Peristiwa nazar Abdullah

Di tengah lembah Makkah yang dikelilingi bukit-bukit batu, hiduplah seorang tokoh yang sangat dihormati oleh seluruh Quraisy. Namanya dikenal oleh para pemuka suku, para pedagang, bahkan para musafir yang datang berhaji ke Ka’bah.

Ia adalah Abdul Muthalib, kakek Rasulullah ﷺ.

Wajahnya memancarkan kewibawaan. Ucapannya didengar. Keputusannya dihormati.

Di sekitar Ka’bah, ada sebuah tempat khusus yang biasa digunakan para pemimpin Quraisy untuk duduk dan bermusyawarah. Tempat itu hampir tidak pernah diduduki orang lain selama Abdul Muthalib berada di sana.

Namun kemuliaannya tidak datang secara tiba-tiba. Hidupnya penuh dengan peristiwa besar yang seakan menjadi bagian dari persiapan Allah bagi kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.


Masa kecilnya: Syaibah di Yatsrib

Nama aslinya sebenarnya bukan Abdul Muthalib, melainkan Syaibah.

Ia lahir di Yatsrib—kota yang kelak dikenal sebagai Madinah.

Ayahnya adalah Hasyim bin Abdu Manaf, seorang tokoh mulia Quraisy yang sangat dermawan dan dihormati.

Namun sebelum Syaibah sempat mengenal ayahnya dengan baik, Hasyim wafat ketika sedang dalam perjalanan dagang di Syam.

Syaibah pun dibesarkan oleh ibunya di Yatsrib.

Bertahun-tahun kemudian, pamannya yang bernama Muthalib datang untuk membawanya ke Makkah.

Saat keduanya memasuki kota, orang-orang melihat seorang pemuda berjalan bersama Muthalib.

Mereka menyangka pemuda itu adalah budaknya.

Mereka berkata,

“Itu عبد المطلب — budaknya Muthalib.”

Sejak itulah nama Abdul Muthalib melekat padanya.

Nama itu bertahan sepanjang hidupnya.


Menjadi pemimpin Quraisy

Ketika dewasa, Abdul Muthalib tumbuh menjadi sosok yang sangat disegani.

Ia mewarisi kemuliaan Bani Hasyim: keberanian, kehormatan, dan kemurahan hati.

Masyarakat Quraisy memandangnya sebagai pemimpin.

Setiap kali ia duduk di dekat Ka’bah, orang-orang memberi penghormatan.

Ia bukan sekadar pemuka suku, tetapi penjaga kehormatan Makkah.

Dalam dirinya, masyarakat melihat sosok yang layak dipercaya.


Mimpi tentang Zamzam

Salah satu peristiwa paling terkenal dalam hidupnya adalah penemuan kembali sumur Zamzam.

Pada masa itu, sumur Zamzam telah lama hilang dan tertimbun.

Masyarakat hanya mendengar kisahnya dari cerita masa lalu.

Suatu malam, Abdul Muthalib bermimpi.

Dalam mimpinya, ia diperintahkan untuk menggali di dekat Ka’bah.

Mimpi itu datang berulang kali.

Ia merasa ini bukan mimpi biasa.

Keesokan harinya, ia pergi ke tempat yang ditunjukkan dalam mimpinya dan mulai menggali.

Orang-orang Quraisy memandang dengan penuh heran.

Sebagian menertawakan.

Sebagian menganggapnya aneh.

Namun Abdul Muthalib tetap menggali dengan keyakinan yang kuat.

Dan benar, dari tanah itu muncullah air.

Air Zamzam kembali memancar.

Makkah bergemuruh oleh kekaguman.

Sumur peninggalan Ismail عليه السلام ditemukan kembali.

Sejak saat itu, kedudukan Abdul Muthalib semakin tinggi.

Ia mendapat kehormatan besar dalam melayani jamaah haji.


Nazar yang mengguncang hati

Di antara kisah yang paling dramatis adalah nazarnya.

Ketika ia masih belum memiliki banyak anak laki-laki, Abdul Muthalib pernah bernazar:

“Jika Allah memberiku sepuluh anak laki-laki yang mampu melindungiku, aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di dekat Ka’bah.”

Waktu berlalu.

Allah mengaruniainya sepuluh anak laki-laki.

Kini saatnya menunaikan nazar.

Undian dilakukan.

Nama yang keluar adalah Abdullah.

Putra yang paling ia cintai.

Ayah Rasulullah ﷺ.

Bayangkan suasananya.

Seorang ayah berdiri di depan Ka’bah dengan hati yang terguncang.

Di satu sisi ada janji kepada Allah.

Di sisi lain ada anak yang sangat dicintai.

Masyarakat Quraisy tidak sanggup melihat hal itu terjadi.

Akhirnya mereka mencari jalan keluar.

Undian diulang dengan menjadikan unta sebagai tebusan.

Jumlah unta terus ditambah:

sepuluh, dua puluh, tiga puluh…

hingga akhirnya mencapai seratus ekor unta.

Barulah undian jatuh pada unta.

Abdullah pun selamat.

Dari sinilah lahir Rasulullah ﷺ.


Saat pasukan gajah datang

Puncak kebesaran Abdul Muthalib terlihat saat Abrahah datang dengan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah.

Pasukan besar dari Yaman mendekati Makkah.

Kota itu diliputi ketakutan.

Abrahah merampas unta-unta milik Abdul Muthalib.

Ia pun datang menemui Abrahah.

Abrahah mengira ia akan memohon agar Ka’bah tidak dihancurkan.

Namun yang diminta Abdul Muthalib hanyalah unta-untanya.

Abrahah berkata dengan heran,

“Aku datang untuk menghancurkan Ka’bah, tetapi engkau hanya meminta unta?”

Dengan tenang Abdul Muthalib menjawab:

“Aku pemilik unta-unta itu. Adapun Ka’bah, ia memiliki Tuhan yang akan menjaganya.”

Kalimat ini begitu agung.

Ia menunjukkan keyakinan penuh kepada Allah.

Dan benar, Allah menjaga rumah-Nya dengan mengirim burung Ababil.

Peristiwa ini terjadi pada tahun kelahiran Rasulullah ﷺ.


Kasih sayangnya kepada Muhammad kecil

Ketika Abdullah wafat dan Aminah kemudian meninggal, Muhammad kecil diasuh oleh Abdul Muthalib.

Kasih sayangnya sangat besar.

Ia sering mendudukkan cucunya di tempat duduk kehormatannya di dekat Ka’bah.

Ketika ada yang hendak melarang, ia berkata:

“Biarkan anakku ini, kelak ia akan memiliki kedudukan yang agung.”

Seolah hatinya merasakan sesuatu yang besar tentang cucunya.

Namun kebersamaan itu tidak berlangsung lama.

Abdul Muthalib wafat ketika Nabi masih kecil.

Kepergiannya menjadi duka yang mendalam bagi Muhammad kecil.


Penutup

Kisah Abdul Muthalib adalah kisah tentang kehormatan, kepemimpinan, keyakinan, dan kasih sayang.

Melalui dirinya, Allah menyiapkan lingkungan keluarga yang mulia bagi kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Ia bukan sekadar kakek Rasulullah, tetapi salah satu tokoh penting yang menjadi bagian dari sejarah besar datangnya Islam.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *