Sebelum cahaya kenabian lahir ke dunia, sebuah kesedihan telah lebih dahulu menyelimuti rumah Bani Hasyim.
Di tengah kebahagiaan menanti kelahiran seorang anak, takdir Allah menetapkan sebuah ujian yang begitu berat.
Ayah Rasulullah ﷺ, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum sempat melihat wajah putranya.
Peristiwa ini menjadi bagian pertama dari perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ yang penuh hikmah.
Abdullah: pemuda yang dicintai
Abdullah adalah putra Abdul Muthalib yang sangat dicintai.
Ia dikenal sebagai pemuda yang tampan, lembut perangainya, dan memiliki kehormatan di tengah Quraisy.
Di antara anak-anak Abdul Muthalib, Abdullah memiliki tempat yang istimewa di hati ayahnya.
Terlebih lagi, ia adalah anak yang pernah hampir menjadi korban nazar Abdul Muthalib, lalu Allah menyelamatkannya dengan tebusan seratus ekor unta.
Sejak saat itu, Abdullah semakin dicintai dan dipandang sebagai putra yang membawa keberkahan.
Ketika tiba waktunya menikah, Abdul Muthalib memilihkan seorang perempuan mulia dari Bani Zuhrah, yaitu Aminah binti Wahb.
Pernikahan itu disambut dengan penuh kebahagiaan.
Dua keluarga terhormat Quraisy kini dipersatukan.
Tidak ada yang menyangka bahwa kebahagiaan itu akan berlangsung sangat singkat.
Perjalanan dagang yang tak kembali
Tidak lama setelah pernikahan, Abdullah berangkat dalam sebuah perjalanan dagang.
Sebagaimana tradisi Quraisy, perdagangan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kafilah sering melakukan perjalanan jauh ke Syam atau wilayah lain.
Dalam salah satu perjalanan itulah Abdullah singgah di Yatsrib (Madinah), tempat keluarga dari pihak ayahnya memiliki hubungan kerabat.
Namun di sana, ia jatuh sakit.
Sakitnya semakin parah.
Kafilah yang bersamanya akhirnya kembali ke Makkah, sementara Abdullah tertinggal untuk beristirahat di rumah kerabat.
Hari demi hari berlalu.
Kabar yang datang ke Makkah bukanlah kabar kesembuhan.
Yang datang adalah berita duka.
Abdullah wafat di Yatsrib.
Ia meninggal dalam usia muda.
Dan yang lebih menyentuh hati, saat itu Aminah sedang mengandung.
Anak yang dikandungnya belum lahir.
Belum pernah memeluk ayahnya.
Belum pernah mendengar suaranya.
Belum pernah melihat wajahnya.
Anak itu adalah Muhammad ﷺ.
Kesedihan Aminah
Bayangkan suasana hati Aminah saat menerima kabar itu.
Seorang istri muda yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya, tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa suaminya telah tiada.
Rumah yang semula dipenuhi harapan kini diliputi kesunyian.
Di dalam rahimnya tumbuh seorang anak yang akan lahir tanpa ayah.
Betapa berat kesedihan itu.
Namun di balik duka tersebut, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang besar.
Nabi lahir sebagai yatim
Dengan wafatnya Abdullah, Rasulullah ﷺ lahir sebagai anak yatim.
Ini bukan sekadar detail sejarah.
Ini adalah bagian dari pendidikan ilahi yang sangat dalam.
Allah memilih agar Rasul-Nya tumbuh merasakan pahitnya kehilangan sejak awal.
Beliau tidak dibesarkan dalam kemewahan seorang anak bangsawan yang lengkap dengan kasih sayang ayah.
Beliau tumbuh dalam kelembutan sekaligus ujian.
Mungkin inilah salah satu hikmah mengapa kelak hati beliau sangat lembut kepada anak yatim.
Beliau merasakan sendiri bagaimana kehilangan itu.
Karena itu, dalam dakwahnya, beliau sangat menekankan kasih sayang kepada anak yatim dan kaum lemah.
Allah berfirman:
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”
(QS. Ad-Duha: 6)
Ayat ini seolah mengingatkan bahwa sejak awal hidupnya, Allah sendiri yang menjadi penjaga Rasulullah ﷺ.
Hikmah di balik ujian
Wafatnya ayah sebelum kelahiran bukanlah musibah tanpa makna.
Di balik peristiwa ini ada hikmah yang sangat besar.
Allah ingin menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ dibimbing langsung oleh-Nya.
Tidak ada figur ayah yang mendominasi pembentukan pribadi beliau.
Tidak ada pengaruh manusia yang terlalu kuat.
Beliau tumbuh dalam penjagaan Allah, melalui kakek, ibu, dan pamannya.
Semua ini menjadi bagian dari persiapan bagi seorang nabi yang kelak akan memimpin umat manusia.
Penutup
Sebelum Rasulullah ﷺ membuka mata ke dunia, beliau telah lebih dahulu kehilangan ayahnya.
Beliau lahir sebagai yatim, tetapi tidak pernah dibiarkan sendiri.
Allah telah menyiapkan penjagaan-Nya sejak awal.
Dari sinilah perjalanan hidup manusia terbaik itu dimulai: dari sebuah rumah yang diselimuti duka, lahir cahaya yang akan menerangi dunia.
Leave a Reply