Di zaman sosial media, semua orang saling memperlihatkan pencapaian. Ada yang jalan-jalan, kulineran, ada yang kerja di perusahaan BUMN, startup unicorn, atau multi-nasional, ada yang pamer hobi, ada juga yang hidup biasa-biasa saja sharing aktivitas sehari-hari. Namun ada fakta pahit di balik semua itu, tidak semua orang senang dengan kita. Bahkan, pasti ada saja orang yang secara diam-diam hasad meskipun tidak langsung diungkapkan ke kita. Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita? Memang ada anjuran untuk menyembunyikan seluruh aktivitas tersebut, daripada mempublikasikannya. Mungkin ada beberapa teman atau follower menjalani hidup yang lebih keras dari kita. Melihat kita bersenang-senang, tentu mereka secara alami akan merasa bahwa hidup tidaklah adil. Memang ini bukanlah salah kita, namun perlu menjadi renungan dan pertimbangkan apa yang akan kita posting.
Saya termasuk orang yang membagikan beberapa aktivitas saya ke sosial media, tidak secara berlebihan. Saya hanya ingin mengabari beberapa orang terdekat saya tentang kondisi saya sekarang, tanpa harus bertemu atau melakukan DM satu persatu. Terkadang dari sanalah tercipta beberapa peluang untuk saling berbagi dan berkomunikasi. Jika hanya pasif di sosial media, dengan postingan 0 dan aktivitas misterius, maka lebih baik tidak perlu punya sosial media sekalian, karena hal tersebut bukanlah fungsi dari sosial media. Nah, di sinilah sesuatu yang menarik itu hadir. Bagaimana caranya kita menjadikan aktivitas kita justru trigger untuk saling berbagi kabar? Misal, teman-teman saya sedang berlibur ke pantai, maka tidak ada salahnya menanyakan hal seperti ini: “Wih mantep pantainya bro, kapan-kapan bareng lah kesana ya, gw ngumpulin duit dulu!” Tentu komunikasi hangat seperti ini bisa mengurangi rasa hasad daripada melakukan stalk secara diam-diam. Atau, jika melihat prestasi teman dan kondisi kita sedang tidak sebagus mereka, cukup lakukan hal yang sama. “Wih, congrats bro, semoga nular. Btw bagi tipsnya dong biar bisa kayak lu, gw udah lama nganggur nih.” Tidak ada salahnya, kan? Orang seperti ini cenderung lebih bahagia meskipun sedang dalam kesulitan.
Merasa senang terhadap kelebihan orang lain dan menerima apa yang dimiliki kita saat ini adalah kunci kebahagiaan dan terlepas dari penyakit hati. Selain itu, menjalin komunikasi hangat dengan teman adalah salah satu cara memperbanyak rezeki. Daripada orang-orang yang misterius namun diam-diam menyimpan rasa iri, dengki, hal tersebut hanya akan merugikan diri sendiri. Namun, alangkah baiknya seluruh aktivitas hanya dibagikan ke orang-orang terdekat bukan ke publik. Jika dibagikan secara berlebihan ke publik, maka hal ini menimbulkan beberapa bahaya lainnya. Salah satunya adalah orang tersebut akan merasa haus akan validasi dan pengakuan dari publik. Ketika seseorang sudah di level menjadi perhatian publik, maka sebagian kehidupannya akan dikontrol oleh opini publik, padahal dia tau apa yang terbaik bagi dirinya. Sering saya temukan seseorang plin plan dalam mengambil keputusan karena takut netizen berkomentar negatif terhadapnya. Ketika berbuat kesalahan, banyak yang mental menjadi down karena tidak tahan melihat komentar-komentar negatif.
Leave a Reply