Saya pernah mendapatkan sebuah pertanyaan yang menurut saya sangat berat. Toh saya bukan seorang alim yang mampu menjawab persoalan seperti ini secara mendalam.
Awalnya pertanyaan tersebut berusaha saya hindari. Saya pikir, daripada memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuan, lebih baik dilupakan saja. Namun anehnya, semakin berusaha dilupakan, semakin besar keinginan untuk mencari tahu jawabannya.
Saya kemudian membaca beberapa penjelasan ulama dan memperhatikan kembali dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Alhamdulillah, pertanyaan yang awalnya terasa mengganggu justru menjadi jalan untuk melihat betapa luasnya keadilan dan kebijaksanaan Allah.
Apa pertanyaannya?
Kurang lebih seperti ini.
Bayangkan ada dua orang: Si A dan Si B.
Si A lahir di tengah keluarga yang shalih. Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan agama yang baik. Orang tuanya memperhatikan shalatnya, menjaga pergaulannya, mencukupi kebutuhannya, dan membimbingnya setiap kali melakukan kesalahan.
Rumahnya harmonis. Agama menjadi sesuatu yang biasa dibicarakan. Shalat lima waktu sudah dibiasakan sejak kecil. Ketika beranjak dewasa, ketaatan tidak terasa begitu asing baginya. Bahkan sebagian kemaksiatan terasa menjijikkan sebelum ia sempat mencobanya.
Sekarang lihat Si B.
Si B lahir dari keluarga yang berantakan. Shalat sering ditinggalkan di rumahnya. Pendidikan agama hampir tidak ada. Sejak kecil ia melihat berbagai kemaksiatan sebagai sesuatu yang biasa. Lingkungannya buruk, keluarganya tidak membimbing, dan mungkin untuk sekadar bertahan hidup ia terbiasa melihat orang-orang di sekelilingnya mengambil jalan yang haram.
Ketika Si B akhirnya mengenal agama, perjuangannya baru dimulai.
Ia tidak hanya harus mempelajari kebenaran, tetapi juga harus membongkar kebiasaan yang telah tertanam selama bertahun-tahun. Ia harus melawan lingkungan, hawa nafsu, pengalaman masa lalu, bahkan mungkin luka psikologis yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Maka muncullah pertanyaan yang sulit:
Bukankah Si A seolah mendapatkan privilege untuk menuju surga?
Jalan di hadapannya seperti sudah diaspal sejak kecil.
Sedangkan Si B harus berjalan melalui jalan berbatu, menanjak, licin, dan di kanan kirinya terdapat jurang yang setiap saat dapat membuatnya tergelincir.
Keduanya memang tetap memiliki pilihan.
Tetapi bukankah tingkat kesulitan dalam menggunakan pilihan tersebut sangat berbeda?
Lalu, di mana letak keadilan Allah?
Kesalahan pertama kita: mengira privilege hanya dimiliki Si A
Secara zahir memang Si A mendapatkan nikmat yang sangat besar.
Memiliki orang tua shalih adalah nikmat.
Mendapatkan pendidikan agama sejak kecil adalah nikmat.
Terbiasa shalat adalah nikmat.
Tidak pernah mengenal sebagian dosa adalah nikmat.
Tetapi ada sesuatu yang sering tidak kita lihat:
jalan hidup Si B juga membuka pintu-pintu keutamaan yang tidak dialami Si A dalam bentuk yang sama.
Bukan berarti keluarga yang rusak adalah nikmat.
Bukan berarti dosa adalah privilege.
Dan bukan berarti seseorang perlu mengalami kemaksiatan agar menjadi lebih mulia.
Sama sekali bukan.
Maksudnya adalah: ketika Allah menakdirkan seseorang berada dalam keadaan yang sulit, kemudian ia berusaha kembali kepada-Nya, kesulitan yang harus ia lawan tidak hilang begitu saja dari penilaian Allah.
Allah berfirman:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Perhatikan: Allah tidak hanya mengetahui hasil akhirnya.
Allah mengetahui usahanya.
Di sinilah persoalannya mulai terlihat berbeda.
1. Amal yang sama secara zahir belum tentu sama nilainya
Bayangkan Si A dan Si B sama-sama bangun untuk shalat Subuh.
Bagi Si A, bangun Subuh sudah menjadi kebiasaan sejak umur tujuh tahun. Ayahnya dahulu membangunkannya. Lingkungan rumahnya hidup dengan shalat. Setelah dewasa, tubuh dan pikirannya telah terbiasa.
Si B berbeda.
Selama dua puluh tahun ia terbiasa tidur tanpa mempedulikan azan. Tidak ada yang membangunkannya. Tidak pernah ada budaya shalat di rumahnya. Ketika akhirnya mendapatkan hidayah, setiap Subuh menjadi peperangan kecil melawan dirinya sendiri.
Keduanya kemudian berdiri di masjid pada rakaat yang sama.
Dari luar kita melihat dua orang sedang shalat.
Tetapi kita tidak mengetahui peperangan yang terjadi sebelum keduanya mengucapkan:
الله أكبر
Karena itu kita tidak boleh memastikan bahwa shalat Si A lebih tinggi hanya karena keseluruhan amalnya tampak lebih banyak. Sebaliknya, kita juga tidak boleh memastikan shalat Si B pasti lebih tinggi.
Yang dapat kita katakan adalah:
Allah mengetahui kadar perjuangan yang tidak terlihat oleh manusia.
Allah berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”
(QS. At-Taghabun: 16)
As-Sa’di menjelaskan bahwa perintah tersebut dikaitkan dengan kemampuan seseorang.
Jadi penilaian Allah bukanlah penilaian buta yang hanya menghitung berapa banyak gerakan yang dilakukan seorang manusia.
Ada kemampuan.
Ada perjuangan.
Ada niat.
Ada kesempatan.
Ada hambatan.
Dan semuanya diketahui oleh Allah.
2. Si B memiliki pintu besar bernama taubat
Si A mungkin mendapatkan kemuliaan karena dijaga Allah sejak kecil dari banyak dosa.
Itu nikmat yang luar biasa.
Tetapi ketika Si B pernah tenggelam dalam kemaksiatan kemudian benar-benar kembali kepada Allah, ia mengenal sebuah ibadah yang mungkin dirasakannya dengan sangat dalam:
taubat.
Ia mengetahui bagaimana rasanya jauh.
Ia mengetahui bagaimana pahitnya dosa.
Ia mengetahui bagaimana rasanya menyesal.
Ia mengetahui bagaimana rasanya datang kepada Allah dalam keadaan tidak membawa kebanggaan apa-apa.
Orang seperti ini dapat datang kepada Allah bukan dengan perasaan:
“Aku orang baik.”
Tetapi dengan hati:
“Ya Allah, kalau bukan karena rahmat-Mu, aku tidak memiliki apa-apa.”
Tentunya ini tidak berarti setiap mantan pelaku maksiat otomatis lebih tawadhu. Seorang pendosa masih bisa ujub, sebagaimana seorang yang sejak kecil shalih juga dapat memiliki kerendahan hati yang luar biasa.
Namun pengalaman jatuh lalu kembali kepada Allah dapat menjadi pintu yang sangat besar menuju rasa fakir, penyesalan, takut, harap, dan ketergantungan kepada Allah.
Karena itu masa lalu yang buruk tidak harus menjadi akhir cerita seseorang.
Yang menentukan adalah bagaimana ia kembali.
3. Si B memiliki kesempatan melakukan perjuangan yang tidak perlu dilakukan Si A
Ada orang yang tidak pernah tertarik kepada suatu maksiat.
Meninggalkannya mudah.
Ada orang lain yang telah kecanduan maksiat itu selama bertahun-tahun, kemudian suatu hari ia mengetahui bahwa Allah mengharamkannya.
Ia ingin meninggalkannya.
Hari pertama gagal.
Ia bertaubat.
Beberapa minggu kemudian jatuh lagi.
Ia bangkit lagi.
Ia menangis.
Ia mencoba lagi.
Begitu berulang kali sampai akhirnya ia berhasil meninggalkannya.
Apakah kita mengira seluruh peperangan itu tidak memiliki nilai di sisi Allah?
Nabi ﷺ memberi kita satu contoh yang sangat menarik dalam perkara membaca Al-Qur’an. Orang yang mahir membaca Al-Qur’an memiliki kedudukan yang besar. Tetapi orang yang membacanya terbata-bata dan merasa kesulitan juga mendapatkan dua pahala.
Kesulitannya bukan sesuatu yang dicari.
Namun ketika kesulitan itu memang ada dan ia tetap melanjutkan ketaatan, kesulitannya tidak sia-sia.
Maka mungkin Si A hanya perlu berkata:
“Tidak, saya tidak tertarik melakukan maksiat itu.”
Sedangkan Si B harus berkata kepada dirinya sendiri seratus kali:
“Tidak. Allah melarangnya.”
Secara zahir hasilnya sama:
keduanya tidak bermaksiat.
Tetapi perjalanan menuju hasil tersebut berbeda.
Dan Allah mengetahui perjalanan itu.
4. Orang yang mendapatkan kemudahan juga mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar
Di sinilah kita sering hanya melihat satu sisi dari privilege Si A.
Kita berkata:
“Enak sekali Si A. Sejak kecil sudah diajarkan agama.”
Benar.
Tetapi nikmat tidak hanya memberikan kemudahan.
Nikmat juga membawa pertanggungjawaban.
Allah berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 8)
Maka pendidikan agama adalah nikmat yang akan ditanya.
Orang tua shalih adalah nikmat yang akan ditanya.
Kecukupan harta adalah nikmat yang akan ditanya.
Guru yang baik adalah nikmat yang akan ditanya.
Lingkungan yang mendukung adalah nikmat yang akan ditanya.
Bayangkan Si A telah mengetahui shalat sejak kecil, mempunyai akses kepada banyak ulama, memiliki waktu luang, kesehatan, keluarga yang mendukung, dan tidak memiliki tekanan ekonomi berat.
Kemudian setelah semua fasilitas tersebut ia tetap sengaja meninggalkan ketaatan.
Pertanyaannya justru menjadi semakin berat:
“Dengan seluruh kemudahan itu, apa yang telah kamu lakukan?”
Privilege ternyata bukan tiket gratis menuju surga.
Ia adalah modal sekaligus amanah.
5. Bahkan orang shalih memiliki ujian yang sering tidak terlihat
Ada ujian yang mudah terlihat.
Kemiskinan terlihat.
Keluarga berantakan terlihat.
Kecanduan terlihat.
Lingkungan buruk terlihat.
Tetapi ada pula ujian yang jauh lebih halus.
Seseorang dapat melakukan ibadah puluhan tahun, kemudian merasa dirinya lebih baik daripada manusia lain.
Ia dapat menghafal Al-Qur’an, kemudian menyukai pujian.
Ia dapat meninggalkan maksiat, kemudian memandang jijik orang yang sedang berjuang keluar dari maksiat.
Ia dapat lahir di keluarga ulama, kemudian tanpa sadar merasa keshalihan adalah hasil kehebatan dirinya sendiri.
Karena itulah Si A pun tidak sedang berjalan tanpa ujian.
Ketika kemaksiatan terasa menjijikkan baginya, mungkin salah satu ujian berikutnya adalah:
apakah ia akan merasa jijik kepada maksiatnya, atau justru merasa lebih mulia daripada pelakunya?
Ketika ibadah begitu mudah baginya:
apakah ia masih merasa membutuhkan pertolongan Allah?
Ketika masyarakat memandangnya sebagai orang shalih:
apakah ia masih sanggup melihat aib dirinya sendiri?
Ini bukan berarti ujian batin Si A pasti sama beratnya dengan kehidupan Si B.
Kita tidak perlu memaksakan kesimpulan seperti itu.
Tetapi ini menunjukkan bahwa kehidupan yang terlihat mudah juga tidak identik dengan keselamatan.
6. Allah sendiri mengatakan bahwa manusia memang diberi kondisi yang berbeda
Ini barangkali salah satu jawaban paling penting.
Allah berfirman:
وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ
“Dan Dia mengangkat sebagian kamu di atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
(QS. Al-An’am: 165)
Perbedaan itu memang ada.
Allah tidak mengatakan bahwa setiap manusia akan mendapatkan keluarga yang sama, kekayaan yang sama, kecerdasan yang sama, lingkungan yang sama, ataupun tingkat kesulitan yang sama.
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan menyebut adanya perbedaan keadaan manusia; orang kaya diuji dalam kekayaannya dan orang miskin diuji dalam kemiskinannya.
Maka kesalahan kita sejak awal adalah mengira:
adil berarti semua orang harus mendapatkan soal ujian yang sama.
Padahal tidak demikian.
Seorang guru yang adil pun dapat memberikan ujian berbeda kepada murid dengan kondisi berbeda, selama penilaiannya mempertimbangkan apa yang memang menjadi tanggung jawab masing-masing.
