Di antara akhlak mulia yang sangat indah pada orang-orang shalih adalah tawadhu. Apa itu tawadhu?
Sederhananya, tawadhu adalah ketika seseorang tidak merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain hanya karena kelebihan yang Allah berikan kepadanya. Kekayaan, kedudukan, ilmu, kecerdasan, popularitas, maupun kebaikan yang pernah dilakukan tidak membuatnya merasa lebih berhak dihormati atau diperlakukan istimewa.
Ia sadar bahwa semua kelebihan tersebut bukanlah miliknya secara mutlak. Semuanya adalah pemberian Allah, sekaligus amanah yang suatu hari akan dimintai pertanggungjawaban.
Saya pernah mengenal seseorang yang, menurut pengamatan saya, memiliki sifat tawadhu yang sangat kuat. Padahal secara duniawi ia memiliki banyak hal yang dapat membuat seseorang merasa tinggi: ia orang kaya dan memimpin sebuah perusahaan.
Namun yang menarik bagi saya bukan sekadar kekayaannya atau banyaknya bantuan yang ia keluarkan. Saya pernah melihat orang-orang berada yang juga dermawan dan shalih, tetapi dalam kesehariannya masih tampak jarak yang cukup besar antara dirinya dengan orang-orang yang secara ekonomi berada di bawahnya. Kadang seseorang mudah memberikan uang, tetapi belum tentu mudah merendahkan ego, turun tangan sendiri, dan memperlakukan orang lain tanpa merasa lebih tinggi. Meskipun orang ini berkontribusi secara finansial, namun dia lebih suka menyuruh bawahannya dengan imbalan tertentu. Meskipun ini bukan sifat tercela dan akhlak yang sangat baik, namun perlu disadari ada akhlak yang di atas itu, dan merupakan lambang ketawadhuan.
Orang yang saya kenal ini berbeda.
Ia bukan hanya suka membantu dengan hartanya, tetapi juga dengan tenaga dan tangannya sendiri bukan tangan orang yang ia suruh. Ia berbaur dengan orang-orang sederhana, mendatangi mereka, membantu berbagai keperluan mereka, dan tidak selalu menyerahkan semuanya kepada orang lain. Ia bisa berjalan ke sana kemari untuk membantu seseorang tanpa terlihat merasa bahwa pekerjaan semacam itu terlalu rendah untuk kedudukannya.
Yang lebih membekas bagi saya adalah caranya berbicara.
Nada bicaranya tidak berubah ketika berhadapan dengan orang yang lebih miskin atau secara sosial berada di bawahnya. Ia tidak berbicara dari posisi seolah-olah, “Saya adalah orang penting, sedangkan kalian membutuhkan saya.” Pembicaraannya tetap sederhana dan sejajar. Tidak ada kesan ingin menunjukkan kekayaan, jabatan, ataupun jasa yang telah ia lakukan.
Cara berpakaiannya pun sederhana. Rapi dan layak, tetapi tidak berusaha menjadikan penampilan sebagai alat untuk menunjukkan kelas sosialnya. Jika berada di tengah orang-orang sederhana, ia tidak tampak seperti seseorang yang sedang berusaha mempertontonkan perbedaan antara dirinya dengan mereka.
Dari orang seperti inilah saya belajar bahwa tawadhu jauh lebih sulit daripada yang kita bayangkan.
Betapa sering seseorang baru memiliki sedikit kelebihan, tetapi hatinya sudah mulai berubah. Baru sedikit berjasa, lalu merasa harus dihargai. Baru sedikit dikenal, lalu merasa tidak pantas dikritik. Baru memiliki sedikit ilmu, lalu sulit menerima koreksi. Baru memiliki sedikit harta atau kedudukan, lalu tanpa sadar mulai berharap orang lain memperlakukannya secara berbeda.
Bahkan terkadang sikap kita berubah seiring berubahnya pandangan manusia terhadap kita. Ketika belum dikenal, kita mudah berbaur dan menerima kritik. Ketika mulai dihormati, muncul perasaan bahwa orang lain seharusnya menjaga cara berbicara kepada kita.
Di sinilah tawadhu diuji.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
Namun tawadhu juga bukan berarti memaksa diri terlihat rendah di hadapan manusia.
Ada orang yang terus berkata, “Saya ini bukan siapa-siapa,” “Saya bodoh,” “Saya mah banyak kekurangannya,” tetapi dalam hatinya berharap orang lain segera membantah:
“Tidak, Anda hebat.”
Jika kemudian tidak dipuji, ia kecewa. Jika dikritik, ia marah. Jika tidak dihormati, ia tersinggung.
Ini bukan hakikat tawadhu. Terkadang ia hanyalah bentuk lain dari keinginan mendapatkan pujian, hanya saja dibungkus dengan kalimat merendahkan diri.
Karena itu, tidak perlu berlebihan merendahkan diri ketika mendapatkan pujian. Jika seseorang mengatakan sesuatu yang baik tentang kita, terkadang cukup menjawab:
“Alhamdulillah. Semoga Allah memudahkan dan memperbaiki kekurangan saya.”
Tidak perlu menyangkal setiap kebaikan yang memang Allah berikan. Tidak pula perlu mempertontonkannya.
Tawadhu bukan berarti menganggap diri tidak memiliki kelebihan.
Tawadhu adalah mengetahui bahwa kita memiliki kelebihan, tetapi tidak menjadikan kelebihan itu alasan untuk merasa lebih tinggi daripada manusia lain.
Kita mungkin memiliki lebih banyak harta, tetapi belum tentu lebih mulia.
Kita mungkin memiliki lebih banyak ilmu, tetapi belum tentu lebih ikhlas.
Kita mungkin memiliki lebih banyak amal, tetapi belum tentu amal itu diterima.
Dan boleh jadi orang yang hari ini kita pandang biasa-biasa saja justru memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi di sisi Allah.
Karena itulah, semakin banyak nikmat yang Allah berikan kepada seseorang, seharusnya semakin sedikit alasan baginya untuk membanggakan dirinya sendiri.
Sebab pada akhirnya kita hanyalah seorang hamba yang sedang membawa banyak titipan dari Allah, kemudian menunggu hari ketika seluruh titipan itu akan ditanya:
Untuk apa semuanya kita gunakan?
Leave a Reply