Setelah beberapa tahun dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi, jumlah kaum muslimin perlahan mulai bertambah.
Hati-hati yang beriman telah dibina di Rumah Al-Arqam.
Tauhid telah tertanam.
Generasi pertama Islam mulai terbentuk.
Kini tiba saatnya dakwah keluar dari ruang-ruang tertutup.
Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan risalah secara terbuka.
Inilah fase baru yang sangat menentukan dalam sejarah Islam.
Perintah untuk berdakwah terbuka
Selama kurang lebih tiga tahun, dakwah dilakukan kepada keluarga dan sahabat terdekat.
Namun kemudian turun perintah Allah:
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”
(QS. Asy-Syu’ara: 214)
Ayat ini menjadi titik perubahan besar.
Rasulullah ﷺ kini diperintahkan untuk menyampaikan Islam secara terbuka, dimulai dari keluarga besar Quraisy.
Dakwah tidak lagi hanya dari hati ke hati.
Kini ia harus terdengar oleh seluruh Makkah.
Naik ke Bukit Shafa
Untuk menyampaikan seruan kepada masyarakat, Rasulullah ﷺ memilih Bukit Shafa.
Bukit ini berada dekat Ka’bah dan merupakan tempat yang strategis.
Dalam tradisi Arab, jika seseorang naik ke tempat tinggi lalu memanggil masyarakat, itu menandakan ada berita yang sangat penting.
Maka Rasulullah ﷺ naik ke atas bukit itu.
Beliau berdiri dengan penuh keteguhan.
Lalu memanggil suku-suku Quraisy satu per satu:
“Ya Bani Fihr! Ya Bani ‘Adi!”
Seruan itu menggema.
Orang-orang mulai berdatangan.
Sebagian datang sendiri.
Sebagian mengutus orang lain untuk melihat apa yang terjadi.
Masyarakat Makkah berkumpul di kaki Bukit Shafa.
Mereka penasaran.
Muhammad Al-Amin yang selama ini dikenal jujur sedang memanggil mereka.
Pasti ada sesuatu yang sangat penting.
Pertanyaan yang menggugah
Setelah mereka berkumpul, Rasulullah ﷺ memulai dengan sebuah pertanyaan.
Beliau tidak langsung menyampaikan risalah.
Beliau lebih dahulu membangun kesadaran tentang kejujuran dirinya.
Beliau bertanya:
“Bagaimana menurut kalian jika aku kabarkan bahwa di balik bukit ini ada pasukan berkuda yang siap menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?”
Seluruh Quraisy menjawab dengan satu suara:
“Ya, kami tidak pernah mendapati engkau berdusta.”
Perhatikan betapa kuatnya momen ini.
Sebelum mereka menolak risalah, mereka sendiri mengakui:
Muhammad tidak pernah berdusta.
Ini adalah hujjah yang sangat kuat.
Seruan tauhid pertama secara terbuka
Setelah pengakuan itu, Rasulullah ﷺ berkata:
“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian sebelum datang azab yang pedih.”
Dalam riwayat lain, maknanya adalah seruan untuk meninggalkan syirik dan kembali kepada Allah.
Inilah untuk pertama kalinya dakwah tauhid terdengar secara terbuka di hadapan Quraisy.
Suasana yang awalnya tenang berubah tegang.
Mereka tidak lagi mendengar Muhammad sebagai Al-Amin.
Kini mereka mendengar Muhammad sebagai Rasulullah.
Reaksi Abu Lahab
Di antara orang-orang yang hadir, ada salah satu paman Rasulullah ﷺ, yaitu Abu Lahab.
Alih-alih menerima seruan itu, ia justru marah.
Dengan nada kasar ia berkata:
“Tabban laka! Ali hadza jama’tana?”
“Celaka engkau! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”
Kalimat ini menjadi awal permusuhan terbuka dari Abu Lahab terhadap dakwah Rasulullah ﷺ.
Sebagai jawaban atas sikapnya, Allah menurunkan Surah Al-Lahab:
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan benar-benar binasa dia.”
Ini adalah salah satu bentuk pembelaan langsung dari Allah terhadap Rasul-Nya.
Awal perlawanan Quraisy
Peristiwa di Bukit Shafa menjadi titik awal perlawanan terbuka Quraisy.
Jika sebelumnya dakwah berjalan diam-diam, kini mereka mengetahui bahwa Muhammad ﷺ membawa ajaran baru yang menentang berhala mereka.
Dari sinilah permusuhan besar mulai tumbuh.
Posisi bab dalam alur buku
Agar tidak overlap:
- Rumah Al-Arqam → pembinaan internal
- Seruan di Bukit Shafa → awal dakwah terbuka
- Penentangan Quraisy → reaksi sosial dan politik setelah seruan ini
Dengan struktur ini, cerita tetap utuh dan tidak ada bagian yang hilang.
Penutup
Seruan di Bukit Shafa adalah momen ketika dakwah Islam keluar dari rumah-rumah tertutup menuju ruang publik.
Di atas bukit itu, Rasulullah ﷺ untuk pertama kalinya menyeru seluruh Quraisy kepada tauhid.
Dari sinilah jalan dakwah terbuka dimulai, sekaligus ujian besar pun bermula.
Leave a Reply