Terlebih Allah.
Allah mengetahui bukan hanya jawaban kita.
Allah mengetahui seluruh keadaan yang membuat kita sampai kepada jawaban tersebut.
7. Jadi, apakah Si B sebenarnya mendapatkan privilege?
Saya akan berhati-hati memakai istilah ini.
Kehidupan yang rusak bukan privilege.
Memiliki ayah pemabuk bukan privilege.
Tidak mendapatkan pendidikan agama bukan privilege.
Kemiskinan bukan privilege.
Trauma bukan privilege.
Semua itu dapat menjadi musibah yang sangat berat.
Namun yang luar biasa adalah:
Allah mampu membuka dari musibah tersebut jalan-jalan menuju kemuliaan yang sebelumnya tidak kita lihat.
Perjuangan dapat menjadi pahala.
Kesalahan dapat diikuti taubat.
Keterpurukan dapat melahirkan rasa fakir kepada Allah.
Godaan yang berat dapat menjadi tempat seseorang menunjukkan kesabarannya.
Masa lalu yang gelap tidak menghalangi masa depan yang terang.
Dengan kata lain:
Si B tidak diberi keuntungan berupa kehidupan yang buruk. Tetapi ia tidak dibiarkan rugi hanya karena kehidupannya lebih buruk.
Setiap langkah menuju Allah tetap diketahui.
Setiap peperangan melawan hawa nafsu diketahui.
Setiap kali ia jatuh kemudian benar-benar bangkit diketahui.
Setiap godaan yang ia tinggalkan karena Allah diketahui.
Dan setiap kebaikan sekecil apa pun tidak akan dizalimi.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi walaupun sebesar zarah.”
(QS. An-Nisa’: 40)
Di sinilah saya mulai memahami jawabannya
Selama ini kita membandingkan Si A dan Si B hanya berdasarkan keadaan awal mereka.
Kita melihat Si A berada seratus meter di depan dan Si B seratus meter di belakang.
Lalu kita berkata:
“Tidak adil. A jauh lebih dekat kepada tujuan.”
Tetapi kita lupa bahwa Allah tidak hanya melihat di mana seseorang berada.
Allah mengetahui dari mana ia memulai, jalan apa yang harus ia lalui, beban apa yang ia pikul, berapa kali ia jatuh, seberapa besar kemampuannya, dan seberapa keras ia berusaha berjalan menuju-Nya.
Manusia hanya melihat:
A sudah jauh. B masih tertinggal.
Allah mengetahui cerita lengkap di balik keduanya.
Karena itu boleh jadi seseorang yang menurut pandangan manusia hanya berhasil berjalan beberapa langkah ternyata telah melakukan perjuangan yang sangat besar di sisi Allah.
Dan boleh jadi seseorang yang telah berjalan sangat jauh justru sedang diuji dengan sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia: ujub, riya, kesombongan, atau merasa tidak lagi membutuhkan pertolongan Allah.
Maka keadilan Allah bukan berarti:
semua manusia diberi kehidupan yang sama.
Keadilan Allah berarti:
tidak satu pun keadaan manusia luput dari pengetahuan dan perhitungan-Nya.
Yang diberi kemudahan akan ditanya tentang kemudahannya.
Yang diberi kesulitan tidak akan diabaikan perjuangannya.
Yang diberi ilmu akan ditanya tentang ilmunya.
Yang baru menemukan jalan setelah bertahun-tahun tersesat tidak akan disamakan begitu saja dengan orang yang sejak kecil telah mengetahui jalan tersebut.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak mengetahui mengapa Allah memilih seseorang lahir sebagai Si A dan orang lain lahir sebagai Si B.
Al-Qur’an tidak menceritakan kepada kita alasan individual setiap takdir.
Tetapi ada satu hal yang diberitahukan dengan sangat tegas:
Allah tidak akan menzalimi keduanya.
Dan setelah memahami ini, pertanyaan saya perlahan berubah.
Bukan lagi:
“Mengapa jalan hidupku tidak semudah jalan hidup orang lain?”
Tetapi:
“Dengan jalan yang Allah berikan kepadaku, seberapa sungguh-sungguh aku berjalan menuju-Nya?”
Sebab pada akhirnya, kita tidak akan diadili karena gagal menjadi orang lain.
Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perjalanan yang diberikan kepada kita sendiri.
Leave a Reply