Sejak awal kehidupannya, Rasulullah ﷺ telah ditempa oleh ujian yang tidak ringan.
Beliau belum sempat melihat wajah ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, karena sang ayah telah wafat sebelum beliau lahir.
Dengan demikian, sejak membuka mata ke dunia, Muhammad kecil sudah menyandang status sebagai anak yatim.
Ini bukan sekadar catatan sejarah.
Ini adalah bagian dari pendidikan Allah yang sangat dalam bagi Nabi-Nya.
Dalam pelukan ibunda
Masa-masa awal kehidupan beliau diisi dengan kasih sayang ibundanya, Aminah binti Wahb.
Setelah masa penyusuan bersama Halimah As-Sa’diyah, Muhammad kecil kembali ke pangkuan ibunya.
Aminah menjadi satu-satunya tempat beliau bersandar.
Bagi seorang anak kecil, ibu adalah dunia pertama.
Di sanalah ia merasa aman.
Di sanalah ia menemukan kelembutan.
Namun takdir Allah kembali menghadirkan ujian.
Perjalanan ke Yatsrib
Ketika usia Rasulullah ﷺ sekitar enam tahun, ibunya mengajak beliau melakukan perjalanan ke Yatsrib.
Kota itu bukan tempat asing.
Di sana terdapat keluarga dari jalur ayah beliau.
Selain itu, di kota itulah ayahnya, Abdullah, dimakamkan.
Bisa jadi perjalanan itu juga menjadi bentuk kerinduan seorang ibu untuk memperkenalkan anaknya kepada jejak ayah yang tak pernah ia kenal.
Bayangkan seorang anak kecil berjalan bersama ibunya menuju kota yang menyimpan kenangan ayahnya.
Di sana mereka tinggal beberapa waktu.
Muhammad kecil mungkin melihat tempat-tempat yang pernah dikunjungi ayahnya.
Mungkin juga ia mendengar kisah tentang sosok yang telah wafat sebelum ia lahir.
Duka besar di Abwa’
Dalam perjalanan pulang menuju Makkah, ujian besar itu datang.
Di sebuah tempat bernama Abwa’, di antara Makkah dan Yatsrib, Aminah jatuh sakit.
Penyakitnya semakin berat.
Di tengah perjalanan yang jauh dan sepi, ajal menjemputnya.
Muhammad kecil yang baru berusia enam tahun harus menyaksikan ibunya wafat.
Betapa berat momen itu.
Seorang anak kecil yang sejak lahir tidak memiliki ayah, kini kehilangan ibunya pula.
Di tempat yang sunyi, di tengah perjalanan pulang, ia menjadi yatim piatu.
Sulit membayangkan perasaan seorang anak seusia itu.
Tidak ada lagi pelukan ibu.
Tidak ada lagi suara lembut yang menenangkan.
Yang tersisa hanyalah kesedihan yang sangat dalam.
Bersama Ummu Aiman kembali ke Makkah
Setelah wafatnya Aminah, Muhammad kecil dibawa kembali ke Makkah oleh pengasuh keluarga, Ummu Aiman.
Perjalanan pulang itu tentu terasa sangat berbeda.
Jika sebelumnya beliau pergi bersama ibunda, kini beliau kembali tanpa sosok yang paling dicintainya.
Langkah-langkah kecil itu membawa seorang anak yatim piatu kembali ke rumah keluarganya.
Dalam asuhan sang kakek
Sesampainya di Makkah, Rasulullah ﷺ diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.
Kakeknya sangat mencintai beliau.
Kasih sayang yang besar diberikan untuk mengobati luka hati cucunya.
Abdul Muthalib sering mendudukkan Muhammad kecil di tempat duduk kehormatannya di dekat Ka’bah.
Ketika orang-orang hendak melarang, beliau berkata:
“Biarkan anakku ini, kelak ia akan memiliki kedudukan besar.”
Di balik kalimat itu, ada kasih sayang seorang kakek dan mungkin firasat tentang masa depan cucunya.
Namun kebersamaan itu pun tidak berlangsung lama.
Ketika Nabi ﷺ berusia sekitar delapan tahun, Abdul Muthalib juga wafat.
Sekali lagi beliau harus merasakan kehilangan.
Hikmah menjadi yatim sejak kecil
Ada hikmah yang sangat dalam mengapa Allah menakdirkan Rasulullah ﷺ tumbuh sebagai yatim sejak kecil.
Pertama, agar beliau merasakan langsung penderitaan orang-orang lemah.
Karena itu kelak hati beliau sangat lembut kepada anak yatim.
Kedua, agar manusia mengetahui bahwa kebesaran beliau bukan hasil pendidikan seorang ayah atau warisan keluarga semata, tetapi didikan langsung dari Allah.
Allah sendiri yang membimbing beliau melalui setiap fase kehidupan.
Sebagaimana firman-Nya:
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”
(QS. Ad-Duha: 6)
Ayat ini menjadi penghiburan besar.
Seolah Allah berkata bahwa meskipun beliau kehilangan orang tua, beliau tidak pernah ditinggalkan.
Allah selalu menjaganya.
Penutup
Rasulullah ﷺ adalah yatim sejak lahir dan yatim piatu sejak kecil.
Namun dari ujian inilah lahir hati yang paling lembut, jiwa yang paling kuat, dan pribadi yang paling memahami penderitaan manusia.
Masa kecil beliau adalah masa yang penuh kehilangan, tetapi justru dari situlah Allah mempersiapkan seorang nabi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Leave a Reply