Muqaddimah

Surat Al-Baqarah dibuka dengan penjelasan yang sangat kuat tentang kedudukan Al-Qur’an sebagai petunjuk yang tidak diragukan kebenarannya. Kemudian Allah memperlihatkan bagaimana manusia bersikap ketika berhadapan dengan petunjuk tersebut. Ada orang-orang bertakwa yang menerima kebenaran dengan iman, ketundukan, dan amal. Ada pula orang-orang kafir yang menolaknya dengan keras. Di antara keduanya terdapat golongan yang lebih rumit, yaitu orang-orang munafik: mereka menampakkan keimanan, tetapi menyembunyikan penolakan di dalam hati.

Pada ayat-ayat awal ini, Al-Qur’an bukan hanya menjelaskan siapa yang beriman dan siapa yang menolak, tetapi juga membongkar keadaan batin manusia dengan sangat mendalam. Keraguan, kesombongan, kepentingan dunia, rasa takut, sikap mencari keuntungan, hingga kebiasaan membenarkan diri sendiri digambarkan dengan perumpamaan-perumpamaan yang begitu hidup. Seakan-akan kita diajak melihat langsung apa yang terjadi di dalam hati seseorang ketika cahaya kebenaran datang kepadanya.

Karena itu, Al-Baqarah ayat 1–20 bukan hanya berbicara tentang tiga golongan manusia, tetapi juga menjadi cermin bagi setiap orang yang membacanya. Pertanyaannya bukan sekadar, “Termasuk golongan manakah mereka?” tetapi juga, “Bagaimana sikap hati kita ketika kebenaran datang kepada kita?”

الٓمٓ ﴿١﴾

Alif Lām Mīm.

Ini adalah huruf muqhatha’ah (huruf yang terputus). Biasanya, huruf muqatha’ah tidak memiliki makna yang jelas dalam bahasa Arab, biasanya ulama mengatakan “Allah lebih tahu maksudnya”.

Mengapa Allah memulainya dengan huruf muqhata’ah? Sebenarnya ini adalah tantangan kepada orang-orang kafir yang mendengarkan Al-Qur’an, seolah-olah Allah berkata, “Wahai orang kafir, Al-Qur’an ini dibawa dengan huruf-huruf yang kalian kenali seperti alif, lam, mim, qaf, shad, dll.” Ini adalah tantangan kepada mereka, mampukah mereka membuat yang semisal Al-Qur’an? Biasanya setelah huruf muqhata’ah diikuti dengan “Itulah Al-Qur’an”. Contohnya di surat Al-Baqarah ini.

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾

Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

Menunjukkan bahwa untuk mendapatkan petunjuk atau hidayah seseorang harus memulainya dengan ketakwaan. Yaitu berusaha menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Semakin banyak seseorang melanggar perintah dan larangan maka semakin jauh dari petunjuk.

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾

(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,

Itu adalah ciri-ciri orang bertakwa, mereka beriman kepada yang ghaib (tidak terlihat) dan menjalankan apa yang Allah perintahkan.

وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ﴿٤﴾

dan mereka beriman kepada (Al-Qur`an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.

Itu adalah ciri-ciri orang yang bertakwa selanjutnya, mereka beriman kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya.

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٥﴾

Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Semakin besar ketakwaan seseorang maka semakin besar pula petunjuk yang mereka dapatkan. Semakin banyak kemaksiatan seseorang maka semakin jauh pula mereka dari petunjuk.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿٦﴾

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

Mereka mendengar Al-Qur’an, mendengar penjelasan dari Nabi Muhammad ﷺ, namun mereka tetap tidak beriman. Sungguh mengherankan bukan? Seharusnya ketika seseorang melihat mukjizat yang besar dan agungnya akhlak Nabi, sudah sangat cukup untuk membuat mereka beriman. Penyebabnya adalah setelah ayat ini.

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿٧﴾

Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.

Allah tidak serta-merta menutup hati seseorang selama dia masih memiliki keinginan untuk mencari dan tunduk kepada kebenaran. Hati itu dikunci karena masih ada hawa nafsu yang tidak ingin ditinggalkan, syubhat dan keraguan yang terus dipelihara, tanpa usaha untuk menghilangkannya dan tanpa usaha yang sungguh-sungguh untuk menuju kebenaran. Lama-kelamaan, hati tersebut mengeras hingga akhirnya tidak lagi mampu menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu seterang matahari di siang bolong.

Seseorang mungkin pada awalnya masih memiliki keraguan tentang kebenaran Islam. Namun, sikap dan usaha dalam hatinya sangat menentukan hasil akhirnya. Usaha dan keikhlasan itulah yang mengundang hidayah. Jika seseorang ragu terhadap kebenaran Islam, lalu justru sibuk mencari kelemahannya dan mengabaikan kebenaran yang sebenarnya telah dia pahami, maka bisa jadi Allah akan mengunci hatinya.

Polanya kurang lebih seperti ini: Nabi Muhammad memiliki akhlak yang agung dan tidak pernah berdusta → Al-Qur’an tidak mampu ditiru oleh orang-orang kafir Quraisy, padahal mereka adalah pakar bahasa Arab → kebijaksanaan ajaran Islam pun terlihat sangat jelas. Seharusnya, ketika berhadapan dengan tanda-tanda sebesar itu, seseorang terlebih dahulu mengakuinya dan berusaha tunduk kepada kebenaran. Jika kemudian masih ada sesuatu yang belum jelas, dia mencari lagi penjelasannya dengan sungguh-sungguh.

Namun, sebagian orang justru berpaling ketika melihat tanda-tanda tersebut. Mereka berkata dalam hati, “Ah, mungkin saja Muhammad berbohong. Mungkin saja itu hanya sihir yang dipelajari. Kebijaksanaan juga bisa berasal dari hati manusia.” Setelah itu, mereka terus mencari-cari kemungkinan semacam itu dan mengikutinya, padahal mereka tidak memiliki bukti. Lama-kelamaan, Allah mengunci hati mereka dari kebenaran.

Biasanya, yang membuat seseorang enggan tunduk kepada kebenaran adalah karena kebenaran tersebut mengekang hawa nafsunya. Bisa berupa fanatisme suku, kenikmatan dunia yang tidak ingin ditinggalkan, gila kehormatan, dan hal-hal lain yang membuatnya lebih memilih mempertahankan keinginannya daripada tunduk kepada kebenaran.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ ﴿٨﴾

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

Mereka adalah orang-orang munafik di Kota Madinah. Mereka mengaku beriman karena melihat banyak penduduk Madinah beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ. Namun, hati mereka sebenarnya masih berada dalam kekufuran. Pengakuan iman itu bukan lahir dari keyakinan yang tulus, melainkan agar mereka tetap diterima oleh masyarakat Madinah dan tidak ditinggalkan atau dikucilkan oleh kaum Muslimin.

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾

Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.

Maksudnya mereka mengira menjadi Islam cukup amalan lahiriyah saja yang bisa dilihat oleh orang-orang beriman, padahal Allah tetap melihatnya sebagai kekufuran dan kelak Allah akan membongkar kedok mereka.

فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ ﴿١٠﴾

Dalam hati mereka terdapat penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.

Sudah dijelaskan pada ayat ke-tujuh bahwa penyakit itu berupa keraguan dan syubhat yang terus dipelihara tanpa adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk mencari dan tunduk kepada kebenaran. Karena itu, ketika kita memiliki keraguan, jangan justru mencari jawaban dari orang-orang yang hanya akan menambah dan memelihara keraguan tersebut. Carilah orang-orang yang terpercaya dan mampu membimbing kita menuju kebenaran.

Ketika kebenaran sudah terlihat, maka ikutilah kebenaran itu tanpa terus-menerus menunda. Jangan sampai seseorang berkata, “Memang benar, tetapi siapa tahu nanti ternyata salah,” lalu dia sibuk mencari-cari kesalahan dari sesuatu yang sebenarnya sudah jelas baginya.

Masalahnya menjadi semakin berat ketika seseorang bersikap tidak seimbang: saat menemukan kebenaran, dia menunda untuk menerimanya; tetapi ketika menemukan sesuatu yang menurutnya salah, dia justru segera mengikutinya. Dia terus mencari-cari celah yang dapat menguatkan keraguannya, sementara bukti-bukti kebenaran yang telah dia pahami justru diabaikan.

