Cinta Tanah Air Itu Penting Gak Sih?!

Saya adalah anak pramuka! Saat ikut pramuka, sering kali saya dapatkan materi dan pelatihan tentang cinta tanah air. Jujur saja, saat itu saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan cinta tanah air. Apakah saya harus menjadi polisi, atau harus menjadi tentara. Setelah tumbuh dewasa, saya semakin menyadari akan hal ini. Terkadang, seseorang sangat berlebihan dalam mencintai tanah air. Sebagian orang juga ada yang sering menghina tanah air sendiri. Jujur saja, saya ada di antara keduanya. Ada beberapa hal bangsa kita lebih baik daripada bangsa lain, dan ada beberapa hal bangsa lain lebih baik dari bangsa kita. So, ini adalah pandangan objektif saya terhadap tanah air. Secara subjektif, seburuk apapun tanah air saya, saya tetap mencintainya dan saya berharap anak cucu saya bisa hidup disini aman sentosa, meskipun saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Ketika saya tinggal atau bepergian ke luar negeri, ada banyak sekali hal yang membuat saya rindu terhadap tanah air. Mulai dari keluarga, makanan, cuaca, dan beberapa suasana yang saya tidak temukan di luar negeri. Ketika saya pulang, terkadang saya sering kali mendengar beberapa berita yang menyesakkan dada. Mulai dari kezaliman sekelompok orang, dan hal-hal konyol yang terkadang membuat saya malu sebagai warga Indonesia. Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna, dan dunia ini didesain oleh Allah akan selalu seperti itu agar kita merindukan surga, hehehe.

Jadi, apakah mencintai tanah air itu penting? Apakah kita harus menjadi golongan #KaburAjaDulu? Jawabannya tergantung individu masing-masing. Jika merasa Indonesia tidak nyaman untuk ditinggali dengan berbagai macam alasan, tidak mengapa jika harus pergi ke luar negeri untuk mencari kehidupan lebih baik dengan segala risikonya. Toh, tinggal di luar negeri jika mengirim uang ke keluarga sama saja membantu Indonesia menambah devisa. Jika merasa Indonesia adalah rumah, masa depan bagi anak-anak, dengan segala kekurangannya, tidak mengapa juga jika berkeinginan untuk menetap sambil memperbaiki yang kurang secara perlahan-lahan, dan tentu hal tersebut juga mendapatkan pahala. Jadi, tidak ada yang mewajibkan fanatik terhadap tanah air. Namun perlu dicatat, jangan pernah menghina negeri sendiri padahal negeri tersebut telah berkontribusi dalam kehidupan.

Baru-baru ini viral kasus mbak-mbak LPDP yang dibully netizen seantero negeri karena berbangga anaknya bisa pindah warga negara Inggris. Seandainya mbak-mbak tersebut menggunakan uang sendiri untuk belajar dan mengadu nasib di luar negeri, maka sah-sah saja bersikap seperti itu. Yang miris adalah dia bersama suaminya diberikan privillege ke luar negeri oleh negara, yang notabene dengan uang pajak, lalu sesampainya disana justru merasa rendah menjadi warga negara Indonesia. Ini tidak keren sama sekali, justru membuat geram. Bayangkan saja, hasil keringat orang lain dipotong setiap belanja dan setiap bulan hanya untuk membiayai orang lain yang ingin hidup enak dil luar negeri untuk dirinya sendiri, siapa yang rela? Begitu juga orang yang hobi menghina negara namun kehidupannya masih menggunakan fasilitas negara seperti BBM subsidi, gas subsidi, BPJS, dan sebagainya, sungguh tidak keren jika mereka merasa rendah sebagai WNI.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *