Serangan pasukan gajah

Beberapa waktu sebelum kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, Makkah pernah menghadapi ancaman terbesar dalam sejarahnya.

Ancaman itu datang bukan dari suku Arab biasa, tetapi dari sebuah pasukan besar yang datang dari selatan, dari negeri Yaman.

Di sana, pada masa itu, kekuasaan berada di tangan bangsa Habasyah.

Salah satu gubernurnya bernama Abrahah al-Asyram.

Ia adalah seorang penguasa yang kuat, ambisius, dan ingin menjadikan Yaman sebagai pusat keagamaan bangsa Arab.


Ambisi Abrahah

Abrahah melihat bahwa setiap tahun bangsa Arab berbondong-bondong menuju Makkah.

Mereka datang untuk menghormati Ka’bah.

Di sana mereka berhaji, berdagang, dan mengadakan berbagai pertemuan besar.

Hal ini membuat Makkah memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Abrahah tidak menyukai hal itu.

Ia ingin memindahkan pusat perhatian bangsa Arab dari Makkah ke Yaman.

Untuk itu, ia membangun sebuah gereja yang sangat megah di Sana’a.

Bangunan itu dibuat dengan sangat indah, dihiasi dengan kemewahan yang belum pernah dilihat bangsa Arab.

Ia berharap orang-orang Arab akan meninggalkan Ka’bah dan beralih ke gerejanya.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Bangsa Arab tetap memuliakan Ka’bah.

Tidak ada yang tertarik meninggalkan rumah suci peninggalan Ibrahim عليه السلام.

Hal ini membuat Abrahah murka.

Ia merasa kehormatannya direndahkan.

Maka lahirlah tekad besar di dalam hatinya:

menghancurkan Ka’bah.


Pasukan besar menuju Makkah

Abrahah menyiapkan pasukan yang sangat besar.

Mereka membawa perlengkapan perang lengkap.

Yang membuat pasukan ini sangat menakutkan adalah adanya gajah-gajah perang.

Bagi bangsa Arab, gajah adalah sesuatu yang sangat asing.

Mereka belum pernah melihat binatang sebesar itu digunakan dalam peperangan.

Di antara gajah-gajah tersebut ada satu yang paling besar, yang dikenal dengan nama Mahmud.

Pasukan itu bergerak dari Yaman menuju Makkah.

Di sepanjang perjalanan, mereka menaklukkan wilayah-wilayah yang dilewati.

Kabar kedatangan pasukan ini menyebar cepat.

Makkah diliputi ketegangan.

Penduduk merasa cemas.

Mereka tahu pasukan ini jauh lebih besar daripada kekuatan yang mereka miliki.


Unta Abdul Muthalib dirampas

Ketika pasukan mendekati Makkah, mereka merampas beberapa harta penduduk, termasuk unta-unta milik Abdul Muthalib, pemimpin Quraisy dan kakek Nabi ﷺ.

Abdul Muthalib kemudian pergi menemui Abrahah.

Abrahah telah mendengar kewibawaan tokoh Makkah ini.

Ketika melihatnya, ia bahkan turun dari singgasananya sebagai bentuk penghormatan.

Abrahah mengira Abdul Muthalib datang untuk memohon agar Ka’bah tidak dihancurkan.

Namun yang diminta justru hanya unta-untanya.

Abrahah berkata dengan heran:

“Aku datang untuk menghancurkan rumah ibadah kalian, tetapi yang engkau pikirkan hanya untamu?”

Dengan penuh ketenangan dan keyakinan, Abdul Muthalib menjawab:

“Aku pemilik unta-unta itu, sedangkan Ka’bah memiliki Tuhan yang akan menjaganya.”

Kalimat ini sangat agung.

Ia menunjukkan keyakinan penuh bahwa rumah Allah tidak akan dibiarkan tanpa penjagaan.


Penduduk Makkah menyingkir

Setelah pertemuan itu, Abdul Muthalib memerintahkan penduduk Makkah untuk naik ke bukit-bukit dan meninggalkan kota.

Mereka tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi pasukan sebesar itu.

Malam itu, hati masyarakat penuh kecemasan.

Di bawah langit Makkah, Abdul Muthalib berdiri memegang pintu Ka’bah dan berdoa kepada Allah.

Ia memohon agar rumah suci itu dijaga.

Makkah malam itu begitu sunyi.

Semua menunggu apa yang akan terjadi esok hari.


Saat gajah menolak maju

Pagi hari, Abrahah memerintahkan pasukannya bergerak menuju Ka’bah.

Gajah terbesar, Mahmud, diarahkan ke arah Makkah.

Namun sesuatu yang aneh terjadi.

Gajah itu menolak bergerak.

Ketika diarahkan ke arah Ka’bah, ia duduk dan tidak mau maju.

Tetapi ketika dipalingkan ke arah lain, ia bisa berjalan.

Pasukan menjadi bingung.

Mereka mencoba memukul dan memaksanya.

Tetap saja ia tidak mau bergerak menuju Ka’bah.

Ini adalah pertolongan Allah yang pertama.


Datangnya burung Ababil

Lalu datanglah pertolongan Allah yang paling menakjubkan.

Dari langit muncul burung-burung dalam jumlah besar.

Al-Qur’an menyebutnya Ababil.

Burung-burung itu membawa batu-batu kecil dari tanah yang terbakar.

Setiap batu mengenai pasukan Abrahah dengan tepat.

Pasukan besar itu hancur.

Tubuh mereka luluh.

Barisan mereka porak-poranda.

Mereka lari dalam ketakutan.

Abrahah sendiri terkena azab yang berat.

Ia kembali ke Yaman dalam keadaan tubuh yang rusak hingga akhirnya mati.

Allah mengabadikan peristiwa ini dalam Surah Al-Fil:

“Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?”
“Dan Dia mengirim kepada mereka burung yang berbondong-bondong.”
“Yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar.”
“Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.”


Tahun kelahiran Nabi ﷺ

Peristiwa ini sangat penting karena terjadi pada tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Karena itulah tahun tersebut dikenal sebagai Tahun Gajah (‘Amul Fil).

Seakan Allah sedang menunjukkan bahwa rumah suci ini dijaga langsung oleh-Nya, dan dari kota yang dijaga ini akan lahir nabi terakhir.


Hikmah peristiwa

Kisah pasukan gajah mengajarkan bahwa:

  • Allah menjaga rumah-Nya
  • kekuatan manusia tidak berarti di hadapan kehendak Allah
  • kelahiran Nabi ﷺ didahului tanda besar dari langit

Ini bukan sekadar kisah sejarah, tetapi pembuka dari datangnya cahaya Islam.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *