Setiap orang memiliki ujian hidup tersendiri dan pastinya berbeda-beda.
Ada yang diuji dengan orang tuanya.
Ada yang diuji dengan suaminya yang kasar, atau istrinya yang tidak taat.
Ada yang diuji dengan tidak kunjung mendapat pasangan.
Ada yang diuji dengan tidak kunjung mendapat keturunan.
Ada juga diuji soal karir, yaitu tidak kunjung mendapat pekerjaan sehingga masa depan terlihat suram.
Itu hanya sebagian ujian yang disebutkan, realitanya jauh lebih banyak daripada itu.
Semua ujian yang diterima oleh orang-orang bisa menimbulkan depresi, yaitu hilangnya minat terhadap suatu aktivitas. Seseorang yang depresi kemungkinan melihat masa lalu sangat menyakitkan, dan masa depan tidak begitu jelas. Akhirnya, terkadang melakukan aktivitas sudah sangat hambar dan tidak ada minat untuk mengejar sesuatu yang membuatnya bahagia.
Namun jika dikaitkan dengan iman, apakah ada kaitannya depresi dengan kurangnya iman? Jawabannya ya!
Ketika keyakinan seseorang semakin besar terhadap adanya akhirat, adanya pahala yang melimpah di balik ujian, adanya harapan untuk masuk surga, maka dia bisa ‘survive’ atau bertahan hidup. Dia menyadari kehidupan dunia hanyalah sebentar dan kehidupan yang kekal adalah di surga. Analoginya sederhana, seorang ibu merasakan betapa menderitanya ketika ia hamil. Mual-mual, tidur tidak nyaman, berjalan tidak nyaman, namun ada harapan dimana akan hadir bayi yang akan membuatnya tersenyum. Inilah analogi sederhana bahwa penderitaan diiringi harapan bisa menambah kekuatan bagi seseorang.
Berbeda dengan orang yang kurang memiliki harapan terhadap akhirat, dia akan cenderung berpikir bahwa kehidupan dunia adalah segala-galanya. Jika hidupnya tidak sesuai dengan standar hidup orang lain yang dia nilai jauh lebih baik, maka disitulah percikan depresi muncul. Dia akan sering membanding-bandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain dan tidak fokus mengejar akhirat.
Ingat, depresi bukan tanda kurang shalat, kurang puasa, kurang baca quran. Seseorang kadang sudah melakukan semuanya, tetapi tetap dadanya sesak dengan peliknya kehidupan dunia. Maka, jika seseorang bisa masih berdiri, berjalan, dan menjalankan kewajibannya sebagai hamba, bersyukurlah karena Allah menjanjikan sesuatu yang sangat besar setelah itu.