Menjelang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, kota Makkah telah menjadi salah satu pusat penting di Jazirah Arab.
Ia bukan kota yang hijau.
Bukan kota dengan sungai dan kebun-kebun luas seperti Syam atau Yaman.
Makkah adalah sebuah lembah yang dikelilingi bukit-bukit batu dan tanah yang kering.
Namun meskipun alamnya keras, kota ini hidup oleh sesuatu yang sangat istimewa: Ka’bah.
Ka’bah menjadikan Makkah pusat perhatian seluruh bangsa Arab.
Dari berbagai penjuru Jazirah, orang-orang datang ke sana untuk berhaji, berdagang, bermusyawarah, dan mengadakan pertemuan antarsuku.
Karena itulah masyarakat Makkah memiliki posisi yang sangat penting di tengah bangsa Arab.
Masyarakat yang hidup dalam sistem suku
Kehidupan masyarakat Makkah sangat bergantung pada kabilah atau suku.
Suku bukan hanya identitas keluarga, tetapi juga perlindungan, kehormatan, dan kekuatan sosial.
Seseorang dihormati karena sukunya.
Ia aman karena sukunya.
Ia dibela karena sukunya.
Jika satu orang dari suatu kabilah disakiti, maka seluruh anggota suku merasa wajib membelanya.
Karena itu, kehormatan suku menjadi sesuatu yang sangat dijaga.
Sedikit penghinaan dapat berubah menjadi permusuhan panjang.
Di Makkah, suku yang paling berpengaruh adalah Quraisy.
Mereka memegang kehormatan sebagai penjaga Ka’bah dan pengelola jamaah haji.
Di dalam Quraisy sendiri terdapat beberapa cabang keluarga besar, seperti:
- Bani Hasyim
- Bani Umayyah
- Bani Makhzum
- Bani Abdud Dar
Masing-masing memiliki kedudukan dan pengaruh tersendiri.
Kehidupan ekonomi: kota perdagangan
Karena Makkah tidak memiliki lahan pertanian yang luas, masyarakatnya sangat bergantung pada perdagangan.
Inilah yang membuat Quraisy dikenal sebagai bangsa pedagang yang tangguh.
Mereka memiliki kafilah yang melakukan perjalanan jauh ke:
- Syam pada musim panas
- Yaman pada musim dingin
Dari perjalanan ini mereka membawa berbagai barang dagangan seperti kain, rempah, kulit, dan hasil bumi.
Aktivitas perdagangan menjadikan sebagian masyarakat Quraisy hidup cukup makmur.
Pasar-pasar di Makkah ramai, terutama ketika musim haji tiba.
Pada masa itu, Makkah bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat ekonomi dan sosial.
Ka’bah: pusat spiritual sekaligus sosial
Ka’bah adalah jantung kehidupan Makkah.
Semua suku Arab memuliakan tempat ini.
Mereka datang untuk thawaf, berziarah, dan mengadakan ritual keagamaan.
Namun sayangnya, Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim عليه السلام untuk tauhid telah dipenuhi berhala-berhala.
Di sekelilingnya terdapat ratusan patung yang disembah oleh berbagai suku.
Setiap suku memiliki sesembahan masing-masing.
Di antaranya yang terkenal adalah:
- Hubal
- Latta
- Uzza
- Manat
Masyarakat Makkah percaya bahwa berhala-berhala itu dapat mendekatkan mereka kepada Allah.
Inilah bentuk kemusyrikan yang sangat kuat saat itu.
Akhlak masyarakat: antara kemuliaan dan jahiliyah
Masyarakat Arab Makkah memiliki dua sisi yang sangat kontras.
Di satu sisi, mereka memiliki sifat-sifat yang mulia.
Mereka dikenal:
- berani
- setia kepada janji
- sangat menghormati tamu
- pandai bersyair
- menjaga kehormatan keluarga
Seseorang yang datang sebagai tamu sering diperlakukan dengan sangat baik.
Kemurahan hati dianggap sebagai kemuliaan.
Syair juga menjadi bagian penting kehidupan mereka.
Para penyair memiliki kedudukan tinggi karena kata-kata mereka dapat mengangkat martabat suatu suku.
Namun di sisi lain, masyarakat Makkah juga tenggelam dalam banyak kebiasaan jahiliyah.
Mereka terbiasa dengan:
- minuman keras
- perjudian
- riba
- penindasan terhadap yang lemah
- kesombongan nasab
Kekuatan dan kekayaan sering menjadi ukuran kehormatan.
Yang miskin dan lemah mudah ditindas.
Budak diperlakukan dengan keras.
Kedudukan perempuan
Salah satu sisi paling kelam masyarakat Arab adalah perlakuan terhadap perempuan.
Dalam sebagian tradisi, perempuan dianggap tidak memiliki kedudukan yang setara.
Bahkan ada suku-suku yang menganggap kelahiran anak perempuan sebagai aib.
Sebagian dari mereka sampai tega mengubur bayi perempuan hidup-hidup.
Tradisi ini menunjukkan betapa gelapnya keadaan sosial saat itu.
Islam kemudian datang menghapus praktik tersebut dan mengangkat martabat perempuan.
Kekosongan ruhani
Di balik kemajuan perdagangan dan kuatnya kehidupan sosial, sebenarnya masyarakat Makkah mengalami kekosongan ruhani.
Mereka memiliki Ka’bah, tetapi kehilangan tauhid.
Mereka memiliki tradisi ibadah, tetapi tercampur dengan kemusyrikan.
Mereka memiliki kehormatan, tetapi akhlak banyak yang rusak.
Dalam keadaan seperti inilah Allah menyiapkan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.
Dari tengah masyarakat yang tenggelam dalam jahiliyah, lahirlah cahaya yang akan mengubah dunia.
Penutup
Kondisi masyarakat Arab di Makkah sebelum Islam adalah perpaduan antara kemuliaan budaya dan kegelapan akidah.
Mereka kuat dalam tradisi, tetapi lemah dalam petunjuk.
Mereka bangga pada kehormatan suku, tetapi jauh dari tauhid.
Memahami kondisi ini akan membantu kita melihat betapa besar perubahan yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.
Leave a Reply