Di antara salah satu ketakutan besar yang dialami oleh para pemuda adalah menjadi generasi sandwich. Bayangkan, dengan keadaan ekonomi yang tidak pasti, seseorang merasa tertuntut untuk membiayai kehidupan sendiri dan keluarganya. Misalnya, sang anak baru saja lulus kuliah, kemudian bekerja, gaji pas-pasan, tapi harus membiayai orang tua dan adik-adiknya agar sekolah.
Fenomena ini sangat banyak dialami oleh para pemuda di negeri kita. Ada orang-orang yang menjalaninya dengan senang, ada juga yang menjalaninya dengan berat hati. Bagi orang-orang yang senang menjadi generasi sandwich, melihat senyuman orang tua dan keluarga mungkin menjadi kebahagiaan tersendiri. Bagi yang tidak senang, maka mereka merasa hidupnya terbebani, apalagi terkadang ada keluarga yang tidak tahu terima kasih dan hanya bisa menuntut.
Tentunya, kondisi masing-masing orang berbeda, maka tidak bisa dihukumi sama. Namun, berbakti kepada orang tua tetaplah wajib dengan cara yang baik. Jika seseorang merasa berat membiayai keluarga dan orang tua karena beberapa keterbatasan, sebaiknya dikomunikasikan dengan cara yang baik bahwa ia sedang memiliki tujuan yang harus dicapai. Mungkin ini sangat berat, karena bisa jadi keluarganya mencela. Namun, tetaplah berbuat baik, sopan, dan gunakan kata-kata yang tidak menyakiti mereka. Yang terpenting, berdoalah agar Allah ubah keadaan ekonomi kita agar kita bisa lebih ringan membantu ekonomi keluarga.
Dalam Islam, membantu orang tua dan keluarga bukan sekadar budaya atau tuntutan sosial. Ini bisa menjadi ibadah yang sangat besar pahalanya jika dilakukan dengan ikhlas. Allah ta’ala berfirman,
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, ‘Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.’ Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 215)
Perhatikan, ketika Allah menyebutkan pihak yang berhak mendapatkan infak, yang pertama disebutkan adalah kedua orang tua, kemudian kerabat. Ini menunjukkan bahwa orang terdekat kita memiliki hak yang besar dalam kebaikan harta yang kita miliki.
Allah juga berfirman,
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros.”
(QS. Al-Isra’: 26)
Ayat ini memberikan pelajaran yang seimbang. Di satu sisi, kita diperintahkan memberi hak kepada kerabat. Di sisi lain, kita juga dilarang boros. Artinya, membantu keluarga bukan berarti harus menghancurkan keuangan sendiri tanpa perhitungan. Membantu tetap harus dengan ilmu, adab, dan kemampuan.
Nabi ﷺ juga bersabda bahwa ketika seorang muslim menafkahkan hartanya kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka itu bernilai sedekah baginya. Dalam hadis lain, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa dinar yang paling besar pahalanya adalah dinar yang seseorang nafkahkan untuk keluarganya.
Ini luar biasa. Kadang seseorang merasa amal besar itu hanya ketika ia memberi kepada orang jauh, membangun masjid, menyantuni orang yang tidak dikenal, atau berdonasi ke tempat tertentu. Padahal, uang yang ia berikan kepada orang tuanya, adiknya, istrinya, anaknya, atau keluarga yang menjadi tanggungannya juga bisa menjadi amal besar jika ia niatkan karena Allah.
Namun, perlu dipahami juga bahwa menjadi generasi sandwich bukan berarti seseorang harus memenuhi semua tuntutan keluarga tanpa batas. Tidak semua permintaan harus dituruti. Tidak semua gaya hidup keluarga harus dibiayai. Tidak semua beban harus diambil sampai membuat diri sendiri hancur, terlilit utang, atau mengabaikan kewajiban lain.
Islam adalah agama yang adil. Allah berfirman,
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…”
(QS. At-Taghabun: 16)
Allah juga berfirman,
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.”
(QS. Ath-Thalaq: 7)
Maka, orang yang penghasilannya masih kecil tidak sama dengan orang yang sudah mapan. Orang yang masih lajang tidak sama dengan orang yang sudah memiliki istri dan anak. Orang yang punya utang besar tidak sama dengan orang yang tidak punya tanggungan. Semua harus dilihat dengan adil.
Jika seseorang belum mampu membantu banyak, maka bantulah semampunya. Jika belum mampu memberi uang besar, maka berilah sedikit namun rutin. Jika belum mampu membantu biaya hidup, mungkin bisa membantu dengan tenaga, menemani orang tua berobat, mengurus administrasi, mencarikan solusi, atau sekadar menenangkan hati mereka. Jangan sampai karena merasa belum bisa memberi banyak, akhirnya tidak memberi apa pun dan menjauh sama sekali.
Terkadang yang dibutuhkan orang tua bukan hanya uang. Mereka butuh perhatian, kabar, kunjungan, doa, dan sikap lembut. Ada anak yang merasa sudah berbakti karena mengirim uang setiap bulan, tetapi ketika berbicara dengan orang tua nadanya kasar. Ada juga yang belum mampu memberi banyak, tetapi ia sangat perhatian, lembut, sering membantu, dan menjaga perasaan orang tuanya. Tentu yang paling baik adalah menggabungkan keduanya: membantu semampunya dan tetap menjaga adab.
Di sinilah pentingnya komunikasi. Jika orang tua atau keluarga meminta sesuatu di luar kemampuan, jangan langsung marah. Jelaskan dengan baik. Misalnya dengan mengatakan, “Saat ini saya baru mampu membantu sekian. Saya juga sedang menabung untuk kebutuhan penting. Insyaallah kalau nanti Allah beri kelapangan, saya ingin membantu lebih banyak.” Kalimat seperti ini lebih baik daripada diam, menghilang, atau menjawab dengan emosi.
Namun, keluarga juga perlu diingatkan dengan cara yang baik bahwa anak bukan mesin ATM. Anak juga punya masa depan, punya kebutuhan, dan bisa jadi suatu hari nanti ia juga harus membangun keluarganya sendiri. Membantu orang tua dan keluarga adalah kebaikan, tetapi menuntut tanpa memahami keadaan anak bukanlah sikap yang bijak.
Bagi seorang anak, jangan sampai istilah “generasi sandwich” membuat hati menjadi keras kepada orang tua. Jangan sampai istilah ini membuat kita merasa menjadi korban, lalu melupakan jasa mereka. Dulu saat kita kecil, kita tidak punya apa-apa. Kita hanya bisa menangis, meminta, merepotkan, dan bergantung penuh kepada orang tua. Namun mereka tetap merawat kita, membiayai kita, dan bersabar dengan segala kerepotan kita.
Sekarang ketika mereka mulai lemah, penghasilan berkurang, atau membutuhkan bantuan, apakah pantas kita merasa mereka hanya menjadi beban? Tentu hati seorang muslim tidak semestinya seperti itu. Mungkin memang berat, tetapi di balik beratnya ada pahala besar. Mungkin memang melelahkan, tetapi bisa jadi itulah pintu surga yang Allah bukakan untuk kita.
Nabi ﷺ pernah bersabda,
“Celakalah dia, celakalah dia, celakalah dia.” Ada yang bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya pada masa tua, salah satu atau keduanya, namun ia tidak masuk surga.”
(HR. Muslim)
Hadis ini seakan mengingatkan kita bahwa orang tua yang sudah tua bukan sekadar beban. Mereka adalah kesempatan besar. Kesempatan untuk menghapus dosa. Kesempatan untuk meraih ridha Allah. Kesempatan untuk membalas sebagian kecil jasa mereka, meskipun sebenarnya jasa orang tua tidak akan pernah bisa terbalas sempurna.
Maka menjadi generasi sandwich, why not?
Jika maksudnya adalah membantu orang tua, meringankan beban keluarga, menyekolahkan adik, dan menjaga silaturahmi, maka itu adalah kemuliaan. Itu bukan aib. Itu bukan tanda gagal. Bahkan bisa jadi itu adalah jalan pahala yang tidak Allah berikan kepada semua orang.
Namun, jalani dengan cara yang sehat. Buat batas kemampuan. Atur keuangan. Jangan boros. Jangan semua permintaan dituruti jika memang tidak mampu. Jangan memaksakan diri sampai terjerat utang yang merusak hidup. Komunikasikan dengan baik. Tetap hormati orang tua. Tetap sayangi keluarga. Dan jangan lupa minta pertolongan kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu melapangkan rezeki setelah kesempitan.
Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua, lapang hatinya dalam membantu keluarga, kuat dalam memikul amanah, dan diberi rezeki yang halal lagi berkah. Semoga setiap rupiah yang kita keluarkan untuk orang tua dan keluarga menjadi pahala, menjadi sebab turunnya keberkahan, dan menjadi jalan menuju ridha Allah.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan hanya tentang mengejar kenyamanan diri sendiri. Ada orang tua yang dahulu mengorbankan hidupnya untuk kita. Ada keluarga yang mungkin Allah titipkan kepada kita. Dan selama semua itu dijalani dengan iman, sabar, dan ikhlas, maka beban itu bisa berubah menjadi ibadah.
Leave a Reply