Di sebelah utara Jazirah Arab terbentang sebuah wilayah yang sejak zaman kuno dikenal sebagai negeri yang makmur, subur, dan menjadi pusat peradaban besar. Wilayah itu adalah Syam.
Dalam sejarah Islam, istilah Syam tidak hanya merujuk pada satu kota atau satu negara, tetapi sebuah kawasan luas yang meliputi wilayah yang sekarang dikenal sebagai:
- Suriah
- Palestina
- Yordania
- Lebanon
Pada masa dahulu, Syam merupakan salah satu wilayah paling penting di dunia, baik dari sisi perdagangan, pertanian, maupun kekuasaan politik.
Bagi bangsa Arab, Syam adalah negeri yang sangat dikenal.
Jika Yaman menjadi pusat perdagangan di selatan, maka Syam adalah tujuan utama perdagangan di utara.
Negeri yang subur dan berbeda dari Jazirah Arab
Berbeda dengan sebagian besar Jazirah Arab yang dipenuhi gurun dan lembah tandus, Syam dikenal sebagai negeri yang lebih hijau.
Di sana terdapat dataran subur, kebun-kebun zaitun, ladang gandum, sungai, dan kota-kota yang maju.
Karena kesuburannya, Syam menjadi tempat berkembangnya berbagai kerajaan dan peradaban besar sejak zaman kuno.
Banyak nabi juga pernah hidup atau berdakwah di wilayah ini, seperti:
- Nabi Ibrahim عليه السلام
- Nabi Luth عليه السلام
- Nabi Dawud عليه السلام
- Nabi Sulaiman عليه السلام
- Nabi Isa عليه السلام
Karena itu, Syam memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi.
Pusat perdagangan bangsa Arab
Bagi suku Quraisy di Makkah, Syam memiliki arti yang sangat penting.
Wilayah ini menjadi tujuan utama kafilah dagang musim panas.
Allah mengabadikan tradisi ini dalam Al-Qur’an:
“Perjalanan musim dingin dan musim panas.”
(QS. Quraisy: 2)
Yang dimaksud adalah:
- perjalanan musim dingin ke Yaman
- perjalanan musim panas ke Syam
Quraisy membawa barang dagangan dari Makkah menuju pasar-pasar di Syam, lalu kembali dengan membawa berbagai komoditas.
Perdagangan ini menjadikan Quraisy sebagai suku yang memiliki pengaruh ekonomi besar di Jazirah Arab.
Karena itu, sejak muda Rasulullah ﷺ juga telah mengenal Syam melalui perjalanan dagang bersama Abu Thalib dan kemudian bersama kafilah Khadijah.
Perjalanan Nabi ﷺ ke Syam saat muda
Salah satu peristiwa penting dalam Sirah adalah perjalanan Nabi ﷺ ke Syam saat masih remaja.
Ketika itu beliau ikut bersama pamannya, Abu Thalib, dalam rombongan dagang Quraisy.
Di perjalanan menuju Syam, rombongan singgah di sebuah tempat yang di sana tinggal seorang pendeta bernama Bahira.
Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad muda.
Ia memperhatikan awan yang menaungi beliau dan beberapa ciri yang sesuai dengan kitab-kitab sebelumnya.
Bahira kemudian memperingatkan Abu Thalib agar menjaga Muhammad dengan baik.
Peristiwa ini menjadi salah satu tanda awal yang sering disebut dalam kitab-kitab sirah.
Syam di bawah kekuasaan Romawi
Pada masa menjelang kelahiran Nabi ﷺ dan awal dakwah Islam, Syam berada di bawah pengaruh Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).
Romawi adalah salah satu kekuatan terbesar dunia saat itu, selain Persia.
Wilayah Syam menjadi daerah strategis karena menjadi penghubung antara Jazirah Arab dan dunia Mediterania.
Kota-kota besar seperti Damaskus, Yerusalem, dan Gaza berkembang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan.
Bagi bangsa Arab, Syam bukan hanya tujuan dagang, tetapi juga jendela menuju dunia luar.
Mereka mengenal peradaban besar, sistem pemerintahan, arsitektur, dan kehidupan masyarakat yang berbeda dari Jazirah Arab.
Hubungan Syam dengan perkembangan Islam
Setelah Islam berkembang, Syam menjadi salah satu wilayah pertama di luar Jazirah Arab yang mendapat perhatian besar.
Beberapa peristiwa penting terkait Syam dalam sirah antara lain:
- Perang Mu’tah
- Perang Tabuk
- pengiriman surat Rasulullah ﷺ kepada Heraklius, Kaisar Romawi
Semua ini menunjukkan bahwa Syam memiliki posisi strategis dalam penyebaran Islam.
Kelak pada masa Khulafaur Rasyidin, wilayah Syam menjadi salah satu pusat penting peradaban Islam.
Nilai spiritual Syam
Selain nilai sejarah dan politik, Syam juga memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi.
Di wilayah ini terdapat Baitul Maqdis (Yerusalem), tempat Masjid Al-Aqsa.
Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam dan tempat Rasulullah ﷺ singgah dalam peristiwa Isra dan Mi’raj.
Karena itu, Syam tidak hanya penting secara sejarah, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam keimanan umat Islam.
Penutup
Sejarah Syam adalah sejarah tentang kemakmuran, perdagangan, peradaban besar, dan warisan para nabi.
Bagi bangsa Arab, Syam adalah gerbang menuju dunia luar.
Bagi Sirah Nabawiyah, Syam menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ sejak masa muda hingga masa dakwah.
Dengan memahami sejarah Syam, kita dapat melihat betapa luasnya latar sejarah yang melingkupi lahirnya Islam.
Leave a Reply