Dari Hijrahnya Ismail hingga Masa Nabi Muhammad ﷺ
Jauh sebelum Makkah dikenal sebagai kota suci dan pusat ibadah umat Islam, wilayah itu hanyalah sebuah lembah sunyi di tengah gurun yang tandus.
Tidak ada rumah.
Tidak ada pasar.
Tidak ada kehidupan.
Hanya hamparan batu, pasir, dan perbukitan kering yang dikelilingi gunung-gunung.
Tidak ada mata air.
Tidak ada pohon yang memberi teduh.
Lembah itu tampak seperti tempat yang mustahil untuk dihuni manusia.
Namun justru di tempat yang sunyi inilah Allah سبحانه وتعالى memulai sejarah besar yang kelak mengubah dunia.
Hijrahnya Ismail ke lembah Makkah
Kisah Makkah bermula dari Nabi Ibrahim عليه السلام.
Atas perintah Allah, beliau membawa istrinya Hajar dan putranya yang masih bayi, Ismail عليه السلام, menuju sebuah lembah tandus di Jazirah Arab.
Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkan keduanya dengan bekal yang sangat sedikit.
Hajar terkejut.
Di hadapannya hanya ada gurun kosong.
Tidak ada manusia.
Tidak ada air.
Tidak ada tanda kehidupan.
Dengan hati yang gelisah ia bertanya,
“Apakah Allah yang memerintahkan ini?”
Ibrahim menjawab,
“Ya.”
Mendengar itu, Hajar berkata dengan keyakinan yang sangat kuat,
“Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Kalimat ini menjadi salah satu contoh tawakal yang paling indah dalam sejarah.
Munculnya Zamzam
Beberapa waktu kemudian, persediaan air habis.
Ismail yang masih bayi menangis kehausan.
Hajar berlari dengan penuh kecemasan mencari air.
Ia naik ke bukit Shafa, memandang ke segala arah.
Tidak ada siapa pun.
Lalu ia berlari ke bukit Marwah.
Begitulah ia bolak-balik tujuh kali, dalam keadaan penuh harap dan cemas.
Di tengah perjuangan itu, Allah menurunkan pertolongan.
Malaikat Jibril عليه السلام menghentakkan tanah dengan sayap atau tumitnya, lalu memancarlah air dari bumi.
Itulah mata air Zamzam.
Air itu terus mengalir hingga menjadi sumber kehidupan bagi lembah Makkah.
Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam syariat sa’i antara Shafa dan Marwah dalam ibadah haji dan umrah.
Datangnya suku Jurhum
Air Zamzam menarik perhatian para musafir dan kabilah yang melintas.
Salah satu suku yang datang adalah Jurhum, suku Arab dari Yaman.
Mereka meminta izin kepada Hajar untuk tinggal di sekitar mata air.
Sejak saat itulah lembah yang semula kosong mulai dihuni manusia.
Rumah-rumah sederhana mulai berdiri.
Perdagangan kecil mulai tumbuh.
Ismail tumbuh di tengah masyarakat Jurhum.
Beliau belajar bahasa Arab dari mereka.
Karena itu beliau disebut sebagai asal Arab Musta’ribah, yaitu Arab yang terarabkan.
Ketika dewasa, Ismail menikah dengan perempuan dari suku Jurhum.
Dari keturunannya inilah lahir bangsa Arab utara, termasuk Quraisy.
Pembangunan Ka’bah
Ketika Ismail telah dewasa, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk kembali ke Makkah.
Ayah dan anak itu kemudian mendapat tugas agung: membangun Ka’bah.
Dengan tangan mereka sendiri, batu demi batu disusun.
Ismail mengangkat batu.
Ibrahim menyusunnya.
Sambil membangun, keduanya berdoa:
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami…”
(QS. Al-Baqarah: 127)
Ka’bah dibangun sebagai rumah ibadah pertama yang didedikasikan untuk tauhid.
Bukan untuk berhala.
Bukan untuk manusia.
Tetapi semata-mata untuk Allah.
Sejak saat itu Makkah menjadi pusat ibadah.
Manusia mulai datang untuk berhaji.
Masa Jurhum dan Khuza’ah
Seiring berjalannya waktu, kekuasaan atas Makkah silih berganti.
Awalnya suku Jurhum memegang kendali atas Ka’bah dan sumur Zamzam.
Namun kemudian mereka melakukan berbagai penyimpangan.
Mereka menzalimi orang-orang yang datang berhaji.
Akhirnya kekuasaan berpindah kepada suku Khuza’ah.
Pada masa inilah mulai masuk praktik penyembahan berhala di sekitar Ka’bah.
Salah satu tokoh yang dikenal membawa berhala ke Makkah adalah Amr bin Luhay.
Dialah yang memperkenalkan penyembahan patung di sekitar Ka’bah.
Dari sinilah masyarakat Arab secara bertahap menjauh dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim.
Munculnya Quraisy dan Qushay bin Kilab
Beberapa generasi kemudian, muncullah seorang tokoh penting bernama Qushay bin Kilab, leluhur Rasulullah ﷺ.
Ia berhasil mengambil alih kepemimpinan Makkah dari Khuza’ah.
Di tangannya, Makkah mulai tertata lebih baik.
Ia menyatukan suku-suku Quraisy dan mengatur berbagai urusan penting, seperti:
- penjagaan Ka’bah
- pelayanan jamaah haji
- pengelolaan air minum
- kepemimpinan musyawarah
Dari Qushay inilah lahir garis keturunan yang berlanjut kepada Bani Hasyim, keluarga Nabi Muhammad ﷺ.
Masa Abdul Muthalib
Beberapa generasi setelah Qushay, muncullah tokoh besar Makkah bernama Abdul Muthalib, kakek Nabi ﷺ.
Ia sangat dihormati oleh masyarakat Quraisy.
Salah satu peristiwa besar di masanya adalah penemuan kembali sumur Zamzam yang sempat tertimbun.
Ia juga dikenal dalam peristiwa pasukan gajah yang dipimpin Abrahah.
Ketika Abrahah hendak menghancurkan Ka’bah, Abdul Muthalib menyerahkan urusan rumah Allah kepada Allah sendiri.
Dan Allah benar-benar melindungi Ka’bah.
Tahun itulah kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah, tahun kelahiran Rasulullah ﷺ.
Menjelang masa Nabi Muhammad ﷺ
Menjelang kelahiran Nabi ﷺ, Makkah telah menjadi pusat penting di Jazirah Arab.
Ka’bah menjadi tempat ziarah berbagai suku.
Pasar-pasar ramai.
Kafilah dagang Quraisy pergi ke Yaman dan Syam.
Namun secara spiritual, masyarakat telah tenggelam dalam jahiliyah.
Ka’bah yang dibangun untuk tauhid kini dipenuhi berhala.
Akhlak masyarakat mengalami banyak penyimpangan.
Dalam keadaan inilah Allah memilih seorang anak yatim dari Bani Hasyim untuk membawa cahaya Islam.
Penutup
Sejarah Makkah adalah sejarah panjang tentang tauhid, ujian, pergantian kekuasaan, dan persiapan bagi lahirnya Rasulullah ﷺ.
Dari hijrahnya Ismail, munculnya Zamzam, pembangunan Ka’bah, hingga masa Quraisy, semuanya menjadi bagian dari skenario besar Allah dalam mempersiapkan tempat lahirnya penutup para nabi.
Leave a Reply