Inilah salah satu bentuk penyakit hati yang terus dipelihara. Jika sikap seperti ini dibiarkan, maka penyakit tersebut dapat semakin bertambah hingga hati semakin sulit menerima kebenaran.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴿١١﴾

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”

Mereka, yaitu orang-orang munafik, mengaku bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah untuk “ishlah” dan memperbaiki hubungan antara kaum Muslimin dan pihak lain. Padahal di balik sikap tersebut, mereka menyembunyikan kekufuran, menipu kaum mukminin, dan berloyalitas kepada orang-orang kafir. Karena itu, Allah menegaskan bahwa apa yang mereka anggap sebagai perbaikan justru merupakan kerusakan.

أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ ﴿١٢﴾

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.

Mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah bentuk perbaikan, padahal sebenarnya itulah kerusakan. Mereka menampakkan keimanan di hadapan kaum Muslimin, tetapi di sisi lain tetap menjaga hubungan dan loyalitas dengan orang-orang kafir. Mereka menganggap sikap seperti itu sebagai jalan tengah, kebijaksanaan, atau ishlah, padahal justru merusak agama dan kaum Muslimin. Yang paling berbahaya adalah mereka tidak menyadari bahwa perbuatan tersebut merupakan kerusakan, karena keburukan sudah terlihat seperti kebaikan di mata mereka.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُ ۗ أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ ﴿١٣﴾

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain yang telah beriman!” Mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu.

Ketika orang-orang munafik diperintahkan untuk beriman sebagaimana para sahabat beriman, mereka justru menganggap para sahabat sebagai orang-orang bodoh dan kurang akal. Menurut mereka, meninggalkan kepentingan dunia, berkorban untuk agama, dan memusuhi kekufuran adalah tindakan yang tidak masuk akal. Mereka merasa bahwa merekalah orang-orang yang lebih cerdas karena bisa mengambil keuntungan dari kedua belah pihak. Padahal Allah membalik anggapan tersebut: justru merekalah orang-orang yang kurang akal, karena mereka memilih sesuatu yang merugikan diri mereka sendiri dan meninggalkan sesuatu yang membawa keselamatan. Yang lebih parah, mereka tidak menyadari kebodohan tersebut dan justru merasa bahwa pilihan mereka adalah pilihan yang paling cerdas.

وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ ﴿١٤﴾

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”

Inilah sifat dua muka orang-orang munafik. Ketika berada di hadapan orang-orang beriman, mereka menampakkan diri seolah-olah termasuk orang yang paling beriman. Namun, ketika kembali kepada orang-orang kafir, mereka berkata, “Sesungguhnya kami tetap bersama kalian. Kami hanya menipu dan mengolok-olok orang-orang beriman.”

ٱللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِى طُغْيَٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ ﴿١٥﴾

Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

Allah membalas olok-olok mereka dengan membiarkan mereka merasa aman dan mengira tipu daya mereka berhasil. Di akhirat, mereka sempat diberi cahaya bersama kaum mukminin, lalu cahaya itu dipadamkan hingga mereka berada dalam kegelapan. Mereka kemudian dipisahkan dari orang-orang beriman dan ditinggalkan dalam azab. Inilah balasan yang setimpal: dahulu mereka menampakkan keimanan yang palsu, maka di akhirat mereka pun diperlihatkan seolah-olah akan selamat, lalu harapan itu dicabut dari mereka.

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشْتَرَوُا۟ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمْ وَمَا كَانُوا۟ مُهْتَدِينَ ﴿١٦﴾

Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.

Maksudnya, petunjuk telah datang dan tampak jelas di hadapan mereka, tetapi mereka justru meninggalkannya dan memilih kesesatan serta kekufuran. Mereka mengetahui ajaran yang dibawa Nabi ﷺ dan telah melihat tanda-tanda kebenarannya, namun mereka tidak mau tunduk dan mengikutinya. Karena itu, Allah mengibaratkan mereka seperti orang yang menukar sesuatu yang sangat berharga dengan sesuatu yang buruk dan merugikan.

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَآءَتْ مَا حَوْلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِى ظُلُمَٰتٍ لَّا يُبْصِرُونَ ﴿١٧﴾

Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Ini merupakan salah satu keindahan bahasa Al-Qur’an dan perumpamaan yang sangat agung. Keadaan orang-orang munafik diibaratkan seperti seseorang yang menyalakan api di tengah kegelapan. Ketika api itu menyala, cahaya menerangi sekelilingnya sehingga dia dapat melihat jalan dan keadaan di sekitarnya. Demikian pula orang-orang munafik: petunjuk telah datang kepada mereka melalui Nabi ﷺ dan kaum mukminin, sehingga cahaya kebenaran berada di hadapan mereka dan menunjukkan jalan menuju keselamatan.

