Tradisi jahiliyah

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab hidup dalam masa yang dikenal sebagai jahiliyah.

Istilah jahiliyah sering dipahami sebagai masa kebodohan, tetapi maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar tidak berilmu.

Jahiliyah adalah masa ketika manusia kehilangan petunjuk.

Mereka hidup dengan tradisi, kebiasaan, dan keyakinan yang diwariskan turun-temurun, tetapi banyak di antaranya telah jauh menyimpang dari kebenaran.

Di Makkah, Ka’bah masih berdiri megah sebagai peninggalan Nabi Ibrahim عليه السلام.

Namun rumah suci yang dibangun untuk tauhid itu telah dipenuhi oleh ratusan berhala.

Orang-orang datang untuk thawaf, tetapi mereka melakukannya sambil memanggil nama-nama patung.

Mereka menyembah sesuatu yang dibuat oleh tangan mereka sendiri.

Padahal batu itu tidak dapat mendengar, tidak dapat memberi manfaat, dan tidak mampu menolak bahaya.

Inilah gambaran pertama dari tradisi jahiliyah: kesesatan dalam akidah.


Penyembahan berhala

Tradisi jahiliyah yang paling menonjol adalah penyembahan berhala.

Di sekitar Ka’bah berdiri banyak patung yang menjadi sesembahan suku-suku Arab.

Di antara yang paling terkenal adalah:

  • Hubal
  • Latta
  • Uzza
  • Manat

Setiap suku memiliki berhala kebanggaannya.

Sebagian menyimpan patung di rumah.

Sebagian membawanya saat bepergian.

Ketika hendak bepergian, mereka meminta petunjuk kepada berhala.

Ketika menginginkan kemenangan, mereka memohon kepadanya.

Ketika tertimpa musibah, mereka menyembelih hewan untuknya.

Yang lebih ironis, sebagian orang bahkan membuat sesembahan dari batu atau kayu, lalu jika tidak menemukan apa-apa, mereka membuatnya dari makanan seperti tepung atau kurma.

Ketika lapar, sesembahan itu dimakan.

Tradisi ini menunjukkan betapa jauh manusia saat itu dari tauhid.


Fanatisme kesukuan

Selain akidah yang rusak, masyarakat Arab juga sangat kuat dalam fanatisme kesukuan (ashabiyah).

Suku adalah segalanya.

Seseorang dibela bukan karena benar, tetapi karena ia berasal dari suku yang sama.

Pepatah yang hidup saat itu seakan berbunyi:

“Bela saudaramu, سواء ia zalim atau dizalimi.”

Permusuhan kecil dapat berubah menjadi perang panjang.

Kadang-kadang peperangan berlangsung bertahun-tahun hanya karena persoalan sepele.

Dendam diwariskan dari generasi ke generasi.

Anak-anak tumbuh dengan cerita tentang siapa musuh sukunya.

Tradisi ini membuat masyarakat hidup dalam lingkaran permusuhan yang sulit diputus.


Minuman keras dan perjudian

Tradisi lain yang sangat umum adalah khamr (minuman keras) dan judi.

Minum khamr dianggap sebagai bagian dari pergaulan dan simbol kegagahan.

Majelis-majelis sering diisi dengan minuman dan syair.

Orang-orang berkumpul, meminum arak, lalu menyombongkan suku dan keberanian mereka.

Judi juga sangat populer.

Harta, hewan ternak, bahkan kehormatan bisa dipertaruhkan.

Banyak orang kehilangan seluruh kekayaannya karena perjudian.

Namun tradisi itu tetap dianggap biasa.

Islam kemudian datang menghapus kebiasaan ini secara bertahap.


Penindasan terhadap yang lemah

Dalam masyarakat jahiliyah, kekuatan sering menjadi ukuran nilai seseorang.

Yang kaya dihormati.

Yang miskin dipandang rendah.

Budak diperlakukan dengan keras.

Mereka tidak memiliki kebebasan dan sering menjadi sasaran kekerasan.

Ketika Islam datang, banyak orang pertama yang menerima dakwah justru berasal dari kalangan lemah, seperti budak dan orang miskin.

Karena Islam datang membawa pesan kesetaraan manusia di hadapan Allah.


Mengubur bayi perempuan hidup-hidup

Salah satu tradisi paling kelam pada masa jahiliyah adalah wa’d, yaitu mengubur bayi perempuan hidup-hidup.

Sebagian masyarakat menganggap kelahiran anak perempuan sebagai aib.

Mereka takut malu.

Takut miskin.

Takut anak perempuan itu dianggap membawa beban bagi keluarga.

Maka bayi yang baru lahir bisa dibawa ke padang pasir dan dikubur oleh tangan ayahnya sendiri.

Betapa gelapnya hati manusia saat itu.

Al-Qur’an mengecam tradisi ini dengan sangat tegas:

“Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh.”
(QS. At-Takwir: 8–9)

Ayat ini menjadi gambaran betapa besar revolusi moral yang dibawa Islam.


Riba dan ketidakadilan ekonomi

Tradisi jahiliyah juga tampak dalam praktik ekonomi.

Riba menjadi hal yang biasa.

Orang yang miskin sering semakin terhimpit oleh hutang berbunga.

Yang kaya menjadi semakin kaya.

Yang lemah semakin tertindas.

Tidak ada prinsip keadilan sosial yang kuat.

Islam kemudian datang membawa sistem muamalah yang lebih adil dan beretika.


Penutup

Tradisi jahiliyah adalah gambaran sebuah masyarakat yang memiliki budaya kuat, tetapi kehilangan arah petunjuk.

Mereka memiliki keberanian, syair, dan kehormatan suku, tetapi tenggelam dalam kemusyrikan, penindasan, dan penyimpangan akhlak.

Dalam kegelapan inilah Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ.

Maka semakin kita memahami tradisi jahiliyah, semakin kita menyadari betapa besar perubahan yang dibawa oleh Islam.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *