Dari kecil, kita sudah kenyang dicekoki dengan dunia perhantuan. Mulai dari nonton film horor, denger mitos-mitos, dan masuk Dufan pun ada wahana rumah hantu. Jujur saja, waktu kecil saya memang takut dengan hantu, namun semenjak kelas 4 SD hingga sekarang tidak lagi, bahkan tidak menarik lagi bagi saya. Justru saya melihat banyak sekali kekonyolan orang-orang yang sering membahas perhantuan di tongkrongan, sosial media, bahkan kumpulan keluarga. Menurut saya, takut dengan hantu apalagi usia dewasa adalah suatu kebodohan yang entah kapan hilangnya dari tanah air tercinta ini.
Secara logis, saya belum pernah menemukan seseorang tewas digigit kuntil anak, atau dicakar genderuwo. Seandainya ada, mungkin saya juga akan takut. Namun yang ada hanyalah mitos-mitos yang diceritakan secara berulang bertujuan untuk menakut-nakuti. Saya percaya terhadap sihir, dan memang hal itu terjadi, bahkan saya menyaksikan beberapa teman yang kena sihir. Namun kepercayaan saya terhadap sihir tidak menjadikan saya takut kepada hantu. Bahkan, saat kecil, saya sering pergi ke kuburan untuk mencari sesuatu yang ibu saya butuhkan, malam-malam. Awalnya memang gemetar, karena sangat gelap dan saya merasa takut ada makhluk lain yang mencelakai saya. Namun, ketika hal tersebut dilakukan berulang-ulang, rasa takut itu hilang sampai saat ini, alhamdulillah.
Ketika tinggal di Portugal, kebetulan samping kontrakan adalah pabrik, dan saya tinggal bukan di pusat kota, namun juga bukan pedesaan. Di sekitar kontrakan ada taman yang sangat luas, namun sepi. Taman tersebut sangat indah dengan pohon-pohon yang tertata, kursi-kursi, dan ada sungai. Berjalan beberapa meter, ternyata ada gereja tua yang kosong dan saya hanya melihat satu dua orang yang berada di gereja tersebut (mungkin sedang beribadah). Saya sering berimajinasi, seandainya gereja itu ada di Indonesia, mungkin saya akan mendengar sejuta cerita horor dari orang-orang sekitar dan para konten kreator yang borangan (penakut). Kebetulan kontrakan saya juga sering sekali mati lampu, dan mati lampu di rumah tersebut sangat berbeda dengan di Indonesia. Saat mati lampu, saya harus menghubungi pemilik agar berbicara bahasa Portugis kepada otoritas setempat. Saat mati lampu, sering saya dengar benda jatuh, gonggongan anjing, dan lain sebagainya. Hal tersebut membuat saya berimajinasi, seandainya orang Indonesia yang borangan tinggal di sana maka akan membawa sejuta cerita horor ketika pulang ke tanah air.
Namun pikiran saya selalu tertuju kepada hal-hal yang logis daripada hal-hal yang spekulatif, misalnya jika benda jatuh, berarti didorong hantu. Itu sangatlah konyol, dan tentunya akan merusak mental jika diikuti. Jika saya melihat sosial media, banyak sekali konten kreator yang sering membuat konten perhantuan. Ada yang eksperimen di kuburan, di rumah kosong, bahkan ada konten kreator mereview hotel dengan narasi horor. Jujur saja, saya sangat membenci mereka dan sangat ingin memarahi mereka, seandainya ada di hadapan saya. Bayangkan saja, hotel yang dirawat oleh pemiliknya gara-gara review horor tersebut menjadi sepi, karena mayoritas masyarakat kita memang borangan. Pekerja-pekerja hotel jadi terdampak, dan investasi jadi amburadul gara-gara konten yang menurut saya adalah kebodohan. Wajar saja, masyarakat Indonesia gemar mengkonsumsi film horor, entah saya kurang mengerti maksudnya. Apakah mereka ingin menguji mental dengan film horor, ataukah mereka ingin menambah keyakinan bahwa hantu itu memang se-powerful itu.
Saya pernah mendengar cerita dari konten kreator, bahwasanya dia secara konyol menyuruh anak dan suaminya pindah hotel gara-gara mendengar beberapa suara kecil saja. Dia berhalusinasi bahwa ada suara perempuan, anak-anak, dan benda jatuh. Suaminya sangat kelelahan karena seharian telah beraktivitas ditambah harus menyetir. Namun, karena si istri adalah orang yang borangan (penakut), suami dan anaknya menjadi korban suruh mencari hotel lain yang menurutnya tidak horor. Suami dan anaknya disuruh bangun untuk pindah ke hotel baru tersebut, dan tentunya mereka marah-marah. Pertengkaran-pun terjadi, namun itulah dampak dari mentalitas yang buruk.
Takut terhadap hantu membuat hidup seseorang semakin ruwet tidak karuan, padahal hidup sangatlah sederhana. Untuk mengurangi ketakutan terhadap hantu, seseorang memang harus melatih dan memberanikan diri. Memang tidak mudah, tapi hal tersebut jauh lebih baik daripada harus dijadikan budaya turun temurun.
Leave a Reply