Menjelang Lebaran, saya dan seorang teman sepakat untuk berburu baju di pusat kota Bandung. Kami berangkat dari Cimahi sekitar jam sembilan malam, memarkirkan motor di sekitar alun-alun Bandung, lalu berjalan menyusuri pertokoan sambil lihat-lihat baju.
Sampai di situ, ceritanya masih biasa saja.
Yang tidak biasa terjadi sekitar jam sebelas malam, ketika kota sudah mulai sepi dan kami bersiap pulang. Saat saya merogoh saku celana untuk mengambil uang, kunci motor ikut tertarik keluar — dan sebelum sempat saya tangkap, plung. Kunci itu jatuh tepat ke dalam lubang selokan kota yang dalamnya bukan main, seperti ini:

Saya menatap lubang itu beberapa detik.
Waduh jatoh, gimana ini gak mungkin diambil kayaknya.
Membongkar grill saluran yang terpasang kokoh, jam sebelas malam, di tengah jalan kota? Tidak mungkin. Merogoh tangan sampai ke dasar? Juga tidak mungkin. Saya sudah hampir pasrah — kami tidak bisa pulang malam ini.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Teman saya orang KBB, rumahnya sekitar dua jam dari Bandung. Kami tidak punya cukup uang untuk patungan ongkos Gojek ke sana dan kembali lagi — yang artinya kami harus menunggu empat jam di tengah kota, tengah malam, tanpa kepastian. Motor diparkir di tempat yang tidak terlalu aman. Semakin lama ditinggal, semakin besar biaya parkir. Dan yang paling mengganggu pikiran: kami akan menginap di mana?
Teman saya mulai panik.
Teman: “Kita cari angkot ke Cimahi aja gimana? Motor tinggal di sini, besok balik lagi.”
Saya: “Dari tadi nggak ada angkot lewat. Terus kalau motor hilang gimana?”
Teman: “Titipin ke tukang parkir.”
Saya: “Nggak menjamin. Banyak kejadian motor hilang. Emangnya sampai besok tukang parkirnya masih yang sama? Kalau ganti shift gimana?”
Kami terdiam. Semua opsi mentok. Menginap motor semalam lalu pulang naik angkot — tidak realistis. Menunggu empat jam — tidak mungkin. Saya akhirnya nyeletuk, setengah serius setengah tidak:
Saya: “Dulu waktu saya mau dipalak preman, saya berdoa — dan tiba-tiba premannya malah ngambil ke teman saya, bukan ke saya. Mungkin kita berdoa aja sekarang. Siapa tau kuncinya bisa terbang keluar, wkwkwk.”
Teman saya menatap saya dengan ekspresi antara putus asa dan geli.
Tapi saya berdoa sungguh-sungguh.
“Ya Allah, ini sudah buntu. Kami sudah capek dan ingin pulang. Tapi kunci motor jatuh ke selokan, dan tidak mungkin kami bisa mengambilnya sendiri.”
Beberapa detik kemudian, dari kejauhan, seorang pemulung berjalan lewat — membawa pengait panjang di tangannya.
Saya langsung menyikut teman saya.
Saya: (berbisik) “Eh, itu ada pemulung. Gimana kalau kita pinjem pengaitnya?”
Teman: “Nggak mungkin lah. Tadi kan dalem banget, susah.”
Saya: “Nggak ada salahnya dicoba.”
Saya langsung berlari mengejar si pemulung yang sudah berjalan agak jauh.
Saya: “Mang, mang! Pinjem pengaitnya sebentar — nanti saya bayar goceng!”
Si pemulung berhenti, menatap saya sebentar, lalu dengan senang hati menyerahkan pengaitnya.
Saya kembali ke lubang selokan itu. Menarik napas.

Saya: “Bismillah. Siapa tau nyangkut.”
Saya masukkan pengait ke dalam grill saluran, menyapukannya perlahan ke dasar yang gelap. Memang dalam. Memang tidak kelihatan apa-apa.
Setelah BEBERAPA DETIK SAJA, saya angkat.
Dan di ujung pengait itu — TERSANGKUT KUNCI MOTOR SAYA!!!
Saya terpaku beberapa detik, tidak percaya dengan apa yang saya lihat.
Ingin sujud syukur, tapi ingat kami sedang di tengah jalan. Ingin teriak, tapi hanya bisa tertawa — tawa yang keluar begitu saja, campur aduk antara lega, kaget, dan tidak habis pikir. Teman saya syok, matanya melotot, tidak sanggup berkata apa-apa.
Saya kembalikan pengait kepada si pemulung dengan senyum selebar-lebarnya, lalu menyerahkan lima ribu rupiah. Dia berlalu begitu saja, mungkin tidak tahu betapa berartinya dia malam itu.
Kami pulang ke Cimahi sambil tertawa sepanjang jalan.
Sampai sekarang saya masih memikirkannya. Secara logika, kemungkinan kunci itu tersangkut di pengait sangatlah kecil — gantungan kuncinya kecil, dasarnya gelap, dan saya memasukkan pengait itu nyaris tanpa arah. Tapi dia tersangkut. Sempurna.
Kalau bukan karena sesuatu yang mengarahkannya — saya tidak tahu harus menyebut kejadian itu apa. Tidak mungkin ada 2 kebetulan secara bersamaan, ini memang sudah diatur oleh Allah pencipta alam.
Kesimpulan, mengapa cerita ini membuat keimanan saya bertambah:
- Kita dibuat seolah-olah frustasi, tidak ada solusi apapun kecuali pasrah hal buruk terjadi. Seperti motor bisa saja hilang dan kita tidak bisa pulang.
- Di momen frustasi tersebut tetap ada harapan, kemudian berdoa dengan penuh harap, karena tidak ada lagi tempat meminta pertolongan. Entah mengapa saya tidak percaya kepada manusia lagi saat itu.
- Allah mengabulkan doa bukan dengan cara super ajaib seperti kunci terbang dari selokan, melainkan dengan menurunkan sebab yaitu:
- Tiba-tiba pemulung datang entah dari arah mana setelah berdoa. Mengapa bukan dari tadi? Mengapa tiba-tiba saya terinspirasi meminjam pengait pemulung tersebut sedangkan teman saya mengatakan tidak mungkin?
- Tiba-tiba saya mengarahkan pengait ke lubang yang tepat, tidak mengulang-ulang sama sekali. Satu kali percobaan langsung berhasil, padahal jarak pengait dengan selokan tersebut hampir tidak terjangkau.
Leave a Reply