Namun, ketika mereka justru memilih kemunafikan, keraguan, dan kekufuran, Allah melenyapkan cahaya tersebut. Bayangkan seseorang yang sebelumnya berada dalam kegelapan, kemudian berhasil menyalakan api hingga sekelilingnya menjadi terang, tetapi tiba-tiba cahaya itu padam dan dia kembali berada dalam kegelapan yang pekat. Begitulah keadaan mereka. Cahaya yang seharusnya dapat membimbing mereka menuju kebenaran tidak lagi bermanfaat bagi mereka, sedangkan yang tersisa adalah kegelapan keraguan, kekufuran, dan kemunafikan. Semua itu terjadi karena mereka sendiri memilih kesesatan dan terus memelihara penyakit dalam hati mereka.

Maka, bagi kita, ketika telah menyalakan api di tengah kegelapan, peliharalah api itu agar tidak padam. Tambahkan bahan bakarnya, lindungi dari angin, dan jauhi segala sesuatu yang dapat mematikannya. Demikian pula dengan keimanan. Ia harus terus dijaga dengan ketundukan dan ketaatan kepada Allah, menambah ilmu, mengendalikan hawa nafsu, serta melindungi hati dari syubhat dan segala sesuatu yang dapat melemahkan iman. Jangan sampai cahaya yang telah Allah berikan justru padam karena kita sendiri tidak menjaganya.

صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿١٨﴾

Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.

Maksudnya karena perbuatan mereka sebelumnya menyebabkan mereka tidak bisa menerima kebenaran lagi.

أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَٰتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَٰبِعَهُمْ فِىٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلْمَوْتِ ۚ وَٱللَّهُ مُحِيطٌۢ بِٱلْكَٰفِرِينَ ﴿١٩﴾

Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Ini juga merupakan perumpamaan yang sangat agung. Hujan pada asalnya membawa begitu banyak manfaat: menghidupkan tanah, menumbuhkan tanaman, menyuburkan pertanian, dan menyediakan air bagi manusia. Namun, hujan juga dapat disertai kegelapan, gemuruh petir, dan kilat yang menakutkan.

Demikian pula wahyu dan ajaran Islam. Di dalamnya terdapat petunjuk yang menghidupkan hati, memperbaiki kehidupan manusia, dan membimbing mereka menuju keselamatan serta surga. Namun, di dalamnya juga terdapat perintah, larangan, peringatan, dan ancaman yang terasa berat bagi orang yang tidak mau tunduk.

Inilah keadaan orang-orang munafik. Mereka tidak menerima Islam dengan ketundukan yang utuh, tetapi hanya mengambil bagian yang sesuai dengan kepentingan dan keinginan mereka. Ketika Islam membawa sesuatu yang menguntungkan atau menyenangkan bagi mereka, mereka berjalan bersamanya. Namun, ketika datang perintah yang berat, larangan yang membatasi hawa nafsu, atau ancaman yang menakutkan, mereka berhenti dan berpaling. Mereka berusaha menghindari hal-hal yang tidak ingin mereka dengar, sebagaimana seseorang menutup telinganya karena takut mendengar dahsyatnya gemuruh petir.

Mereka seperti orang yang berada di tengah hujan lebat: ketika kilat memberikan cahaya, mereka berjalan; tetapi ketika keadaan kembali gelap, mereka berhenti. Iman mereka tidak berdiri di atas ketundukan kepada kebenaran, tetapi mengikuti keadaan dan keuntungan yang mereka rasakan.

يَكَادُ ٱلْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَٰرَهُمْ ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوْا۟ فِيهِ وَإِذَآ أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا۟ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَٰرِهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ ﴿٢٠﴾

Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kilatan cahaya petir dapat menerangi jalan di tengah kegelapan. Begitulah keadaan orang-orang munafik. Ketika kebenaran tampak jelas dan Islam memberikan sesuatu yang sesuai dengan keinginan mereka, mereka berjalan mengikutinya. Namun, ketika datang sesuatu yang berat bagi hawa nafsu mereka atau muncul keraguan dalam hati, mereka berhenti dan kembali berada dalam kebingungan. Mereka tidak berjalan di atas keimanan yang kokoh, tetapi bergerak mengikuti keadaan: maju ketika terasa menguntungkan dan berhenti ketika terasa berat.