Ketika Dunia Menjadi Papan Skor

Kita tentu sering berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Sejak mulai sekolah, kita kerap mendengar guru bertanya, “Anak-anak, cita-citanya mau jadi apa?” Ada yang ingin menjadi pilot, insinyur, dosen, pemain bola, dan lain-lain. Sejak kecil, manusia memiliki fitrah untuk menginginkan kedudukan, kehormatan, dan tentu saja harta yang melimpah.

Seiring bertambahnya usia, kita dihadapkan pada realitas yang tidak selalu sejalan dengan harapan. Kita sering membuat target pencapaian, tetapi hidup terasa berjalan di tempat. Di sisi lain, media sosial menampilkan banyak orang yang memamerkan pencapaian—mulai dari mobil mewah, perjalanan ke luar negeri, hingga pendidikan di kampus ternama. Hal ini secara tidak langsung memengaruhi cara pandang kita terhadap dunia.

Pertanyaannya, apakah kita kurang beruntung? Atau justru kurang bersyukur? Mengapa kita sering menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar kebahagiaan? Mengapa tidak menciptakan kebahagiaan versi diri sendiri?

Sering kali, di platform seperti X maupun Threads, kita melihat orang berharap gaji dua kali lipat UMR. Ada yang menargetkan dua digit, yaitu di atas 10 juta rupiah. Ada pula yang menginginkan 20 juta, bahkan berangan-angan hingga ratusan juta per bulan. Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak ada standar baku kebahagiaan. Seseorang cenderung membandingkan dirinya dengan mereka yang berada di atasnya.

Jika kebiasaan ini dibiarkan, dampaknya bisa memengaruhi kondisi mental dan mengurangi rasa syukur. Seseorang yang sebenarnya baik-baik saja dapat merasa kekurangan ketika mulai menjadikan orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaannya. Misalnya, seseorang berkata, “Wah, enak ya sudah bisa ke Labuan Bajo.” Lalu, orang yang sudah ke Labuan Bajo berkata, “Enak juga ya, dia sudah bisa ke Paris.” Pola ini terus berlanjut hingga akhirnya dunia terasa seperti “papan skor”.

Hal serupa juga terjadi dalam dunia barang bermerek. Ada semacam “kelas-kelas” tertentu. Kalangan pekerja kantoran mungkin hanya mampu membeli merek seperti Coach, Charles & Keith, atau Michael Kors. Mereka bisa merasa minder ketika berada di lingkungan yang menggunakan merek kelas atas seperti Louis Vuitton, Hermès, atau Gucci. Bahkan, mereka yang sudah berada di level tersebut pun masih bisa merasa tidak cukup ketika melihat orang lain memiliki barang edisi terbatas bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Pada titik ini, yang dicari bukan lagi fungsi dari suatu barang, melainkan rasa superioritas—perasaan berada di atas orang lain dari segi status dan kekayaan. Kebahagiaan pun bergeser menjadi sesuatu yang bergantung pada validasi orang lain.

Padahal, setiap manusia mampu menciptakan kebahagiaan versinya sendiri tanpa harus bergantung pada pencapaian orang lain. Ketika seseorang bergaji UMR, ia bisa bersyukur karena masih banyak yang belum memiliki pekerjaan. Ketika gajinya sudah belasan juta, ia pun tetap bisa bersyukur karena masih ada yang berada di bawahnya.

Namun, bersyukur bukan berarti pasrah dan berhenti berusaha. Kita tetap perlu berikhtiar untuk memperbaiki keadaan. Yang terpenting, ikhtiar tersebut dilakukan untuk membahagiakan diri sendiri—bukan sekadar mengejar standar yang ditentukan oleh orang lain.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *