dahulu dibanggakan justru berubah menjadi beban yang memberatkan. Orang tersebut telah bersusah payah mencarinya di dunia, tetapi dia juga harus bersusah payah mempertanggungjawabkannya di akhirat. Jadi, yang menjadi masalah bukan hanya asal-muasal harta, tetapi juga ke mana harta tersebut dikeluarkan.

Mengingat hisab bukan berarti seorang muslim dilarang menjadi kaya. Islam tidak melarang seseorang memiliki harta yang banyak. Harta pada dasarnya merupakan salah satu perhiasan kehidupan dunia. Allah berfirman:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

(QS. Al-Kahfi: 46)

Memiliki harta yang melimpah memang menjadi impian banyak orang. Dengan harta tersebut, sebagian kebutuhan hidup menjadi lebih mudah dipenuhi. Seseorang dapat memiliki tempat tinggal yang nyaman, menjaga keluarganya dari meminta-minta, membantu orang tua, memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya, serta menyelesaikan sebagian persoalan yang sulit diselesaikan tanpa harta.

Namun, seorang mukmin tidak boleh hanya memikirkan kenikmatan harta dan melupakan amanahnya. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar kesempatan untuk berbuat baik, tetapi semakin besar pula pertanggungjawabannya. Karena itu, Allah berfirman:

“Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”

(QS. Al-Qashash: 77)

Apabila seseorang memiliki harta yang banyak, harta itu dapat menjadi kebaikan bagi anak-anak yatim, orang-orang miskin, para penuntut ilmu, pembangunan masjid, penyebaran dakwah, pengobatan orang sakit, pelunasan utang orang yang kesulitan, serta berbagai amal kebajikan lainnya.

Dengan demikian, harta bukan hanya menjadi sesuatu yang dinikmati oleh pemiliknya, tetapi juga menjadi jalan agar banyak orang mendapatkan manfaat. Ketika harta digunakan dengan benar, ditunaikan zakatnya, dijaga dari yang haram, dan dibelanjakan untuk perkara yang diridai Allah, maka harta tersebut diharapkan menjadi saksi yang membela pemiliknya pada hari kiamat, bukan menjadi beban yang memberatkannya.

Masalahnya bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta. Masalahnya adalah apakah harta itu berada di tangan atau justru menguasai hati. Orang yang hartanya berada di tangan dapat menggunakannya sesuai perintah Allah. Adapun orang yang hartanya telah menguasai hati akan terus mengejarnya, sekalipun harus mengorbankan agama, kehormatan, keluarga, bahkan keselamatannya di akhirat.

Karena itu, mintalah kepada Allah bukan hanya agar diberikan rezeki yang banyak, tetapi juga hati yang qanaah, kemampuan untuk mensyukurinya, dan kekuatan untuk menggunakannya di jalan yang benar. Sebab, banyaknya harta tanpa qanaah hanya akan menambah rasa haus, sedangkan harta yang disertai iman dan amanah dapat berubah menjadi bekal yang sangat besar menuju akhirat.

July 15, 2026 (0)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *