Di tengah kota Makkah yang ramai dengan perdagangan dan hiruk-pikuk pasar, nama Muhammad ﷺ semakin dikenal luas.
Beliau bukan orang terkaya di Quraisy.
Bukan pula pemuda yang paling berkuasa.
Namun beliau memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: akhlak yang mulia.
Kejujuran beliau dalam berdagang, kelembutan dalam berbicara, dan amanah dalam memegang titipan membuat seluruh Makkah mengenalnya dengan satu julukan:
Al-Amin
Nama baik ini sampai ke telinga seorang perempuan mulia dari kalangan Quraisy, yaitu Khadijah binti Khuwailid.
Ia adalah seorang saudagar kaya, terpandang, cerdas, dan sangat dihormati.
Banyak laki-laki bangsawan Quraisy yang ingin menikahinya.
Namun hatinya belum terpaut kepada siapa pun.
Sampai kemudian ia mengenal Muhammad ﷺ.
Kekaguman Khadijah
Setelah perjalanan dagang ke Syam yang dipimpin oleh Muhammad ﷺ menghasilkan keuntungan besar, Khadijah mendengar laporan dari pembantunya, Maisarah.
Maisarah bukan hanya menceritakan hasil dagang.
Ia lebih banyak menceritakan akhlak Muhammad ﷺ.
Ia bercerita bagaimana beliau jujur dalam setiap transaksi.
Tidak pernah menipu.
Tidak pernah mengambil keuntungan dengan cara licik.
Beliau lembut kepada orang lain.
Tenang dalam mengambil keputusan.
Sikapnya jauh berbeda dari kebanyakan pedagang Quraisy.
Semakin Khadijah mendengar kisah itu, semakin tumbuh rasa hormat di dalam hatinya.
Ia melihat bahwa Muhammad ﷺ bukan sekadar pedagang yang cerdas, tetapi seorang laki-laki dengan kepribadian yang sangat luhur.
Sebuah keputusan yang tidak biasa
Pada masa itu, bukan hal yang lazim bagi seorang perempuan untuk terlebih dahulu menyampaikan keinginan menikah.
Terlebih lagi Khadijah adalah perempuan terpandang, kaya, dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi.
Namun kemuliaan akhlak Muhammad ﷺ membuatnya mengambil keputusan yang tidak biasa.
Ia tidak memandang harta.
Ia tidak memandang status.
Ia memandang kemuliaan jiwa.
Karena itu, Khadijah menyampaikan keinginannya melalui seorang sahabat dekatnya, yang dalam banyak riwayat disebut Nafisah binti Munyah.
Nafisah mendatangi Muhammad ﷺ dan bertanya dengan lembut,
“Apa yang menghalangimu untuk menikah?”
Rasulullah ﷺ menjawab bahwa beliau tidak memiliki cukup harta untuk itu.
Lalu Nafisah berkata,
“Bagaimana jika engkau diajak menikah dengan seorang perempuan yang mulia, kaya, dan memiliki kedudukan?”
Beliau bertanya,
“Siapa?”
Nafisah menjawab,
“Khadijah.”
Bayangkan sejenak.
Seorang pemuda yatim dari Bani Hasyim, yang hidup sederhana, mendengar nama salah satu perempuan paling terhormat di Makkah.
Beliau terdiam.
Namun hati beliau terbuka untuk menerima usulan itu.
Persetujuan Rasulullah ﷺ
Setelah mengetahui niat baik itu, Muhammad ﷺ menyampaikan hal tersebut kepada paman-pamannya.
Keluarga Bani Hasyim pun menyambutnya dengan baik.
Bagi mereka, ini adalah pernikahan yang mulia.
Bukan karena kekayaan Khadijah, tetapi karena akhlak dan kehormatan kedua belah pihak.
Lamaran kemudian disampaikan secara resmi.
Pihak keluarga Khadijah menerima dengan penuh keridhaan.
Makna yang mendalam
Kisah lamaran Khadijah mengajarkan sesuatu yang sangat indah.
Yang membuat Khadijah tertarik bukanlah kemewahan dunia, tetapi kejujuran dan amanah.
Ini menunjukkan bahwa akhlak memiliki daya tarik yang jauh lebih besar daripada harta.
Sebelum menjadi nabi, Rasulullah ﷺ telah memikat hati manusia dengan kepribadian beliau.
Dan orang pertama yang melihat kemuliaan itu dari dekat adalah Khadijah رضي الله عنها.
Penutup
Lamaran Khadijah adalah awal dari salah satu rumah tangga paling mulia dalam sejarah manusia.
Ia dimulai bukan dengan kemewahan, tetapi dengan kekaguman terhadap akhlak.
Dari sinilah akan lahir rumah yang penuh ketenangan, cinta, dan dukungan bagi perjalanan kenabian Rasulullah ﷺ.
Leave a Reply