Setelah wafatnya ibunda tercinta, Aminah binti Wahb, Muhammad kecil kembali ke Makkah dalam keadaan hati yang penuh duka.
Usianya baru sekitar enam tahun.
Di usia ketika seorang anak masih membutuhkan pelukan ibu, beliau telah merasakan kehilangan yang sangat besar.
Namun Allah tidak membiarkan beliau sendiri.
Di Makkah telah menunggu seorang tokoh yang sangat mencintainya, yaitu kakeknya, Abdul Muthalib.
Dalam kasih sayang sang kakek
Abdul Muthalib bukan orang biasa.
Ia adalah pemimpin Quraisy, penjaga kehormatan Ka’bah, dan tokoh yang sangat disegani di Makkah.
Wibawanya besar.
Perkataannya dihormati.
Namun di balik kewibawaannya, ia memiliki hati yang sangat lembut terhadap cucunya.
Sejak Muhammad kecil kembali dari Abwa’, kasih sayangnya tercurah sepenuhnya.
Ia seolah ingin menggantikan kehilangan yang dialami cucunya.
Setiap hari, Abdul Muthalib sering duduk di dekat Ka’bah pada tempat khusus yang disediakan untuknya.
Tempat itu sangat dihormati.
Tidak ada seorang pun yang berani duduk di sana.
Bahkan anak-anaknya sendiri tidak berani mendekat.
Namun Muhammad kecil sering datang dan duduk di pangkuannya atau di tempat duduk itu.
Ketika ada yang hendak melarang, Abdul Muthalib berkata dengan penuh kasih:
“Biarkan anakku ini, sesungguhnya ia akan memiliki kedudukan yang besar.”
Kalimat ini bukan hanya ungkapan sayang seorang kakek.
Seolah ada firasat di hatinya tentang masa depan cucunya.
Sosok yang istimewa di mata kakeknya
Abdul Muthalib memandang Muhammad kecil dengan cara yang berbeda.
Di tengah banyak cucunya, ada sesuatu pada diri anak ini yang membuat hatinya begitu terikat.
Wajahnya yang teduh.
Sikapnya yang tenang.
Kepribadiannya yang lembut.
Semua itu membuat beliau merasa cucunya bukan anak biasa.
Muhammad kecil pun merasakan kasih sayang yang hangat dari kakeknya.
Setelah kehilangan ayah dan ibu, sosok Abdul Muthalib menjadi tempat beliau berlindung.
Kehilangan untuk kedua kalinya
Namun ujian kembali datang.
Kebersamaan itu hanya berlangsung sekitar dua tahun.
Ketika Rasulullah ﷺ berusia sekitar delapan tahun, Abdul Muthalib jatuh sakit.
Kesehatannya terus menurun.
Di rumah Bani Hasyim, suasana kembali dipenuhi kesedihan.
Muhammad kecil yang telah dua kali kehilangan, kini harus menghadapi kenyataan pahit untuk ketiga kalinya.
Kakeknya wafat.
Bayangkan hati seorang anak kecil yang telah kehilangan ayah, ibu, dan kini kakek yang sangat mencintainya.
Ini bukan sekadar kehilangan keluarga.
Ini adalah pendidikan jiwa yang luar biasa dari Allah.
Dalam asuhan Abu Thalib
Sebelum wafat, Abdul Muthalib berwasiat agar Muhammad ﷺ diasuh oleh putranya, Abu Thalib.
Abu Thalib adalah paman Rasulullah ﷺ sekaligus saudara kandung ayah beliau, Abdullah.
Meskipun secara ekonomi hidup dalam keadaan sederhana, Abu Thalib memiliki hati yang sangat mulia.
Ia menerima amanah itu dengan penuh cinta.
Sejak saat itu, Muhammad kecil tinggal di rumah Abu Thalib.
Istri Abu Thalib, Fatimah binti Asad, juga memperlakukan beliau seperti anak sendiri.
Kasih sayang keluarga ini sangat besar.
Bahkan dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Abu Thalib lebih mencintai Muhammad ﷺ daripada anak-anaknya sendiri.
Tumbuh dalam kesederhanaan
Berbeda dengan kedudukan Abdul Muthalib yang terpandang, rumah Abu Thalib hidup dalam kesederhanaan.
Jumlah anggota keluarga cukup banyak.
Ekonomi tidak terlalu kuat.
Muhammad kecil tumbuh dalam suasana rumah yang sederhana.
Namun justru di sinilah beliau belajar kehidupan yang nyata.
Beliau tidak dibesarkan dalam kemewahan.
Beliau belajar memahami perjuangan hidup sejak dini.
Kesederhanaan ini membentuk jiwa beliau menjadi pribadi yang rendah hati dan sangat dekat dengan kaum lemah.
Kedekatan dengan Abu Thalib
Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Abu Thalib sangat erat.
Paman beliau tidak hanya menjadi pengasuh, tetapi juga pelindung dan pembela.
Kasih sayang itu terus berlanjut hingga masa kenabian.
Ketika dakwah Islam dimulai dan Quraisy memusuhi beliau, Abu Thalib tetap berdiri melindungi keponakannya.
Meskipun tidak memeluk Islam, ia menjadi benteng penting bagi keselamatan Nabi ﷺ di Makkah.
Semua itu bermula dari masa kecil ini.
Hikmah masa pengasuhan
Fase diasuh oleh Abdul Muthalib dan Abu Thalib menunjukkan bagaimana Allah menjaga Rasulullah ﷺ melalui tangan orang-orang yang mencintainya.
Beliau tumbuh dalam:
- kasih sayang
- kesederhanaan
- pengalaman kehilangan
- perlindungan keluarga
Semua ini membentuk jiwa yang kuat, lembut, dan siap menghadapi misi besar di masa depan.
Penutup
Masa bersama Abdul Muthalib dan Abu Thalib adalah masa pembentukan karakter Rasulullah ﷺ.
Di dalamnya ada kasih sayang seorang kakek, perlindungan seorang paman, dan ujian kehilangan yang berulang.
Semua itu menjadi bagian dari persiapan Allah bagi seorang nabi yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Leave a Reply