Meminjam Pemikiran Ateis Untuk Menyikapi Orang Tua

Di antara fenomena yang memprihatinkan adalah banyak sekali anak muda yang mulai terpengaruh oleh pemikiran ateis. Apa maksudnya? Maksud saya adalah, mereka memang mengaku beragama namun menjadikan ajaran agama bagaikan hidangan prasmanan yang boleh diterima sebagian dan ditolak sebagian. Topik-topik yang sering dibahas adalah soal sosial dan sains. Saya pernah berdebat dengan beberapa Gen-Z tentang pentingnya berbakti kepada orang tua meskipun mereka zalim. Namun apa yang saya dapat? Yang saya dapatkan hanyalah bullyan dengan narasi yang justru merendahkan ajaran agama. Misal, “Kamu mending ngomong sama kaki ibumu, karena kaki ibumu adalah surga.” “Kamu gak pernah merasakan gimana rasanya dituntut orang tua harus begini begitu, terus saya harus berbakti ke mereka? Hellow.” Dan banyak lagi hal-hal yang menurut saya menyakitkan. Saya telah sampaikan, bahwa ajaran berbakti kepada orang tua adalah ajaran vital di agama Islam, namun mereka tidak peduli dan justru membawa pemikiran-pemikiran barat akan hal ini. Bahkan ada yang menjawab, “Kalau orang tua sudah melahirkan anak maka telah menjadi kewajiban mengurus anak sampai dewasa, toh si anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Kok kita wajib mengurus mereka?”

Yang saya perhatikan, buruknya hubungan mereka dengan orang tua bukan karena disebabkan banyaknya tuntutan dan alasan-alasan lain yang mereka ungkapkan, melainkan memang mereka tidak menyadari besarnya peran orang tua. Ketika menyadari bahwa berharganya jasa orang tua dalam kehidupan, saya yakin mereka akan berusaha memperbaiki hubungan dengan orang tuanya masing-masing. Menariknya, sikap Gen-Z sangat jauh berbeda dengan Gen-Millenial. Saya beri contoh yang sangat sederhana,

Ketika ada masalah di kantor, generasi milenial cenderung ingin memperbaiki hubungan dengan atasan meskipun mereka ditekan habis-habisan dan dimarahi oleh atasannya. Karena mereka tau karir dan kehidupan mereka akan terancam jika hubungannya dengan atasan memburuk. Bahkan mereka sering meminta maaf dan berusaha bagaimana agar bisa selamat di dalam pekerjaan.

Berbeda dengan Gen-Z, mereka cenderung melawan dan memberontak. Jika mereka tidak merasa cocok dengan atasan, maka solusi mereka adalah resign, healing, dan menjelek-jelekkan perusahaan secara terus menerus. Mereka terkadang tidak peduli apa yang terjadi setelah kehilangan pekerjaan. Sikap ini juga mereka bawa dalam menyikapi orang tua. Mungkin, perbedaan karakter inilah yang menyebabkan hubungan Gen-Z dengan orang tuanya jika sudah memburuk maka akan semakin memburuk, daripada harus berusaha memperbaiki agar lebih baik. Mereka merasa bahwa mereka harus lebih “dimengerti”. Jika saya mengobrol tentang orang tua, yang sering saya temukan mereka tidak ada keinginan kuat untuk memiliki hubungan baik, padahal orang tua tidak akan pernah berbekas hingga mati.

Berbicara soal kezaliman orang tua, harus diakui memang ada orang tua yang zalim. Hal tersebut adalah takdir yang mungkin kita tidak pernah harapkan. Namun, yang membedakan adalah bagaimana sikap kita ketika ditakdirkan mendapatkan orang tua yang seperti itu. Apakah ingin memperbaiki hubungan, atau membiarkan hubungan tersebut terus memburuk. Banyak sekali orang yang berhasil memperbaiki hubungannya dengan orang tua. Yang mungkin dulunya sering bertengkar, kini hubungan mereka menjadi hangat setelah melakukan beberapa usaha. Memperbaiki atau membiarkan hubungan dengan orang tua adalah pilihan masing-masing. Namun, mengapa disini saya membawa narasi ateis? Karena meskipun disebutkan di dalam Al-Qur’an berkali-kali dan dalam hadist berkali-kali, banyak orang yang mengabaikannya dan lebih memilih pemikiran serta emosi sendiri.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *