Di masa remajanya, sebelum dikenal sebagai pedagang besar dan sebelum menerima wahyu, Muhammad ﷺ menjalani kehidupan yang sederhana.
Beliau tidak tumbuh dalam kemewahan.
Tidak pula menghabiskan masa mudanya dalam kesenangan sebagaimana sebagian pemuda Quraisy.
Sebaliknya, beliau memilih bekerja sejak usia muda.
Salah satu pekerjaan yang beliau jalani adalah menggembala kambing.
Kehidupan yang sederhana
Di sekitar Makkah, bukit-bukit batu dan padang yang kering menjadi tempat penggembalaan kambing.
Pada pagi hari, ketika matahari mulai naik di atas perbukitan, Muhammad muda membawa kambing-kambing ke luar kota.
Langkah beliau menyusuri jalan-jalan berbatu.
Di hadapannya terbentang lembah-lembah sunyi.
Angin gurun berhembus pelan.
Di tempat-tempat yang jauh dari keramaian kota itulah beliau menghabiskan banyak waktu.
Pekerjaan ini mungkin tampak sederhana.
Namun bagi seorang remaja, menggembala kambing adalah pekerjaan yang menuntut kesabaran dan ketelitian.
Kambing adalah hewan yang mudah terpencar.
Jika lengah sedikit saja, mereka dapat berpisah dari kelompok.
Karena itu penggembala harus selalu waspada.
Bekerja untuk membantu keluarga
Pada masa itu, Rasulullah ﷺ tinggal dalam asuhan pamannya, Abu Thalib.
Keluarga Abu Thalib hidup dalam kesederhanaan.
Jumlah anggota keluarga cukup banyak, sementara kondisi ekonomi tidak terlalu kuat.
Karena itu, Muhammad ﷺ tidak ingin menjadi beban.
Beliau memilih bekerja dan membantu.
Ini menunjukkan bahwa sejak muda beliau telah memiliki jiwa tanggung jawab.
Beliau tidak bergantung sepenuhnya kepada orang lain.
Beliau terbiasa mencari penghidupan dengan tangannya sendiri.
Sekolah kesabaran
Menggembala kambing bukan pekerjaan yang mudah.
Ia menuntut waktu yang panjang dalam kesunyian.
Kadang di bawah panas matahari.
Kadang harus menempuh jalan berbatu.
Kadang harus mencari kambing yang tersesat.
Semua ini melatih jiwa untuk bersabar.
Dan memang, para nabi sering melewati fase ini.
Rasulullah ﷺ sendiri bersabda bahwa tidak ada nabi kecuali pernah menggembala kambing.
Ketika para sahabat bertanya,
“Termasuk engkau, ya Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Ya, aku menggembalakannya untuk penduduk Makkah dengan beberapa qirath.”
Hadis ini menunjukkan bahwa masa menggembala adalah bagian dari sunnatullah dalam membentuk jiwa para nabi.
Sekolah kepemimpinan
Ada hikmah yang sangat dalam dari pekerjaan ini.
Menggembala kambing adalah latihan kepemimpinan.
Seorang penggembala harus:
- menjaga kelompok
- memastikan tidak ada yang tertinggal
- melindungi dari bahaya
- mengarahkan ke tempat yang aman
Bukankah ini mirip dengan tugas seorang pemimpin?
Kelak Rasulullah ﷺ akan memimpin umat manusia.
Masa menggembala ini seakan menjadi latihan awal.
Beliau belajar memimpin makhluk yang lemah, sebelum memimpin manusia.
Beliau belajar menjaga yang tersesat, sebelum membimbing umat menuju jalan yang lurus.
Sekolah perenungan
Kesunyian padang pasir juga memberi ruang bagi jiwa untuk merenung.
Jauh dari keramaian pasar dan hiruk-pikuk Makkah, Muhammad muda banyak menghabiskan waktu bersama alam.
Langit yang luas.
Bukit-bukit batu.
Angin gurun.
Malam yang dipenuhi bintang.
Semua itu membentuk jiwa yang tenang dan dalam.
Bisa jadi dari sinilah tumbuh kecenderungan beliau untuk menyukai perenungan dan kesunyian, yang kelak memuncak dalam kebiasaan bertahannuts di Gua Hira.
Akhlak yang tetap terjaga
Meskipun hidup di tengah masyarakat jahiliyah, masa muda Rasulullah ﷺ tetap bersih dari kebiasaan buruk pemuda saat itu.
Beliau tidak dikenal ikut dalam pesta minuman keras.
Tidak terlibat perjudian.
Tidak ikut dalam kebiasaan sia-sia.
Sebaliknya, beliau mengisi masa mudanya dengan kerja, tanggung jawab, dan perenungan.
Inilah yang semakin menguatkan julukan beliau sebagai Al-Amin.
Penutup
Masa menggembala kambing adalah fase sederhana tetapi sangat bermakna dalam kehidupan Rasulullah ﷺ.
Di padang pasir yang sunyi, Allah membentuk beliau dengan:
- kesabaran
- tanggung jawab
- kepemimpinan
- ketenangan jiwa
Dari seorang penggembala kambing, kelak lahir pemimpin umat manusia.
Leave a Reply